Skip to main content
Iklan

Indonesia

Prabowo pede pertumbuhan ekonomi Indonesia tembus 8 persen

Pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen terakhir dicapai Indonesia pada pemerintahan Presiden Soeharto yaitu sebesar 8,22 persen pada tahun 1995.

Prabowo pede pertumbuhan ekonomi Indonesia tembus 8 persen
Presiden terpilih Prabowo Subianto berbicara di acara Qatar Economic Forum di Doha, Qatar, Rabu (15 Mei 2024). (Facebook/Prabowo Subianto)

DOHA: Presiden terpilih Prabowo Subianto menyampaikan optimismenya bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh 8 persen dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun ke depan pemerintahannya.

"Saya sangat yakin. Saya sudah berdiskusi dengan para pakar. Saya mempelajari angka-angkanya. Saya sangat yakin Indonesia akan dengan sangat mudah meraih pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, dan saya akan berusaha keras melampauinya," kata Prabowo ketika menjadi pembicara di acara Forum Ekonomi Qatar di Doha, Qatar, seperti dikutip dari kanal YouTube Bloomberg, Kamis (16 Mei).

"Saya memperkirakan itu akan terjadi dalam 2 sampai 3 tahun ke depan," lanjut Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Adapun pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen terakhir dicapai Indonesia pada era Presiden Soeharto yaitu sebesar 8,22 persen pada tahun 1995.

Setelah era reformasi, pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah sebesar 6,35 persen pada tahun 2007 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejauh ini mandek di kisaran angka 5 persen.

Angka pertumbuhan ekonomi tahun lalu tercatat 5,05 persen.

Prabowo menjelaskan pemerintahannya akan fokus meningkatkan produksi hasil pertanian, pangan, dan energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tahun pertama.

Lebih lanjut, Menteri Pertahanan itu juga akan mempercepat transisi energi.

Transisi ini bertujuan agar Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

Yang akan dilakukan, jelas Prabowo, adalah memanfaatkan potensi minyak sawit Indonesia dengan target beralih ke bahan bakar hayati atau biofuel.

"Kita ingin go green dengan cara yang sangat cepat. Kita ingin memproduksi diesel dari minyak kelapa sawit, ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat," ucap Prabowo.

Indonesia selama ini mengimpor 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp 319 triliun setiap tahun untuk bahan bakar diesel.

Pengeluaran yang sangat tinggi ini menurut Prabowo dapat dihemat jika Indonesia bisa memproduksi biofuel sebagai pengganti diesel.

Mantan Danjen Kopassus itu juga menyebut pentingnya kebijakan hilirisasi.

Namun jenderal berusia 72 tahun itu menekankan hilirisasi bukan program utama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada masa awal kepresidenannya.

Hal ini karena hilirisasi membutuhkan waktu yang panjang.

"Downstreaming akan memakan waktu hingga beberapa tahun," pungkasnya.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan