Skip to main content
Iklan

Indonesia

Timpang antara keterampilan dan kebutuhan pasar, biang keladi jutaan Gen Z menganggur di Indonesia

Dengan ketatnya persaingan kerja di Indonesia, tidak mengherankan jika ada ribuan orang yang melamar untuk satu posisi pekerjaan.

 

Timpang antara keterampilan dan kebutuhan pasar, biang keladi jutaan Gen Z menganggur di Indonesia

Diperkirakan ada 9,9 juga Gen Z di Indonesia yang menganggur. (Foto file: iStock/Sitthiphong)

SUKABUMI, Indonesia: Icha Nur Septiani telah mengirimkan lebih dari 2.000 lamaran kerja sebelum akhirnya diterima sebagai petugas layanan pelanggan di sebuah perusahaan transportasi online.

Sebelumnya selama delapan bulan terakhir, penolakan demi penolakan menjadi makanan sehari-hari perempuan berusia 23 tahun ini.

Ini kondisi yang tidak diharapkannya usai lulus pendidikan diploma teknik elektro dari Politeknik Negeri Bandung pada 2023.

"Saya melamar semua lowongan yang ada, selama saya memenuhi persyaratannya," kata dia kepada program Money Mind CNA.

Setiap harinya dia menghabiskan tiga hingga empat jam untuk mencari kerja menggunakan laptopnya. Targetnya adalah mengirimkan 20 hingga 30 lamaran per hari melalui berbagai situs pencari kerja.

"Kalau mengirim sekitar 15 hingga 20 lamaran per hari, saya akan menerima sekitar 10 hingga 12 penolakan, baik melalui WhatsApp, email atau secara langsung di situsnya," kata dia.
 

Icha Nur Septiani telah mengirimkan lebih dari 2.000 lamaran kerja sebelum akhirnya diterima bekerja.

PERSAINGAN YANG KETAT

Tetapi perjuangan yang dilalui Icha adalah hal biasa di kalangan para pencari kerja di Indonesia.

Para pengamat mengatakan, persaingan kerja di Indonesia sangat ketat dan yang paling terkena dampaknya adalah anak-anak muda.

Diperkirakan sekitar 9,9 juta Gen Z di negara ini adalah pengangguran.

Tingkat pengangguran di kelompok usia 15 hingga 24 tahun mencapai lebih dari 17 persen — jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran nasional yang berada di angka 4,9 persen.

Para ahli mengatakan kepada Money Mind bahwa tidak mengherankan jika ada ribuan pelamar untuk satu posisi pekerjaan.

Ekonom Telisa Aulia Falianty, dosen senior di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, mengatakan bahwa pasar kerja di Indonesia saat ini sangat kompetitif.

"Di generasi saya, misalnya, orang berpendidikan masih tergolong langka," ujarnya.

"Kalau kita ingin bekerja di sektor (yang membutuhkan orang berpendidikan tinggi), relatif mudah. Kalau kita berpendidikan, pekerjaan pun relatif mudah didapat. Tapi sekarang, semuanya jauh lebih kompetitif."

Bagi Icha, dia bahkan melamar posisi di luar bidangnya demi meningkatkan peluang mendapatkan kerja. Tapi tetap saja, tidak ada lamarannya yang diterima.

"Apakah ini salah saya? Apakah ada yang salah, tapi saya tidak mengetahuinya?" kata Icha yang tinggal di Sukabumi, Jawa Barat.

"Saya juga malu di depan keluarga ... Saya tidak suka kalau harus meminta uang, terutama untuk ongkos wawancara di luar kota, kalau hanya untuk gagal dan gagal lagi. Itu membuat saya tertekan dan merasa gagal.

"Saya jadi bertanya-tanya, 'apa yang salah dari diri saya?'"

Pelatih karier Teddy Diego bekerja sama dengan pencari kerja seperti Icha untuk memperbaiki surat lamaran kerjanya setelah ia gagal mendapatkan pekerjaan.

KETIMPANGAN ANTARA KETERAMPILAN DAN PASAR

Pemerintah Indonesia telah mengatakan bahwa ada ketidaksesuaian antara jenis pekerjaan yang diinginkan oleh para pelamar kerja dari kalangan Gen Z dengan keterampilan apa yang diperlukan oleh industri.

“Kita memang mengalami pertumbuhan ekonomi, tetapi generasi muda belum benar-benar bisa mengoptimalkan atau memanfaatkan hasil dari pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi peluang kerja bagi mereka,” kata Telisa dari Universitas Indonesia, menyoroti perbedaan ekspektasi yang ada.

“Ada ketimpangan antara sektor-sektor pertumbuhan ekonomi — yang sebenarnya menciptakan lapangan kerja — dan permintaan atau preferensi Gen Z dalam memilih pekerjaan.”

Dia mengatakan bahwa negara-negara dengan populasi yang besar dan kepadatan penduduk yang tinggi biasanya juga mengalami masalah pengangguran usia muda.

Pemerintah Indonesia telah berusaha mengatasi masalah ini dengan fokus pada pendidikan sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM) serta meningkatkan pendidikan vokasi.

Namun menurut para pengamat, upaya tersebut butuh waktu sampai bisa terlihat hasilnya.

"Kita mengetahui bahwa Indonesia masih kekurangan talenta-talenta di bidang digital," kata Telisa.

"Kemampuan rata-rata Gen Z dan para milenial cukup baik dalam hal teknologi, tapi cuma sebatas pengguna. Tapi untuk lapangan kerja, mereka harus memiliki kemampuan yang lebih kompleks dan maju lagi agar bisa berkembang."

MENINGKATKAN DAYA SAING

Para ahli mendorong pemuda Indonesia untuk meningkatkan keterampilan agar bisa bersaing di pasar kerja yang sangat ketat.

Bagi Icha, dia mengambil lebih banyak sertifikasi untuk meningkatkan daya saing, salah satu yang dia ambil adalah analisis data.

Pelatih karier Teddy Diego, yang membantu Icha memperbaiki lamarannya setelah gagal mendapatkan pekerjaan, menyarankan para pencari kerja untuk lebih fokus pada relevansi saat melamar, bukan hanya mencantumkan semua prestasi yang dimiliki.

Ketika ditanya bagaimana ia membimbing pencari kerja dalam proses pencarian kerja, Teddy mengatakan:

“Saya fokus pada apa yang sebenarnya dicari perusahaan di Indonesia, apakah itu persyaratan administratif, keterampilan khusus, atau cara agar berhasil melewati proses rekrutmen.”

“Informasi tentang aspek-aspek ini tidak selalu disampaikan dengan jelas atau efektif oleh perusahaan. Itulah sebabnya saya berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan memberikan panduan dan wawasan kepada para pencari kerja.”

Tentang Icha, ia mencatat bahwa Icha memiliki kompetensi kerja yang kuat.

“Pengalamannya, kemauan belajarnya, keterlibatannya dalam berbagai organisasi, dan semua sertifikasi yang sudah dia ambil benar-benar menunjukkan hal itu,” tambahnya.

“Masalahnya lebih pada bagaimana dia menyajikan semua itu dalam lamaran kerjanya, serta bagaimana dia menampilkan diri saat wawancara.”

Meskipun pekerjaan layanan pelanggan tidak terkait dengan pendidikan diploma yang ia miliki, namun Icha mendapatkan penghasilan hingga Rp5 juta per bulan. Ini lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar Rp3,27 juta per bulan.

“Meski secara teknis mungkin tidak sesuai dengan jurusan saya, tapi pekerjaan ini sesuai dengan soft skills saya,” ujarnya.

“(Termasuk) keterampilan pemecahan masalah yang saya gunakan setiap hari untuk menangani keluhan para pengemudi, bagaimana saya beradaptasi, dan juga berkomunikasi dengan tim lain.”

Icha masih berharap suatu hari nanti bisa mendapatkan gelar sarjana S1 demi mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang insinyur.

“Kalau saya lihat teman-teman saya, kebanyakan mereka mungkin ingin pekerjaan di ruangan ber-AC, yang tidak terlalu berat secara fisik,” katanya.

“Tapi saya, saya ingin bekerja memakai wearpack (pakaian pelindung); saya ingin bekerja dengan helm. Saya ingin bekerja di lapangan.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan