Skip to main content
Iklan

Indonesia

Pilot ternyata boleh tidur saat penerbangan, tapi aturannya ketat

Dua pilot pesawat maskapai Batik Air tertidur saat terbangkan pesawat. Apakah mereka melanggar aturan?

Pilot ternyata boleh tidur saat penerbangan, tapi aturannya ketat

Dua pilot Batik Air dibebastugaskan setelah tertidur di tengah penerbangan. (Foto arsip: Facebook/Batik Air)

SINGAPURA: Dua pilot maskapai Batik Air dibebastugaskan setelah keduanya kedapatan tertidur saat tengah menerbangkan pesawat pada Januari lalu. Akibatnya, pesawat sempat keluar dari jalur penerbangan yang semestinya.

Peristiwa itu terjadi setelah salah satu pilot meminta izin untuk beristirahat kepada kopilot. Kopilot mengizinkan, tapi ternyata dia sendiri tidak sengaja tertidur ketika seharusnya memegang kendali di kokpit.

Keduanya tidur berbarengan selama sekitar 28 menit dalam penerbangan komersial dari Sulawesi Tenggara menuju Jakarta.

Beruntung, pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa terjadi kecelakaan. Peristiwa ini kemudian memunculkan perdebatan soal pentingnya perbaikan pada sistem pengawasan tingkat kelelahan pilot.

Sebenarnya bagaimana aturan untuk mencegah pilot kelelahan?

Menurut konsultan keselamatan Michael Daniel, Organisasi Penerbangan Sipil International atau ICAO telah menetapkan standar global dan rekomendasi terhadap waktu terbang dan istirahat pilot.

ICAO memiliki dua pendekatan untuk mencegah pilot kelelahan.

Pendekatan pertama adalah dengan mematuhi peraturan batasan kerja yang telah ditetapkan oleh negara. Dengan cara ini, maskapai dapat mencegah kelelahan pilot dengan menaati peraturan keselamatan umum yang sudah ada.

Pendekatan kedua adalah maskapai menetapkan peraturan berbasis-kinerja yang spesifik. Dengan peraturan ini, maskapai bisa menerapkan sistem risiko kelelahan sesuai dengan kebutuhan operasional mereka sendiri. Namun peraturan ini harus terlebih dulu disetujui oleh pemerintah setempat.

Panduan ICAO untuk maskapai menyebutkan, kedua pendekatan di atas haruslah disusun berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah, ilmu pengetahuan dan pengalaman operasional.

Misalnya, peraturan harus mempertimbangkan perlunya tidur yang cukup bagi pilot untuk memulihkan atau menjaga seluruh "fungsi keterjagaan tubuh" seperti kewaspadaan, kesiapan fisik dan mental serta suasana hati.

Peraturan itu juga harus memperhitungkan bagaimana kerja jam sirkadian otak dalam memengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan mental dan fisik, serta kemampuan untuk bisa tertidur dan tetap dalam kondisi tertidur.

Harus diperhitungkan juga dampak beban kerja terhadap penurunan kinerja fisik dan mental seseorang, serta risiko keamanan yang akan muncul jika ada awak yang kelelahan.

ICAO menekankan bahwa pencegahan kelelahan adalah tanggung jawab bersama antar awak pesawat, negara dan penyedia layanan atau maskapai.

Jadi, pilot boleh tidur saat menerbangkan pesawat?

Iya, boleh. Tapi ada peraturan ketat yang mengatur masalah tidur ini.

ICAO menjelaskan ada dua jenis tidur bagi pilot saat bertugas.

Tidur pertama adalah "controlled rest", yaitu pilot tidur saat berada di kokpit, jelas pengamat pengerbangan Shukor Yusof kepada CNA.

Tidur kedua adalah "bunk rest", yaitu pilot tidur di kursi penumpang atau ranjang awak kabin yang tersedia di penerbangan jarak jauh pada pesawat berbadan lebar.

