Skip to main content
Iklan

Indonesia

Balita di Sukabumi meninggal karena tubuhnya dipenuhi cacing, Gubernur Dedi ancam sanksi aparat desa

Cacing hidup sepanjang 15cm dikeluarkan dari hidung Raya, bocah 4 tahun yang dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma oleh tim relawan.

Balita di Sukabumi meninggal karena tubuhnya dipenuhi cacing, Gubernur Dedi ancam sanksi aparat desa

Ilustrasi cacing gelang, parasit yang bisa bersemayam di tubuh manusia. (iStock/Sinhyu)

19 Aug 2025 05:25PM (Diperbarui: 20 Aug 2025 12:57PM)

SUKABUMI: Seorang balita di Sukabumi meninggal dunia setelah jatuh koma karena seluruh tubuhnya dipenuhi cacing parasit. Kasus yang mengejutkan ini memicu keprihatinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mengancam akan memberikan sanksi pada aparat desa yang dinilai abai.

Kasus ini bermula dari postingan lembaga relawan bantuan sosial Rumah Teduh Sahabat Iin di akun Instagram mereka pada akhir pekan lalu.

Dalam postingan itu, diperlihatkan bocah perempuan bernama Raya yang mengalami penyakit cacingan atau askariasis yang parah, sampai-sampai cacing gelang hidup sepanjang 15cm dapat ditarik keluar dari lubang hidungnya.

Postingan yang telah direspons lebih dari 54 ribu orang dan dikomentari lebih dari 8.000 orang itu memperlihatkan upaya tim relawan kemanusiaan dalam menyelamatkan Raya.

Raya dilarikan ke bangsal ICU RSUD di Sukabumi pada 13 Juli dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pihak relawan mengatakan bahwa Raya mengalami penyakit cacingan yang sangat akut. 

Bocah kecil itu diduga terjangkit parasit karena sejak bayi sering bermain di bilik kolong rumahnya, yang juga menjadi tempat kandang ayam dan penuh kotoran hewan. 

Ayah Raya, Udin, 32, sakit-sakitan, sementara ibunya, Endah, 38, menderita gangguan jiwa. Selama ini, Raya tidak mendapatkan perawatan di rumah sakit karena orang tuanya tidak memiliki biaya.

Selain dari hidungnya, tim kemanusiaan Rumah Teduh Sahabat Iin mengatakan cacing-cacing gelang juga dikeluarkan dari kemaluan dan anus Raya, sebagian besar masih menggeliat. Cacing bahkan telah bersemayam di bagian kepalanya.

"Sudah lebih dari 1 kilo (gram) cacing dikeluarkan dari badannya, tapi tidak juga habis-habis," ujar relawan dalam video tersebut.

Raya tidak berkartu identitas sehingga otomatis tidak memiliki BPJS untuk membiayai seluruh pengobatannya. Akhirnya tim relawan memiliki waktu 3x24 jam untuk mengurus BPJS agar biaya pengobatan dapat ditanggung pemerintah.

Namun yang terjadi, menurut relawan, mereka dilempar ke sana kemari oleh berbagai dinas berwenang di Kota Sukabumi, hingga akhirnya Raya meninggal dunia pada 22 Juli lalu. Biaya pengobatan selama Raya dirawat sebesar Rp23 juta ditanggung oleh tim relawan.

MEMICU KEMARAHAN, GUBERNUR DEDI ANCAM SANKSI

Kasus Raya memicu kemarahan di dunia maya, terutama bisa disaksikan di kolom komentar postingan video tersebut.

Dari ribuan komentar yang disampaikan, tidak sedikit yang menyalahkan pemerintah setempat yang dinilai tidak tanggap.

"Yang seharusnya disalahkan adalah aparat desa setempat, tidak adakah kader posyandu? Tidak adakah yang memberi arahan untuk mengurus surat kependudukan? Biasanya beberapa bulan sekali ada penyuluhan tentang pentingnya obat cacing dari posyandu," ujar pengguna Instagram Intan Dewiayu.

"Pajak diperas habis-habisan. Giliran butuh pemerintah, dioper sana-oper sini," ujar pengguna lainnya, Kiki Nabill.

Gubernur Jawa Barat mengaku prihatin dan menyampaikan permohonan maaf atas kasus yang menimpa Raya. Secara khusus, Dedi menyinggung Ketua Tim Penggerak PKK, Kepala Desa, Bidan Desa di Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, tempat Raya dan keluarganya tinggal.

"Saya akan memberikan sanksi bagi desa tersebut karena fungsi-fungsi pokok pergerakan PKK-nya tidak jalan, fungsi posyandu-nya tidak berjalan, dan fungsi kebidanannya tidak berjalan," kata Dedi melalui Instagram pada Selasa (19/8).

"Sanksi-sanksi akan kami berikan pada siapa pun dan daerah mana pun yang terbukti tidak memberikan perhatian kepada masyarakat."

Dedi dalam pernyataannya juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada tim relawan yang menangani Raya. Dia juga telah mengirim tim untuk merawat keluarga Raya yang diduga menderita penyakit TBC.

"Ini perhatian bagi kita semua seluruh aparat pemerintahan untuk senantiasa dalam setiap hari cross-check terhadap apa yang terjadi dalam lingkungan. Jangan abai, jangan ribut ketika peristiwanya sudah terjadi," kata Dedi.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan