Skip to main content
Iklan

Indonesia

Setelah lama tak pasti, proyek perusahaan Trump di KEK Lido kembali menggeliat

Pemerintah Indonesia sebelumnya menghentikan pembangunan karena masalah lingkungan.

Setelah lama tak pasti, proyek perusahaan Trump di KEK Lido kembali menggeliat

Papan bertuliskan Trump International Golf Club di pintu masuk fasilitas yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus Lido, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 14 Oktober 2025. (FOTO: REUTERS/Willy Kurniawan)

LIDO, Jawa Barat: Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lido di Jawa Barat kembali berlanjut setelah setahun terkatung-katung, termasuk pembangunan clubhouse untuk lapangan golf berlabel Trump Organization yang sudah beroperasi di sana.

Pada Februari tahun lalu, Kementerian Lingkungan Hidup menyegel sejumlah bagian KEK Lido dan memerintahkan penghentian kegiatan pembangunan karena masalah pengelolaan air dan sedimentasi di Danau Lido.

Langkah itu memunculkan tanda tanya soal masa depan pengembangan KEK Lido secara keseluruhan, yang mencakup area seluas 1.040 hektare. Kawasan yang berjarak kurang dari 60 km dari Jakarta itu sejak lama dipromosikan sebagai pusat hiburan dan resor.

CNA mengetahui bahwa Kementerian Lingkungan Hidup kini telah mencabut penghentian kegiatan di KEK Lido.

Menjawab pertanyaan CNA pada 1 Agustus mengenai status KEK Lido, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, penghentian kegiatan oleh kementeriannya bertujuan mendorong pihak yang melanggar untuk memenuhi aturan atau perintah yang diberikan.

"Setiap penyegelan atau sanksi itu, kan, ada penegakan hukum pemerintah. Penegakan hukum pemerintah itu: 'Anda harus melakukan A, B, C, D, E'," kata Jumhur.

"Kalau mereka memenuhi persyaratan, sanksinya bisa dicabut. Kalau tidak, ya, tidak mungkin segelnya dicabut."

Ketika ditanya apakah itu berarti penghentian kegiatan di KEK Lido sudah tidak berlaku, Jumhur menjawab tanpa menjelaskan lebih lanjut: "Mereka sudah memenuhi perintah kami atas kesalahan-kesalahan itu."

Secara terpisah, seorang pejabat di Sekretariat Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus mengatakan kepada CNA bahwa larangan tersebut telah dicabut pada awal tahun ini.

Pintu masuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lido di Jawa Barat. (FOTO: CNA/Ridhwan Siregar)

Saat CNA mengunjungi kawasan tersebut pada Mei, terlihat aktivitas pembangunan di sebelah lapangan golf Trump yang telah beroperasi sejak tahun lalu. Menurut seorang staf, pembangunan itu merupakan clubhouse Trump.

Pembangunan juga terlihat di Lido Lake Resort yang tengah diperluas dan berada di dalam KEK Lido. Resor tersebut dimiliki MNC Hotel, bagian dari konglomerasi Indonesia MNC Group yang memiliki dan mengelola kawasan itu.

Pejabat Sekretariat Jenderal tersebut mengatakan kepada CNA bahwa MNC Land Lido, bagian dari MNC Group, telah melakukan langkah perbaikan, termasuk mencegah tanah dan sedimen mengalir ke danau.

Meski sempat muncul pemberitaan bahwa persoalan tersebut akan dibawa ke pengadilan, pejabat itu mengatakan hal tersebut tidak terjadi.

ADA APA SAJA DI CLUBHOUSE DAN KEK LIDO?

Clubhouse seluas 3,3 hektare atau setara 4,5 lapangan sepak bola itu disebut sebagai yang terbesar milik Trump Organization, menurut laman Facebook MNC Tourism, unit pariwisata dan perhotelan MNC Group.

Clubhouse tersebut akan dilengkapi sejumlah restoran, ballroom besar, ruang pertemuan, serta ballroom semi-terbuka seluas 5.000 meter persegi atau 0,5 hektare. Pembangunannya ditargetkan rampung tahun ini.

Clubhouse itu merupakan bagian dari Trump International Golf Club Lido, kompleks golf mewah di KEK Lido yang juga kerap disebut MNC Lido City.

Dalam situsnya, Trump Organization menyebut, proyek Lido sebagai properti Trump Golf pertama di Asia. Proyek tersebut akan menghadirkan standar keunggulan merek Trump melalui berbagai fasilitas kelas dunia, termasuk country club eksklusif, spa mewah, hunian kelas atas, layanan bintang lima, serta berbagai fasilitas lainnya.

Menurut laman Facebook MNC Tourism, proyek Trump menempati lahan seluas 216 hektare dari total 1.040 hektare KEK Lido. Proyek itu mencakup lapangan golf 18 lubang yang telah beroperasi sejak tahun lalu, serta pengembangan lain seperti hotel bintang lima, pusat kebugaran dan kesehatan, serta hunian.

Proyek ini terkait dengan Presiden Amerika Serikat melalui merek Trump, serta dengan pengusaha dan politikus Indonesia Hary Tanoesoedibjo melalui MNC Group.

Danau Lido dengan Lido Lake Resort milik MNC Hotel terlihat di latar belakang. Danau ini berada di dalam Kawasan Ekonomi Khusus Lido. (FOTO: CNA/Ridhwan Siregar)

MNC merupakan salah satu grup usaha terbesar di Indonesia, dengan bisnis yang terutama bergerak di sektor media dan hiburan, jasa keuangan, serta pariwisata dan perhotelan.