Tidak semua negara memperbolehkan pilot melakukan controlled rest, salah satunya Amerika Serikat. Larangan ini berlaku bagi maskapai AS yang beroperasi di dalam maupun luar negeri, dan juga maskapai asing ketika berada di wilayah udara AS.

Apa syarat agar pilot bisa tidur di kokpit?

Pilot yang ingin tidur di kokpit haruslah mengikuti syarat yang direkomendasikan oleh ICAO.

Shukor mengatakan, hanya satu pilot yang boleh tidur di kokpit dalam satu waktu. Durasi tidur juga harus disepakati baik oleh pilot dan kopilot, tidak boleh lebih dari 40 menit, hanya untuk menyegarkan tubuh.

Pilot yang sedang beristirahat harus memundurkan kursi mereka menjauhi kendali kokpit. Mereka tidak boleh langsung mengambil alih pesawat sesaat setelah bangun, harus dipastikan dulu apakah sudah sepenuhnya terjaga.

Pilot yang berjaga harus mengabarkan awak kabin bahwa salah satu pilot sedang beristirahat. Hal ini untuk memastikan awak kabin melakukan kontak berkala dengan pilot yang berjaga, untuk mencegah dia juga tertidur.

ICAO merekomendasikan dinyalakannya autopilot pesawat dan sistem pendorong otomatis, jika tersedia, ketika pilot sedang melakukan controlled rest.

Bagaimana dengan awak kabin, mereka boleh tidur juga?

Shukor yang merupakan ahli strategi penerbangan dan perekonomian maskapai mengatakan, pilot dan awak kabin memiliki waktu istirahat berbeda karena mereka melakukan tugas yang berbeda pula.

Waktu istirahat ini berbeda-beda setiap maskapai dan serikat pekerja penerbangan.

Misalnya aturan di Singapura, waktu istirahat pilot di pesawat dalam penerbangan jarak sangat jauh setidaknya harus dua kali, salah satunya tidak boleh kurang dari empat jam.

Peraturan ini termaktub dalam surat edaran Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) soal pencegahan kelelahan dalam penerbangan. Penerbangan jarak sangat jauh bisa memakan waktu hingga lebih dari 16 jam, tapi tugas pilot bisa lebih lama lagi.

CAAS juga merekomendasikan awak kabin dengan lama tugas 19 jam atau kurang dari itu harus beristirahat setidaknya empat jam selama penerbangan. Sementara yang bertugas lebih dari 19 jam harus beristirahat setidaknya lima jam.

Meski perkara istirahat awak kabin seperti pramugari juga diatur, namun tidak seketat pilot, kata mantan eksekutif maskapai Chow Kok Wah.

Ini bisa dimaklumi, karena pramugari menghadapi risiko yang lebih minim dibanding pilot, kata Chow.

Selain Batik Air, apakah ada pilot lain yang pernah tertidur?

Ada, insiden Batik Air bukan yang pertama.

Pada April 2022 lalu, dua pilot dari ITA Airways, Italia, dilaporkan tertidur di kokpit dalam penerbangan dari New York ke Roma. Pesawat itu membawa 250 penumpang di dalam kabin.

Salah satu pilot memang tengah menjalani jadwal istirahatnya, sementara pilot lainnya tidak sengaja tertidur. Pilot yang ketiduran ini kemudian dipecat.

Pada Agustus di tahun yang sama, dua pilot maskapai Ethiopian Airlines gagal mendarat karena ketiduran. Mereka tersentak bangun setelah alarm tanda autopilot mati berbunyi karena pesawat melewati landasan pacu tanpa menurunkan ketinggian.

Kedua pilot tersebut dibebastugaskan selama penyelidikan berlangsung.

Peristiwa yang sama terjadi juga pada Februari 2008. Ketika itu dua pilot dibebastugaskan karena tertidur saat terbang di atas Hawaii dan luput mendarat di tujuan.

menurut laporan, pesawat itu terbang menuju lautan lepas selama 18 menit sebelum kedua pilot akhirnya terbangun dan mendaratkan pesawat dengan selamat.

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan