Skip to main content
Iklan

Indonesia

Pembangunan Tol Japek II Selatan dikebut, akan jadi 'predator' bagi Whoosh?

Jakarta-Bandung via tol Japek II diklaim cuma menghabiskan waktu 45 menit, pengamat menyebutnya bisa semakin menyusutkan pendapatan Whoosh.

Pembangunan Tol Japek II Selatan dikebut, akan jadi 'predator' bagi Whoosh?

Progres pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan. (Dok. Jasa Marga)

JAKARTA: Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan yang diklaim dapat memangkas waktu perjalanan dari Jakarta ke Bandung menjadi kurang dari satu jam terus dikebut pembangunannya, dengan target rampung tahun depan.

Namun pembangunan tol Japek II ditengarai berpotensi menyusutkan pendapatan Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Whoosh.

Ki Darmaningtyas, peneliti dari Inisiatif Strategis untuk Transportasi (INSTRAN), berpendapat Japek II bisa menjadi "predator" bagi Whoosh.

"Jelas akan menjadi predator (bagi Whoosh). Karena masyarakat yang bepergian hingga tiga orang ke atas akan lebih memilih naik kendaraan pribadi (via tol baru), lebih cepat dan dari segi biaya lebih murah," kata Darmaningtyas kepada CNA Indonesia.

Tol Japek II Selatan dirancang menghubungkan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) di Jatiasih, Bekasi, dengan Tol Purbaleunyi di Sadang, Purwakarta. Pembangunan ruas ini masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dan berada di bawah pengawasan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

Rencananya, Japek II sepanjang 62km ini akan beroperasi fungsional pada periode arus mudik Lebaran 2026 mendatang.

Awal bulan ini, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) di akun Instagram mereka mengumumkan bahwa proyek Japek II telah mencapai 72 persen dan pembebasan lahan sudah sekitar 81 persen.

Setelah rampung, pengguna jalan akan memiliki tiga pilihan rute tol Jakarta–Bandung yaitu Tol Jakarta–Cikampek (eksisting), Tol Jakarta–Cikampek Elevated (MBZ), dan Tol Jakarta–Cikampek II Selatan (Japeksel).

Awalnya waktu tempuh Jakarta-Bandung via tol Japek II diklaim hanya 45 menit, selisih sedikit dengan menggunakan Whoosh yang bisa mencapai Padalarang dalam waktu 30 menit. Namun klaim itu ditepis Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, yang mengatakan waktu tempuh itu hanya untuk Gerbang Tol Jatiasih hingga Sadang, bukan keseluruhan rute Jakarta–Bandung.

Dikutip Kompas, keluar dari gerbang tol Sadang, pengemudi masih harus masuk Tol Cipularang dan Tol Purbaleunyi untuk menuju ke Kota Bandung dengan jarak sekitar 60km lagi dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Artinya, dari Jatiasih ke Kota Bandung via Tol Japek II membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Meski begitu, para pengamat menilai bertambahnya opsi jalur ke Bandung ini akan membuat masyarakat mempertimbangkan ulang untuk naik Whoosh.

"Pemerintah membangun Whoosh supaya orang bisa menggunakan kereta cepat ke Bandung, dengan alasan waktunya lebih pendek dibanding kereta reguler," kata Darmaningtyas.

"Tetapi dengan membangun tol Japek II, orang akan memilih menggunakan ini. Pemerintah sepertinya keliru membuat kebijakan, tidak sinkron antara pembangunan kereta cepat dan Japek II," lanjut dia.

Progres pembangunan Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Selatan. (Dok. Jasa Marga)

Para pengamat menilai akses yang lebih mudah dari JORR ke Tol Japek II akan membuat perjalanan ke Bandung semakin praktis. Sebaliknya, penumpang Whoosh masih harus menuju Halim terlebih dulu, ditambah harga tiket yang berada di kisaran Rp150.000–Rp600.000.

"Kalau bepergian sendirian, mungkin orang baru akan melirik Whoosh," kata Djoko Setijowarno, pakar transportasi dari Universitas Soegijapranata, Jawa Tengah, kepada CNA Indonesia.

"(Pembangunan tol) agak aneh juga, karena di satu sisi (pemerintah) ingin pendapatan Whoosh tinggi, tapi di sisi lain menambah Japek II," lanjut Djoko.

JAPEK II AKAN MENYUSUTKAN PENDAPATAN WHOOSH?

Koordinator Indonesia Toll Road Watch (ITRW) Deddy Herlambang mengatakan bahwa Pulau Jawa sudah terlalu banyak jalan tol sehingga menurut dia pembangunan Tol Japek II kurang tepat.

"Selain itu dapat menjadi stimulan masyarakat selalu membeli atau menggunakan kendaraan pribadi sehingga Jakarta dan Bandung selalu macet," kata Deddy.

Deddy mengatakan pengguna tol dan Whoosh berasal dari segmen berbeda: tol untuk perjalanan bisnis, sementara Whoosh lebih banyak dipilih untuk non-bisnis. “Terlihat dari ramainya Whoosh setiap akhir pekan dan long weekend,” katanya.

Namun, dia tidak menampik bahwa pembangunan Japek II berpotensi menyusutkan pendapatan Whoosh. "Karena akan semakin banyak pilihan moda ke Bandung," ujar dia.

Kereta cepat Whoosh (dok KCIC)

Pembangunan Whoosh menelan biaya total sebesar US$7,2 miliar atau Rp116,54 triliun, termasuk tambahan biaya (cost overrun) senilai US$1,2 miliar atau Rp19,42 triliun, yang 75 persennya dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank (CDB).

Pendapatan operasional kereta cepat saat ini menunjukkan bahwa Whoosh diproyeksi akan kesulitan menutupi beban utangnya. Kondisi ini membuat Presiden Prabowo Subianto pasang badan, mengatakan pemerintahan akan turut membantu membayarkan utang Whoosh tersebut.

Menurut Toto Pranoto, pengamat BUMN sekaligus Managing Director Lembaga Manajemen FEB UI, harga tiket Whoosh saat ini belum cukup kompetitif untuk bisa bersaing dengan moda transportasi lain seperti Tol Japek II. "KAI bisa tetapkan harga dinamis yang lebih murah dengan tujuan peningkatan occupancy rate penumpang," kata Toto.

Toto melanjutkan, KAI akan bisa lebih leluasa menetapkan harga tiket jika biaya investasi infrastruktur Whoosh dipisahkan dari perseroan dan dialihkan ke lembaga khusus pengelola infrastruktur kereta api sesuai dengan UU 23/2007 tentang Perkeretaapian.

"KAI hanya sebagai badan usaha operator kereta api," kata dia.

Djoko Setijowarno dari Universitas Soegijapranata mengatakan Whoosh bisa meningkatkan pendapatan non-tiket untuk mendongkrak pemasukan, di antaranya dengan mengembangkan sektor ritel di stasiun-stasiun kereta cepat.

"Mempercepat pengembangan kawasan komersial di stasiun untuk menarik penyewa ritel seperti restoran, kafe, dan toko oleh-oleh, pendapatan diperoleh dari sewa dan bagi hasil," kata Djoko.

Whoosh, kata dia, juga bisa membangun atau menyewakan ruang kantor, hotel, dan residensial di kawasan terintegrasi stasiun untuk mendapatkan pendapatan jangka panjang dari real estate. Selain itu, Whoosh perlu meningkatkan pemasangan iklan dan media luar ruang, termasuk melalui kerja sama co-branding dengan berbagai merek besar.

Tambahan pemasukan lainnya juga bisa didapatkan dari peningkatan layanan dan fasilitas.

"Layanan value-added, menawarkan layanan premium berbayar, seperti fast track access, layanan bagasi, atau kemitraan dengan penyedia layanan co-working space di stasiun," kata Djoko.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan