Skip to main content
Iklan

Indonesia

Menkes: Kelompok antivax hambat pencegahan campak

Indonesia menjadi negara dengan kasus campak terbanyak kedua di dunia setelah Yaman.

JAKARTA: Pemerintah menyebut upaya pencegahan campak di Indonesia masih terhambat penolakan vaksin di masyarakat, meski ketersediaan vaksin dan penanganan kasus tetap berjalan baik.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) dikutip CNN Indonesia, Senin (20/4) mengatakan penyebaran campak saat ini relatif masih bisa ditangani. Namun, ia menilai tantangan utama justru terletak pada masih besarnya kelompok antivaksin yang menolak vaksinasi

Dalam dua bulan pertama 2026, sudah tercatat 572 kasus campak dengan 8.224 suspek dan empat kematian di Indonesia. Sepanjang 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 11.094 kasus campak, 63.769 suspek atau meroket tajam 147 persen dibanding 2024, serta 69 kematian.

Anak berusia di bawah satu tahun yang mayoritas belum diimunisasi menjadi kelompok dengan kasus campak terbanyak, yakni 68 persen. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus campak terbanyak kedua di dunia setelah Yaman.

Kasus campak di tanah air sedang menjadi sorotan setelah meninggalnya dokter magang Andito Mohammad Wibisono akibat tertular campak di Cianjur.

Menkes mengatakan kasus campak, seperti halnya demam berdarah dengue (DBD), menunjukkan tren kenaikan pada waktu-waktu tertentu. Di banyak negara, kenaikan kasus biasanya terjadi pada awal tahun seiring musim dingin dan tingginya mobilitas masyarakat.

Menurut dia, pola serupa juga terlihat di Indonesia saat memasuki awal musim sekolah. Meski demikian, persoalan utama yang dihadapi pemerintah saat ini bukan pada ketersediaan stok vaksin, melainkan penerimaan masyarakat terhadap imunisasi.

“Dan sekali lagi susahnya apa, susahnya hanya meyakinkan orang tua bahwa anaknya divaksinasi,” tegas BGS.

DAMPAK PANDEMI DAN ISU HALAL HARAM

BGS juga menjelaskan selama masa pandemi COVID-19, fokus pemerintah dan masyarakat sempat bergeser ke vaksinasi COVID-19. Akibatnya, banyak jadwal imunisasi rutin anak yang terlewat.

“Nah kita juga tahu campak ini sudah ada vaksinnya, cuma masalahnya waktu COVID sempat bergeser fokus kita memvaksinasi COVID sehingga banyak orang tua yang kemudian lewat campaknya. Karena campak ini vaksinasinya kalau saya enggak salah nanti harus tiga kali,” ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan pencegahan campak juga sempat terhambat perdebatan soal halal haram vaksin. Kekhawatiran orang tua terhadap kandungan vaksin membuat cakupan imunisasi di sejumlah wilayah sulit mencapai target.

“Dan yang kedua memang ini ada isu halal haram vaksin ini, jadi sempat ramai dan agak susah masuknya,” urainya. 

Menanggapi keraguan tersebut, Menkes menegaskan bahan dalam vaksin campak rubella memiliki kesamaan dengan vaksin meningitis yang diwajibkan bagi jemaah haji dan umrah.

“Jadi kalau kita ngomong wah ini bahannya gimana gitu, ya artinya Meningitis kalau ini enggak boleh disuntikkan oleh orang tua ke anaknya, artinya semua orang tua yang mau naik haji umrah, ya dia disuntikkan dengan bahan yang sama juga dengan yang dipakai di vaksin Campak Rubella ini ya,” terangnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew (da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan