Gaduh dokter PPDS Elda Putri Rahardini cibir pasien BPJS Yurizal Tri Chaerawan yang menunggu 8 jam
RSUP Dr. Sardjito menghentikan sementara praktik mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada itu.
Yurizal Tri Chaerawan, pasien BPJS yang viral setelah curhatannya di medsos dikomentari negatif para tenaga kesehatan (Instagram/hilperd)
YOGYAKARTA: Curhatan seorang peserta BPJS Kesehatan yang mengaku menunggu delapan jam tanpa mendapat ruang perawatan di rumah sakit berujung menjadi polemik nasional.
Setelah unggahan tersebut viral, sejumlah tenaga kesehatan diduga memberikan komentar bernada merendahkan. Beberapa hari kemudian, keluarga mengabarkan bahwa pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan itu meninggal dunia.
Yurizal mengunggah keluhannya melalui akun Threads pada 22 Juli 2026. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku telah menunggu delapan jam tanpa mendapatkan ruang perawatan.
"8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal.
Unggahan tersebut kemudian viral dan memicu beragam tanggapan di media sosial. Di antara ribuan komentar, sejumlah akun yang belakangan diidentifikasi warganet sebagai tenaga kesehatan atau dokter turut melontarkan komentar bernada sinis.
Salah satunya berasal dari akun @erudarahaadini yang diketahui milik Elda Putri Rahardini, seorang peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUP Dr. Sardjito, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta..
"PP nya kayak orang Have tapi aslinya Haven't kah? haven't some brain cells," tulis akun tersebut.
Belakangan, Elda menyampaikan permintaan maaf dan mengakui komentarnya tidak pantas.
RUMAH SAKIT DAN UGM AMBIL TINDAKAN
Menanggapi polemik tersebut, RSUP Dr. Sardjito membenarkan akun yang menjadi sorotan merupakan milik seorang peserta didik, bukan pegawai rumah sakit.
"Yang itu memang dilakukan oleh salah satu peserta didik ya. Jadi bukan pegawai RSUP dr. Sardjito. Dia adalah murni peserta didik ya," kata Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito Banu Hermawan kepada Kumparan, Selasa (4/8).
Sebagai tindak lanjut awal, RSUP Dr. Sardjito menghentikan praktik dokter Elda Putri Rahardini di lingkungan rumah sakit selama proses investigasi berlangsung.
Langkah tersebut diambil bersama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melalui Tim Pendidikan Bermartabat.
Banu menjelaskan kewenangan rumah sakit terbatas pada penghentian stase atau praktik klinis Elda di RSUP Dr. Sardjito. Sementara keputusan mengenai status pendidikannya sebagai peserta PPDS menjadi kewenangan FK-KMK UGM.
Dengan demikian, Elda tidak lagi diperbolehkan menjalankan praktik klinis di RSUP Dr. Sardjito selama proses pemeriksaan berlangsung.
FK-KMK UGM kemudian menyatakan telah memberikan pendampingan kepada keluarga Yurizal sekaligus membuka investigasi atas peristiwa tersebut.
Dekan FK-KMK UGM Yodi Mahendradhata mengatakan pihaknya telah memulai serangkaian proses pemeriksaan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan investigasi berjalan secara objektif, transparan, dan berkeadilan.
"Memberikan pendampingan kepada keluarga almarhum serta membuka ruang komunikasi untuk menerima masukan, klarifikasi, dan penyelesaian permasalahan secara profesional, manusiawi, dan berorientasi pada penghormatan terhadap martabat pasien dan keluarganya," demikian salah satu poin dalam pernyataan resmi FK-KMK UGM, Rabu (5/8).
FK-KMK UGM juga menyatakan akan menjatuhkan sanksi apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran.
MENKES: SISTEM KESEHATAN MASIH PERLU DIBENAHI
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut menanggapi polemik tersebut.
"Sebagai Menteri Kesehatan, tugas saya dari bapak presiden adalah menaikkan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 ke 76 tahun. Jadi setiap ada yang meninggal itu saya sedih. Apalagi kalau meninggalnya masih muda, saya merasa sebagai Menkes gagal," kata BGS kepada Kumparan di Kementerian Kesehatan, Rabu (5/8).
Menkes mengakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam sistem kesehatan yang perlu dibenahi, baik dari sisi fasilitas kesehatan, peralatan medis, maupun sumber daya manusia.
"Kekurangan itu ada, itu yang harus kita perbaiki, baik di fasilitas kesehatannya, di alat-alat kesehatannya, maupun SDM kesehatannya," ujarnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.