Badai PHK 7.000 orang mengintai Jatim, 2 raksasa otomotif Jepang berencana hengkang
Rencana awal relokasi disebut terkait daya saing industri dan berkembangnya rantai pasok kendaraan listrik di Vietnam.
Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. (Dok. TMMIN)
SURABAYA: Sekitar 7.000 pekerja berpotensi terkena PHK apabila dua produsen komponen otomotif pemasok merek-merek Jepang memutuskan memindahkan sebagian lini produksinya dari Indonesia ke Vietnam.
Informasi tersebut diungkapkan Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, yang menyebut dua perusahaan dimaksud merupakan PT J dan PT S, bagian dari satu grup industri asal Jepang.
Kedua perusahaan tersebut beroperasi di Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur, serta memasok komponen untuk sejumlah merek kendaraan Jepang yang diproduksi di Indonesia.
“Kalau di Jepang sangat terkenal. Di Indonesia, masuk untuk produksi mobil Toyota, Suzuki, Daihatsu, dan juga ekspor,” ujar Said Iqbal.
Menurut dia, perusahaan tersebut berada pada rantai pasok penting industri otomotif nasional sebagai pemasok komponen tingkat pertama maupun kedua.
“Ada kemungkinan sebagian pekerjaan di PT S dan PT J ini akan dibawa atau dipindahkan ke Vietnam,” kata Said kepada Kompas.com, Senin (22/6).
Meski demikian, ia menegaskan rencana tersebut masih bersifat awal dan belum menjadi keputusan final.
“Ini tentu keputusan dari prinsipal di Jepang. Mereka baru bisa memberikan informasi awal,” sebutnya.
VIETNAM DINILAI LEBIH MENARIK
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki mengatakan, informasi yang diterimanya menunjukkan kedua perusahaan tersebut merupakan produsen wiring harness yang berada dalam grup Yazaki.
Menurut Rachmat, salah satu faktor yang diduga memengaruhi rencana relokasi adalah berkembangnya rantai pasok kendaraan listrik di Vietnam.
Apabila rencana tersebut terealisasi, dampaknya terhadap tenaga kerja diperkirakan cukup besar.
PT J saat ini memiliki sekitar 7.000 pekerja, dengan sekitar 4.000 orang disebut berpotensi terdampak.
Sementara PT S mempekerjakan sekitar 4.000 karyawan dan sekitar 3.000 di antaranya disebut berpotensi terdampak berdasarkan skenario yang telah disampaikan kepada serikat pekerja.
“PT J itu karyawannya 7.000. Yang kemungkinan dikurangi 4.000 orang. Kalau PT S jumlah karyawannya 4.000, yang akan dikurangi 3.000 orang. Jadi total dua perusahaan, bisa kehilangan 7.000 pekerja,” terang Said.
Saat ini, pemerintah masih mendorong dialog antara serikat pekerja dan manajemen perusahaan guna memastikan rencana tersebut sekaligus mencari langkah mitigasi.
“Misal, apakah benar rencana pemindahan pekerjaan tersebut ke Vietnam. Kalau benar, mulai kapan. Kalau ada langkah-langkah dari pemerintah Indonesia untuk memperbaiki iklim investasi, bisa tidak mereka tidak jadi pindah,” ujarnya.
Rachmat menilai, industri komponen otomotif nasional memang sedang menghadapi tekanan berat.
Penjualan kendaraan domestik dalam tiga tahun terakhir turun dari sekitar 1 juta unit menjadi sekitar 800.000 unit per tahun.
Di sisi lain, meningkatnya impor kendaraan listrik utuh (completely built up/CBU) maupun perakitan sederhana kendaraan listrik dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi industri komponen lokal.
“Jadi, industri komponen lokal akhir-akhir ini memang berada di bawah kapasitas,” kata Rachmat kepada Bisnis.
Menurut dia, daya saing Indonesia juga masih tertekan karena tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku serta iklim usaha yang dinilai kurang kompetitif dibandingkan Vietnam maupun Thailand.
“Untuk bisa berproduksi di Indonesia bahan baku juga masih banyak yang impor. Iklim usaha yang kurang kompetitif seperti di Vietnam dan Thailand,” pungkasnya
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.