MNC didirikan Hary Tanoe pada 1989. Ia kemudian mendirikan Partai Perindo pada 2014.

MNC Group mulai mengembangkan kawasan Lido sekitar 2014, setelah sebelumnya kawasan itu dimiliki konglomerasi Indonesia lainnya, Bakrie Group.

Lido dipromosikan sebagai destinasi utama pariwisata dan hiburan. Seiring waktu, berbagai rencana pengembangannya mencakup resor golf, hotel, fasilitas produksi film, kawasan hunian, beragam tempat rekreasi, bahkan taman hiburan terbesar di dunia.

Kawasan wisata Lido resmi ditetapkan sebagai KEK Lido pada 2021, pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Sejak saat itu, proyek utama yang telah rampung di kawasan tersebut adalah lapangan golf 18 lubang.

Papan penanda Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Lido di Jawa Barat. (FOTO: CNA/Ridhwan Siregar)

FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN KEK

Made Supriatma, analis politik dan peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan, KEK Lido berpeluang sukses karena lokasinya dekat Jakarta dan kini terhubung dengan ibu kota melalui jalan tol baru.

"Tempat ini bisa menjadi pusat hiburan terpadu bagi kalangan elite Indonesia," kata Made.

"Lokasinya hanya satu jam dari Jakarta, prestisenya sebagai 'properti Trump', serta beragam pilihan hiburan seperti resor golf dan tempat konser musik akan menarik bagi kalangan elite Jakarta."

Wawan Mas’udi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, menuturkan, penetapan suatu kawasan sebagai KEK biasanya disertai dukungan infrastruktur dari pemerintah, kemudahan perizinan, dan iklim usaha yang lebih kondusif.

"Negara mengalokasikan sumber daya untuk mendukungnya, perizinan menjadi lebih mudah, dan ada berbagai bentuk fasilitasi lainnya," kata Wawan.

Menurut Wawan, pengaturan kelembagaan menjadi penting karena KEK dirancang untuk memangkas hambatan birokrasi dan mendukung investasi.

Namun, ia menambahkan, meski pemerintah dapat menciptakan kondisi yang mendukung, keberhasilan bisnis di kawasan tersebut pada akhirnya bergantung pada investor dan kondisi pasar.

"Keberhasilannya bisa bergantung pada model bisnis maupun kemampuan pengembang mengantisipasi potensi masalah sosial sejak awal," kata Wawan.

Syarifah Syaukat, pakar properti berwawasan lingkungan dari konsultan properti Knight Frank, mengatakan, Lido memiliki daya tarik komersial berkat bentang alamnya yang hijau, lahan yang luas, serta akses yang semakin mudah melalui jalan tol baru.

Menurutnya, Indonesia juga berpotensi menjadi pasar yang menarik bagi resor golf dan clubhouse. Segmen ini menyasar konsumen berpenghasilan tinggi, sementara jumlah kalangan kaya di Indonesia terus bertambah. Namun, ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan pengembang.

"Pengembang harus mempertimbangkan budaya setempat, kebijakan yang berlaku, stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional, serta aturan tata ruang agar resor tersebut berhasil," kata Syarifah.

"Mereka juga harus mempertimbangkan manfaat pembangunan kawasan bagi masyarakat sekitar, baik dari sisi kelestarian lingkungan maupun keberlanjutan mata pencaharian."

Persoalan semacam ini tampaknya pernah muncul pada resor golf terkait Trump di Bali.

Petugas keamanan berjaga di pos pemeriksaan di pintu masuk proyek MNC Land dan Trump Organization di Bali. (FOTO: CNA/Ridhwan Siregar)

MEREK TRUMP BISA JADI PEDANG BERMATA DUA

Virdika Rizky Utama, Direktur Eksekutif PARA Syndicate, lembaga kajian politik yang berbasis di Jakarta, berpendapat, proyek apapun yang menyandang nama Trump memiliki sensitivitas politik. Namun, pertanyaannya adalah apakah merek Trump cukup untuk membuat proyek tersebut berhasil.

"Merek internasional mungkin memberi prestise, tetapi tanpa penyesuaian dengan konteks Indonesia, keberlanjutan proyek tersebut sangat diragukan," kata Virdika.

"Proyek di Bali menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak selalu menyambut simbolisme Trump dengan antusias."

Resor golf terkait Trump di Bali sempat beroperasi beberapa tahun lalu. Namun, ketika CNA mengunjunginya pada April, resor tersebut tidak dibuka untuk umum.

Petugas keamanan yang menjaga lokasi tidak menanggapi permintaan informasi dari CNA. Seorang pejabat setempat yang berbicara kepada CNA dengan syarat anonim mengatakan, klub golf tersebut berhenti beroperasi pada masa pandemi COVID-19.

Menurutnya, klub golf itu rencananya akan direnovasi tahun lalu. Namun, hingga baru-baru ini, renovasi belum juga dilakukan.

Nicky Fahrizal, pengamat politik dari lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan, perdebatan yang semakin ramai mengenai over-overtourism dan perlindungan lingkungan di Bali menunjukkan bahwa proyek pariwisata kelas atas tidak bisa hanya mengandalkan nama besar.

Ada pula pertanyaan mengenai apakah clubhouse mewah tersebut akan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

"Kami tidak merasakan manfaat dari pembangunan sebelumnya. Sebagian besar pekerjanya bukan warga lokal," kata Andra, seorang warga setempat berusia 45 tahun.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan