Skip to main content
Iklan

Indonesia

Ramadhan berselimut duka: Dapatkah Indonesia mencegah kecelakaan maut setiap musim mudik?

Ribuan kecelakaan tercatat setiap tahunnya dalam tradisi mudik yang diikuti jutaan orang di Indonesia selama Ramadhan. Meski jumlahnya menurun tahun ini, namun pengamat mengatakan jalan masih panjang untuk dapat mengatasi masalah ini sepenuhnya.

Ramadhan berselimut duka: Dapatkah Indonesia mencegah kecelakaan maut setiap musim mudik?

Pemudik dengan motor melewati monumen di Cirebon, Jawa Barat, yang memperingatkan masyarakat untuk berhati-hati dalam mengemudi pada 8 April 2024. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

JAKARTA: Kakak beradik ini hanya ingin berziarah ke makam ayah mereka yang baru berpulang dan menghabiskan libur Idul Fitri bersama sanak saudara di Kuningan, sebuah kabupaten yang terletak 270km jauhnya dari rumah mereka di pinggiran Jakarta.

Tapi di sepertiga perjalanan menuju kampung halaman, nasib nahas menimpa. Kakak beradik itu - Najwa Ghefira, 22 dan Aisya Hasna Humaira, 19 - tewas ketika minivan yang mereka sewa tiba-tiba oleng ke kanan dan menabrak bus dari arah berlawanan.

Seluruh 12 penumpang di dalam minivan itu meninggal dunia dalam kecelakaan pada 8 April pagi tersebut. Sementara para penumpang bus sebagian besar tidak terluka, kecuali supir cadangan yang dilarikan ke rumah sakit karena terlempar keluar kendaraan karena sedang tidak duduk di bangkunya. 

Insiden ini adalah satu dari hampir 2.900 kecelakaan yang terjadi di seluruh Indonesia dalam periode arus mudik ini. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, angka kecelakaan kali ini lebih rendah.

Aparat yang berwenang telah berupaya keras untuk menurunkan angka kecelakaan setiap kali musim mudik berlangsung. Namun pengamat mengatakan, jalan masih panjang untuk menuntaskan permasalahan ini, mengingat banyaknya hal yang masih perlu dibenahi seperti buruknya infrastruktur atau kurangnya kesadaran akan keselamatan berlalu lintas.

MEMAKAN KORBAN RATUSAN JIWA

Menjelang Idul Fitri yang tahun ini jatuh pada 10 April, jutaan orang di Indonesia melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, sebuah tradisi tahunan yang disebut mudik.

Kementerian Perhubungan Indonesia memperkirakan tahun ini terdapat 193 juta orang yang mudik, naik 13,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Pemandangan dari udara menunjukkan kendaraan antre untuk memasuki feri untuk menyeberang ke pulau Sumatra dalam arus mudik di Pelabuhan Merak di Cilegon, provinsi Banten, pada 7 April 2024. (Foto: Reuters/Yuddy Cahya Budiman)

Meski merupakan momen suka cita dan perayaan bagi Muslim di seluruh dunia, namun Idul Fitri juga menjadi saat berkabung dan berduka bagi warga Indonesia yang kehilangan anggota keluarganya akibat kecelakaan saat mudik.

Musim mudik tahun ini berlangsung pada 4 sampai 18 April. Sepanjang masa arus mudik, Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatat terjadinya 2.895 kecelakaan yang menewaskan 429 orang.

Angka ini lebih kecil dibanding beberapa tahun sebelumnya, kecuali pada 2020 dan 2021 ketika masa puncak pandemi COVID-19. Pada musim mudik 2023, terjadi 3.412 kecelakaan dengan 519 angka kematian. Setahun sebelumnya, ada 4.107 kecelakaan, menewaskan total 568 orang.

Menurut pengamat, tren penurunan angka kecelakaan tahun ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah dibukanya lebih banyak jalur tol untuk mempersingkat waktu perjalanan sehingga mengurangi kelelahan supir.

"Lebih banyak jalan tol berarti lebih banyak cara bagi aparat untuk mengatur arus kendaraan dari dan ke kota," kata Yayat Supriatna, pakar transportasi dan perencanaan kota dari Universitas Trisakti, Jakarta, kepada CNA.

Faktor lainnya adalah berkat adanya lebih banyak opsi transportasi massal. Misalnya, kini ada kereta cepat Jakarta-Bandung yang diluncurkan Oktober tahun lalu, yang pertama di Asia Tenggara.

BANYAK FAKTOR PENYEBAB

Kepolisian mencatatkan beberapa penyebab kecelakaan, di antaranya kelalaian pengemudi, cuaca buruk dan kelelahan. Namun menurut pengamat ada penyebab lainnya, seperti kondisi jalanan yang buruk, kurangnya fasilitas beristirahat, layanan transportasi massal yang tidak memadai hingga minimnya penegakan hukum di jalan.

Pada kecelakaan yang menewaskan kakak beradik Najwa dan Aisya, mobil yang mereka tumpangi tidak memiliki izin untuk digunakan sebagai sarana transportasi berbayar. Selain itu, mobil tersebut seharusnya mengangkut maksimal sembilan orang, bukan 12 orang.

Dalam penyelidikan, polisi menemukan bahwa supir mobil itu telah mengantarkan penumpang dari dan ke Jakarta selama empat hari dengan sedikit sekali istirahat. Supir diketahui tertidur ketika berkendara dan ikut tewas dalam kecelakaan tersebut.

Pada 11 April lalu, sebuah bus yang membawa 32 penumpang keluar jalur dan terperosok ke parit di kota Batang, Jawa Tengah, setelah supirnya tidak sengaja tertidur. Delapan penumpang tewas dalam peristiwa itu dan supir bus ditahan.

Dalam peraturannya, bus jarak-jauh wajib memiliki dua supir yang masing-masing bergantian mengemudi setiap maksimum empat jam sekali.

"Tapi aparat jarang melakukan pemeriksaan untuk melihat apakah operator bus dan supirnya telah memenuhi persyaratan ini," kata Darmaningtyas, ketua lembaga riset Institut Studi Transportasi (INSTRAN) kepada CNA.

Djoko Setijowarno, pakar transportasi dari Universitas Soegijapranata, Jawa Tengah, mengatakan pemerintah juga perlu membangun lebih banyak lagi fasilitas peristirahatan.

"Harus ada rest area di setiap beberapa kilometer di jalan tol dan jalan antar kota. Setiap terminal dan tujuan wisata juga harus memiliki ruang tunggu tempat supir beristirahat dan tidur. Dan harus ada petugas yang memastikan bahwa mereka memanfaatkan fasilitas ini sebaik mungkin," katanya kepada CNA.

Para pemudik tengah beristirahat dan makan di pinggir jalan di Cikarang, Jawa Barat. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

PENTINGNYA SABUK PENGAMAN

Para pengamat juga mengatakan bahwa angka kematian di dua kecelakaan di atas kemungkinan bisa ditekan jika saja para penumpangnya mengenakan sabuk pengaman.

Peraturan lalu lintas untuk mobil pribadi menyebutkan, hanya pengemudi dan penumpang di kursi depan yang wajib mengenakan sabuk pengaman.

Sementara untuk bus, setiap kursinya harus dilengkapi sabuk pengaman. Namun menurut pengamat, peraturan ini jarang dipatuhi.

"Beberapa bus keluaran terbaru memiliki sabuk pengaman, tapi tidak ada yang mengenakannya, bahkan supirnya sekalipun, karena memang tidak ada yang mengawasi," kata Djoko.

Hendro Sugiatno, direktur jenderal perhubungan darat di Kementerian Perhubungan, mengatakan pemerintah akan memperketat pemeriksaan dan inspeksi untuk memastikan peraturannya dipatuhi.

“Sehubungan dengan masih banyaknya angka kecelakaan kendaraan bermotor khususnya angkutan umum, kami mewajibkan perusahaan otobus (PO), perusahaan karoseri, pengemudi dan penumpang untuk menggunakan sabuk keselamatan,” kata Hendro dalam pernyataannya 14 April lalu.

Hendro juga mengancam akan menangguhkan atau mencabut izin bus jarak jauh yang kedapatan memiliki fitur keselamatan di bawah standar, seperti kerusakan atau tidak adanya sabuk pengaman, alat pemadam api dan palu darurat.

Sementara itu, polisi juga berjanji akan menindak tegas kendaraan yang mengangkut penumpang tanpa adanya izin penggunaan sebagai mobil transportasi berbayar.

"Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan terkait masalah ini," kata juru bicara Kepolisian RI, Trunoyudo Wisnu Andiko, pada 15 April lalu kepada wartawan.

Para calon penumpang menaiki bus untuk mudik ke kampung halaman mereka dari terminal bus Kalideres, Jakarta, Indonesia, 18 April 2023. (Foto: AP/Dita Alangkara)

"MASIH BANYAK YANG HARUS DILAKUKAN"

Tradisi mudik semacam ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

Di Malaysia, jutaan orang juga mudik menjelang Idul Fitri, dari kota-kota besar seperti Kuala Lumpur dan Johor Bahru untuk kembali ke kampung halaman mereka. Di Malaysia, tradisi ini dikenal dengan nama "balik kampung".

Dalam musim balik kampung tahun ini, aparat Malaysia mencatat terjadinya 119 kematian akibat kecelakaan, seperti yang dilaporkan oleh Bernama.

Di Thailand, lebih dari lima juta orang pulang ke kampung halaman dan lokasi lainnya pada festival Songkran atau Tahun Baru Thailand yang jatuh pada 13 April tahun ini. Bangkok Post melaporkan, terjadi 243 kecelakaan lalu lintas selama enam hari periode liburan Songkran.

Tradisi yang sama juga terdapat di China jelang Tahun Baru China, diikuti oleh miliaran orang yang bepergian di masa liburan. Festival Musim Semi atau "chunyun" ini adalah arus mudik tahunan terbesar di dunia.

Berbeda dengan mudik di negara-negara tersebut, kata pengamat, masyarakat Indonesia kebanyakan abai terhadap keamanan lalu lintas, bahkan seringkali mengacuhkan peraturan di jalanan.

Pakar transportasi, Yayat, mengatakan untuk mengurangi angka kecelakaan di musim mudik, pemerintah Indonesia harus bisa mencegah supir yang lalai dan kendaraan yang tidak terawat untuk turun ke jalan. Selain itu, masyarakat harus didorong untuk menggunakan kereta, moda transportasi yang lebih terawat dan menjalani pemeriksaan secara rutin.

Foto udara kemacetan lalu lintas di sebuah pintu tol, saat umat Muslim Indonesia pulang ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri pada 19 April 2023. (Foto: Antara Foto/Aditya Pradana Putra/via REUTERS)

Menurut Yayat, masyarakat Indonesia sebenarnya lebih memilih naik kereta untuk mudik ketimbang berkendara dan terjebak macet parah berjam-jam. 

Namun sayangnya, di saat masyarakat memutuskan pindah ke kereta, ada keterbatasan dalam infrastrukturnya, kata Yayat.

Menurut data Kementerian Perhubungan, permintaan tiket kereta selama musim mudik mencapai 34 juta penumpang. Namun, kapasitas kereta hanya mampu mengakomodasi 3,31 juta penumpang.

Bandingkan dengan jaringan rel kereta di China yang dapat melakukan lebih dari 400 juta perjalanan selama 40 hari arus mudik di Festival Musim Semi.

"Indonesia tidak memiliki jaringan kereta sebaik China. Tidak semua kota dan desa terhubung dengan kereta," kata Yayat.

Selain itu, Yayat juga menyoroti banyaknya perlintasan sebidang pada jalur kereta di Indonesia, beberapa bahkan tidak ada penjaganya. "Menambah jumlah kereta bisa berbahaya bagi pemotor di perlintasan ini," kata dia.

"Kita perlu lebih banyak infrastruktur. Kita harus menutup perlintasan sebidang, dengan membangun jalan layang. Kita perlu jalur ganda atau bahkan tiga jalur di beberapa daerah. Kita harus meningkatkan jaringan rel kereta," ujar Yayat.

"Masih banyak yang harus dilakukan dan itu butuh waktu."

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan