Skip to main content
Iklan

Indonesia

Gubernur BI Perry Warjiyo secara mengejutkan mundur

Perry Warjiyo meletakkan jabatan Gubernur Bank Indonesia karena alasan pribadi. Pasar kini menanti pengganti dan arah kebijakan moneter BI.

Gubernur BI Perry Warjiyo secara mengejutkan mundur

Gubernur Bank Sentral Indonesia, Perry Warjiyo, berbicara dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta, Indonesia, 17 Januari 2024. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan) 

JAKARTA: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya pada Senin (27/7), sebuah langkah yang mengejutkan dan dinilai analis berpotensi mengguncang kepercayaan investor terhadap independensi bank sentral serta pengelolaan fiskal Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto telah menerima pengunduran diri Perry, demikian disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers yang digelar pada pagi hari, sebelum pasar keuangan di Jakarta dibuka.

Sebagai pengganti sementara, pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pelaksana tugas Gubernur Bank Indonesia. Destry mengatakan, Perry mundur karena alasan pribadi.

Pada awal perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 0,14 persen ke level Rp17.960 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 0,68 persen sebelum berbalik menguat 0,26 persen pada pukul 09.09 WIB.

"Pengunduran diri Perry Warjiyo kemungkinan akan dipandang negatif oleh pasar karena selama ini ia dianggap sebagai sosok yang mampu menjaga stabilitas dan memiliki rekam jejak yang baik," kata Angus Mackintosh, spesialis ASEAN di Aletheia Capital, Singapura, kepada Reuters. 

"Respons pasar akan sangat bergantung pada siapa penggantinya. Untuk sementara Destry Damayanti akan menjalankan tugas sebagai gubernur. Namun apabila keponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, yang saat ini menjabat Deputi Gubernur BI, nantinya ditunjuk sebagai gubernur, pasar kemungkinan akan memandangnya dengan penuh kehati-hatian karena posisi ini merupakan jabatan teknokrat yang sangat penting dan independensi BI harus tetap terjaga," tuturnya.

Prasetyo mengatakan, Perry menyampaikan surat pengunduran dirinya langsung kepada Presiden. Namun, ia enggan menjelaskan alasan pribadi yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Perry sendiri belum dapat dihubungi untuk dimintai tanggapan.

Perry pertama kali diangkat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 2018 dan kembali dipercaya menjalani masa jabatan kedua selama lima tahun pada 2023.

Dalam beberapa waktu terakhir, BI menghadapi tekanan untuk mendukung agenda pertumbuhan ekonomi Presiden Prabowo. Di saat yang sama, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Juni akibat gejolak pasar global serta meningkatnya kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal dan independensi bank sentral.

Bulan lalu, DPR mengesahkan perubahan regulasi yang semakin memperkuat peran BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Regulasi tersebut juga memberikan kewenangan lebih besar kepada parlemen untuk mengeluarkan rekomendasi yang bersifat mengikat kepada regulator sektor keuangan independen, termasuk Bank Indonesia.

Usai pengumuman pengunduran diri Perry, Destry menegaskan, BI akan memastikan seluruh tugas dan kewenangannya tetap berjalan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan sistem keuangan, sehingga tercipta kondisi ekonomi yang kondusif bagi pertumbuhan.

Ia juga memastikan BI akan terus menjalankan kebijakan sesuai praktik terbaik yang berlaku secara internasional.

Pekan lalu, BI mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga acuan, alih-alih kembali menaikkannya. Sebagai gantinya, bank sentral meluncurkan sejumlah insentif baru untuk menarik arus modal asing guna menopang nilai tukar rupiah. Sebelumnya, sejak Mei BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 100 basis poin untuk menarik masuknya dana asing dan memperkuat rupiah.

Dalam risetnya, Mirae Asset Sekuritas menilai, perkembangan tersebut akan menjadi perhatian utama pelaku pasar. Investor kini menunggu keputusan pemerintah mengenai pengganti Perry sekaligus mencermati dampaknya terhadap kesinambungan kebijakan moneter BI, kredibilitas institusi, dan arah kebijakan ekonomi secara keseluruhan.

Tahun lalu, pencopotan mendadak Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga sempat mengguncang pasar. Saat itu, investor khawatir kredibilitas fiskal Indonesia dapat tergerus oleh rencana belanja pemerintah di bawah Presiden Prabowo yang dinilai populis dan berbiaya besar.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Reuters/ew(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan