Skip to main content
Iklan

Indonesia

Dikritik terlalu sering ke luar negeri, Prabowo bawa-bawa nama Jokowi

Presiden membela intensitas lawatan luar negerinya dan menyebut diplomasi aktif penting di tengah situasi geopolitik dunia.

Dikritik terlalu sering ke luar negeri, Prabowo bawa-bawa nama Jokowi

Presiden Indonesia Prabowo Subianto tiba di Bandara Orly di Paris, Prancis, pada 26 Mei 2026, disambut Menteri Tenaga Kerja dan Solidaritas Prancis Jean-Pierre Farandou. (Facebook/Prabowo Subianto)

BANDAR LAMPUNG: Presiden Prabowo Subianto menilai kritik terhadap intensitas kunjungan luar negerinya sebagai sesuatu yang kontradiktif karena pendahulunya, Joko Widodo, justru pernah dikritik karena dianggap terlalu jarang bepergian ke luar negeri.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat berpidato dalam Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Bandar Lampung, Rabu (10/6).

Menurut Prabowo, kritik terhadap presiden terkait kunjungan luar negeri seolah tidak pernah berhenti, terlepas dari seberapa sering atau jarangnya seorang kepala negara melakukan lawatan ke mancanegara.

“Ada presiden kayak Pak Jokowi, yang jarang ke luar negeri, disalahkan, ya kan? 'Jokowi enggak pernah ke luar negeri. Jokowi tidak peduli politik luar negeri',” ujar Prabowo dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden.

Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan dirinya yang kini justru kerap dikritik karena dianggap terlalu sering bepergian ke luar negeri.

“Saya sering ke luar negeri, (dibilang) ‘Prabowo sering ke luar negeri’. Aneh,” katanya.

Prabowo mengaku tidak terlalu mempersoalkan kritik tersebut karena menilai setiap pemimpin pasti akan menghadapi berbagai pandangan dari publik.

“Noise selalu ada. Yang penting kita yakin garis kita di mana. Selama saya yakin bahwa saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia, selamanya saya tidak ragu-ragu,” tekannya.

SEBUT DUNIA SEDANG TIDAK MENENTU

Prabowo menilai situasi geopolitik global saat ini menuntut Indonesia aktif membangun hubungan dengan berbagai negara.

Menurut dia, dinamika internasional yang semakin tidak pasti membuat Indonesia perlu memperluas jejaring diplomatik dan menjaga komunikasi dengan berbagai pihak.

“Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa,” ucapnya.

Jika agenda terbaru terlaksana, Prabowo akan kembali mengunjungi Rusia pada 17 Juni mendatang untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi yang juga akan dihadiri Presiden Vladimir Putin.

Lawatan tersebut akan menjadi kunjungan keempat Prabowo ke Rusia dalam kurun waktu satu tahun.

Secara keseluruhan, Prabowo tercatat telah melakukan 54 kunjungan luar negeri ke 29 negara selama 19 bulan pertama masa pemerintahannya.

Sebagai perbandingan, pendahulunya Joko "Jokowi" Widodo melakukan 16 kunjungan kenegaraan, sementara mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan 10 perjalanan luar negeri pada tahun penuh pertama mereka menjabat.

Malaysia menjadi negara yang paling sering dikunjungi, yakni lima kali, disusul Uni Emirat Arab dan Prancis masing-masing empat kali.

Frekuensi lawatan tersebut memicu perdebatan di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

Namun Prabowo menegaskan aktivitas diplomasi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif yang diwariskan para pendiri bangsa.

“Kita beruntung, saya beruntung, Presiden Indonesia menerima warisan dari pendiri bangsa kita bahwa politik Indonesia adalah politik nonaligned,” katanya.

Prabowo menegaskan Indonesia tidak ingin terikat dalam pakta militer mana pun dan akan tetap menjalankan politik luar negeri nonblok.

“Kita tidak mau terlibat dengan pakta militer dengan siapa pun. Karena itu, saya begitu menerima mandat dari Presiden, saya langsung gariskan politik kita politik nonaligned, nonblok, bebas aktif,” pungkasnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan