Skip to main content
Iklan

Indonesia

Pelaku ledakan SMAN 72 rakit bom sendiri, sering akses dark web

Situs-situs gelap (dark web) kerap menampilkan foto dan video brutal dari korban perang, pembunuhan, serta kecelakaan fatal.

Pelaku ledakan SMAN 72 rakit bom sendiri, sering akses dark web
Petugas medis mendorong seorang siswa yang terluka di Rumah Sakit Islam Jakarta setelah terjadi ledakan saat salat Jumat di sebuah masjid yang berada di dalam kompleks SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta pada 7 November 2025. (Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana)
11 Nov 2025 08:55AM (Diperbarui: 19 Nov 2025 09:21AM)

JAKARTA: Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap hasil penyelidikan terbaru terkait insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

Siswa berinisial MNFH alias F yang menjadi terduga pelaku diketahui merakit bom sendiri dengan belajar dari internet.

“Dirakit sendiri dan pelaku mengakses melalui internet cara-cara merakit bom,” ujar Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana kepada Metro TV, Selasa (11/11).

Mayndra menjelaskan, pelaku membawa tujuh peledak ke sekolah, dengan rincian empat di antaranya meledak, sementara tiga lainnya tidak sempat diledakkan. 

Berdasarkan hasil rekaman CCTV, terduga pelaku terlihat masuk ke area sekolah sambil membawa dua tas besar yang diduga berisi bahan peledak.

KURANG PERHATIAN KELUARGA

Hasil penyelidikan juga menemukan bahwa sebagian bom rakitan tersebut dapat dikendalikan menggunakan remote. Namun, Mayndra tidak memerinci lebih lanjut mengenai sistem teknisnya.

“Beberapa iya (bisa dikendalikan pakai remote), tapi untuk teknisnya silakan konfirmasi ke Gegana atau Bid Humas Polda Metro Jaya,” jelasnya.

Selain mempelajari cara merakit bom, pelaku juga aktif mengakses forum daring dan situs-situs gelap (dark web) yang berisi konten kekerasan ekstrem. Situs tersebut menampilkan video dan foto brutal seperti adegan perang, pembunuhan, serta kecelakaan fatal.

“Yang bersangkutan kerap mengunjungi komunitas daring yang menampilkan video atau foto orang meninggal dunia akibat kecelakaan, perang, atau kejadian brutal lainnya,” ungkap Mayndra.

Tidak hanya itu, penyidik juga menemukan bukti bahwa pelaku sempat menuliskan ungkapan kekesalan dan emosi pribadi melalui tulisan maupun gambar di dalam kelas. Meski demikian, polisi belum menjelaskan secara rinci isi dari tulisan tersebut.

 

 

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyampaikan bahwa pelaku diduga kurang mendapat perhatian dari keluarga sehingga menimbulkan akumulasi emosi yang memicu tindakannya.

“Ada kurang perhatian dari keluarga, dan itu sifatnya sudah akumulasi,” kata Budi.

Ia menambahkan, sejauh ini tidak ditemukan indikasi keterlibatan pelaku dengan kelompok atau jaringan teror tertentu.

“Belum ada keterkaitan dengan kelompok lain,” tegasnya.

Budi juga menepis anggapan bahwa pelaku memiliki sentimen terhadap agama Islam, meski ledakan terjadi di area masjid sekolah.

“Kami ingin meluruskan, memang kejadiannya di tempat ibadah, tetapi pelaku bukan anti-Islam. Ini murni tindakan pribadi, bukan berbasis kebencian terhadap agama,” tandasnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan