Proyek gentengisasi Prabowo dibiayai APBN 2026, ini skema pendanaannya
Menkeu Purbaya menyebut anggaran program "gentengisasi" masih bisa ditopang dari dana cadangan serta realokasi pos belanja tertentu.
Ilustrasi pemasangan genteng di atap rumah masyarakat Indonesia. (Foto: iStock/afe207)
JAKARTA: Pemerintah memastikan proyek gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto akan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Kementerian Keuangan menilai kebutuhan anggaran program penggantian atap rumah dari seng ke genteng tanah liat masih berada dalam batas yang terkendali, yakni tidak akan mencapai Rp1 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa perkiraan anggaran besar untuk program ini sebelumnya muncul karena perhitungan dilakukan dengan asumsi seluruh rumah harus mengganti atap, padahal sasaran program hanya rumah-rumah tertentu yang masih menggunakan seng.
"Gentengisasi tidak sampai Rp 1 triliun. Kami bisa ambil dari dana cadangan," ujar Purbaya seusai menghadiri Indonesia Economic Summit di Jakarta, dikutip dari Kompas.
"Yang diganti paling berapa puluh persen diganti yang pakai seng. Jadi harusnya angkanya lebih kecil," ujarnya.
Purbaya menyampaikan bahwa perhitungan anggaran tersebut masih bersifat awal dan belum ditetapkan secara final. Pemerintah masih membahas berbagai skema pendanaan agar belanja negara tetap efisien dan tidak membebani keuangan negara.
Terkait sumber pendanaan, pemerintah membuka sejumlah opsi. Selain memanfaatkan dana cadangan yang tersedia di APBN, pembiayaan juga berpotensi berasal dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara atau melalui realokasi dari pos anggaran lain, termasuk kemungkinan penyesuaian pada program Makan Bergizi Gratis maupun anggaran kementerian dan lembaga terkait.
"Ada kemungkinan dari situ (anggaran Makan Bergizi Gratis yang dipotong), ada kemungkinan dari tempat lain. Tapi cukuplah enggak banyak-banyak banget kalau enggak salah anggarannya," tutur Purbaya.
Program gentengisasi bertujuan mengganti atap rumah berbahan seng, terutama seng bekas atau material sejenis, dengan genteng berbahan tanah liat atau material mineral lain. Genteng dinilai lebih aman, lebih sejuk, dan lebih tahan lama dibandingkan seng yang mudah berkarat dan menyerap panas.
Gagasan gentengisasi pertama kali disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2). Dalam forum tersebut, Prabowo menyoroti kondisi permukiman di sejumlah daerah yang masih didominasi atap seng berkarat.
"Saya ingin atap Indonesia dari genteng. Proyek gentengisasi seluruh Indonesia," kata Prabowo di hadapan para kepala daerah, dikutip dari Kumparan.
Menurut Prabowo, penggunaan seng membuat rumah terasa lebih panas dan mengurangi kualitas visual lingkungan. Ia menilai karat mencerminkan degradasi dan tidak sejalan dengan visi Indonesia yang ingin tampil kuat dan maju.
"Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh," ujar Prabowo.
"Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi, nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia," lanjutnya.
Prabowo berharap dalam dua hingga tiga tahun ke depan wajah permukiman Indonesia tidak lagi didominasi oleh warna karat. Genteng dinilai dapat menjadi simbol peningkatan kualitas hunian.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah membuka opsi pembiayaan gentengisasi melalui APBN. Pemerintah juga telah melakukan penghitungan kebutuhan biaya, meski belum menetapkan secara rinci sumber pendanaannya.
Menurut Airlangga, gentengisasi tidak hanya dipandang sebagai program perbaikan hunian, tetapi juga berkaitan dengan upaya meningkatkan daya tarik pariwisata. Lingkungan permukiman yang dinilai tidak layak dapat memengaruhi minat wisatawan asing.
Selain itu, pemerintah mengkaji penggunaan material genteng berbasis fly ash sebagai bagian dari pendekatan ramah lingkungan. Pelibatan koperasi, termasuk Koperasi Merah Putih, juga dipertimbangkan untuk mendukung penyediaan genteng di daerah.
Dalam konteks yang lebih luas, gentengisasi menjadi bagian dari agenda penataan lingkungan yang diangkat Presiden, bersama isu pengelolaan sampah, penataan kabel listrik, dan penertiban baliho.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, sebanyak 57,93 persen atau 40.913.287 rumah tangga di Indonesia tercatat menggunakan genteng sebagai atap rumah. Sementara itu, 31,48 persen atau 22.232.058 rumah tangga masih menggunakan seng, yang kerap dikeluhkan karena menimbulkan suara bising saat hujan dan membuat suhu rumah lebih panas.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.