Olimpiade Paris 2024: Indonesia sabet dua emas, penantian 32 tahun tuntas
Torehan manis Veddriq Leonardo dari speed panjat tebing dan Rizki Juniansyah dari cabor angkat besi membuat posisi Indonesia melesat ke peringkat ke-28.
Rizki Juniansyah menyumbang emas kedua untuk Indonesia di Olimpiade Paris 2024 dari cabang angkat besi kelas 73kg. (Foto: REUTERS/Amanda Perobelli)
Indonesia kembali mendapatkan tambahan medali emas dalam ajang Olimpiade Paris 2024. Setelah Veddriq Leonardo meraih emas dari nomor speed panjat tebing, rakyat Indonesia kembali bersuka cita ketika Rizki menyabut medali emas kedua setelah menjadi juara di nomor 73 kilogram putra angkat besi.
Ini merupakan kali pertama bagi Indonesia untuk membawa pulang dua emas olimpiade dalam kurun 32 tahun terakhir. Capaian serupa hanya pernah dirasakan Indonesia pada Olimpiade Barcelona 1992 lewat kemenangan Susy Susanti dan Alan Budikusuma dari cabang bulu tangkis.
Torehan manis Veddriq Leonardo dari speed panjat tebing dan Rizki Juniansyah dari cabor angkat besi membuat posisi Indonesia melesat ke peringkat ke-28 pada Olimpiade Paris 2024.
Perjalanan meraih emas bagi Veddriq maupun Rizki bukan hal yang mudah.
Pada laga final melawan atlet China, Wu Peng, Veddriq terlihat berjalan memasuki arena dengan penuh percaya diri, namun terlihat tidak lupa memanjatkan doa.
Ketika start dimulai, dia tak terkalahkan, berhasil unggul 0,02 detik atas Wu Peng.
Rona bahagia terpancar dari Veddriq yang masih berada di atas tali pengaman. Dia terlihat bersorak dan mengepalkan tangan, ungkapan dari rasa lega karena telah menyelesaikan pertandingan, sekaligus senang karena keluar sebagai pemenang. Penonton pun terlihat bertepuk tangan.
Sementara, Rizki Juniansyah menunjukkan penampilan yang dominan dan tak tertandingi lifter negara lain saat tampil dan merebut emas kelas 73kg angkat besi Olimpiade Paris 2024.
Rizki memulai snatch dengan angkatan 155kg. Setelah sempat gagal di angkatan pertama, Rizki bisa mengangkat beban 155kg di angkatan kedua.
Setelah masih mendapatkan perlawanan ketat di kategori snatch, Rizki benar-benar tidak tertandingi di clean and jerk.
Saingan kuat Rizki di clean and jerk adalah Weeraphon Wichuma, lifter dari Thailand. Wichuma bisa melakukan angkatan 190kg di kesempatan pertama, 194kg di kesempatan kedua, dan 198kg di kesempatan ketiga. Total angkatan Wichuma ada di 346kg.
Namun, Rizki sudah memastikan diri meraih emas lantaran lebih dulu membukukan total angkatan 346kg.
Rizki lalu memanfaatkan percobaan kedua untuk pemecahan rekor Olimpiade. Rizki melakukan angkatan 199kg dan sukses melakukannya.
Rizki pun mencatat total angkatan 354kg, merebut medali emas sekaligus memecahkan rekor Olimpiade. Dengan total angkatan 354 kilogram, Rizki unggul hingga delapan kilogram atas Wichuma.
Suasana penuh haru terlihat saat Rizki berhasil menggangkat besi seberat 199 kilogram di laga final.
Setelah menjatuhkan bebannya, Rizki terlihat tersungkur di lantai dan menangis bahagia. Para pelatih dan kontigen Indonesia bersorak, diiringi standing ovation dari seluruh pentonton yang memenuhi stadion itu.
Rasa penuh mengharu biru itu terasa selama beberapa menit Rizki terlihat menangis haru. Ia kemudian melambaikan tangan dan membungkuk hormat kepada seluruh penonton yang terlihat terkesima atas kemenangannya.
"Saya senang, bangga, dan sangat emosional saat menang dengan medali emas pertama saya dan menorehkan sejarah. Terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia atas dukungannya, kepada mereka yang menonton di rumah," kata Rizki dikutip dari Reuters.
"Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan saya. Anda melihat saya menangis karena ini merupakan pengalaman yang sangat emosional dan indah dan saya sudah menatap masa depan," ucap Rizki.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.