Setelah 72 bulan beruntun surplus, neraca perdagangan Indonesia defisit
Defisit migas mencapai US$3,76 miliar, terutama dipicu impor hasil minyak dan minyak mentah saat harga energi global naik.
Kontainer diturunkan dari kapal ke truk di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, 12 Februari 2025. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan /File Photo)
JAKARTA: Rekor surplus neraca perdagangan Indonesia selama 72 bulan berturut-turut berakhir pada Mei 2026 setelah lonjakan impor, terutama bahan bakar minyak (BBM), membuat nilai impor melampaui ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit tersebut mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan nilai ekspor Indonesia pada Mei mencapai US$23,20 miliar, lebih rendah dibandingkan nilai impor yang sebesar US$24,81 miliar.
“Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7).
Secara tahunan, nilai impor meningkat tajam 22,16 persen, sementara ekspor turun 5,73 persen.
BPS mencatat defisit terutama berasal dari sektor migas yang membukukan defisit sebesar US$3,76 miliar, dengan penyumbang terbesar berasal dari impor hasil minyak dan minyak mentah.
IMPOR BBM MELONJAK TAJAM
Data BPS menunjukkan impor migas Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$4,51 miliar, relatif stabil dibandingkan April yang sebesar US$4,59 miliar.
Namun dibandingkan Mei 2025, nilainya melonjak sekitar 71 persen dari US$2,64 miliar.
Kenaikan paling tajam terjadi pada impor hasil minyak atau BBM.
Nilai impor BBM mencapai US$3,81 miliar pada Mei 2026, naik dari US$3,51 miliar pada April. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$1,91 miliar, nilainya hampir dua kali lipat.
Meski demikian, perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar US$2,50 miliar.
Surplus tersebut ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.
“Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus sebesar US$2,50 miliar dengan komoditas penyumbang surplus terutama dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, serta dari besi dan baja,” ujar Ateng.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus sebesar US$4,03 miliar sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Namun capaian tersebut jauh lebih rendah dibandingkan surplus US$15,38 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
BPS juga mencatat China menjadi penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia, sedangkan Amerika Serikat tetap menjadi penyumbang surplus terbesar.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai defisit perdagangan dipicu melonjaknya harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan nilai impor migas.
“Dugaan saya karena itu, karena kita impor migas harganya lagi naik kan,” kata Purbaya.
Menurut dia, neraca perdagangan berpeluang kembali membaik apabila harga minyak dunia mulai menurun.