Baru 45 hari menjabat, Bos MBG Nanik S Deyang mundur karena alasan kesehatan
Selama menjabat, Nanik memimpin reformasi dapur MBG, menindak ratusan fasilitas bermasalah, dan mengarahkan program ke kelompok rentan.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyapa Nanik Deyang, Kepala Badan Gizi Nasional, dalam acara 'Membangun Generasi Masa Depan Indonesia Melalui Gizi' di Bogor, Jawa Barat, pada 3 Juni 2026. (Foto: Biro pers Sekretariat Negara)
JAKARTA: Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang mengundurkan diri setelah hanya 45 hari menjabat. Keputusan itu diambil karena alasan kesehatan, di tengah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali menghadapi pemangkasan anggaran.
Melalui unggahan di Facebook pada Rabu (22/7), Nanik mengungkapkan dirinya mengidap penyakit jantung dan akan berangkat ke luar negeri pada hari yang sama untuk mendapatkan pendapat medis kedua.
"Dengan berat hati saya berpamitan kepada Bapak Presiden untuk berobat ke luar negeri terkait penyakit jantung saya. Hari ini, Rabu, saya berangkat," tulis Nanik.
Nanik mengatakan keputusan menjalani pengobatan di luar negeri didasarkan pada rekomendasi rekan-rekannya, bukan karena tidak memercayai kemampuan dokter di Indonesia.
Ia juga mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui pengunduran dirinya. Meski demikian, Prabowo disebut memintanya tetap mengawasi Badan Gizi Nasional.
"Beliau meminta saya tetap mengawasi BGN. Kemungkinan Presiden akan membentuk dewan pengawas, dan saya diminta menjadi ketuanya," kata Nanik.
"Kalau hanya memberi masukan dan mengawasi, saya masih sanggup. Asal tidak mengurus uang.... Saya trauma," tambahnya.
Nanik ditunjuk memimpin BGN pada 8 Juni 2026 setelah pemerintah melakukan perombakan besar menyusul pengusutan dugaan korupsi dalam Program MBG. Kepala BGN sebelumnya, Dadan Hindayana, diberhentikan dan ditangkap bersama dua deputinya atas dugaan penyalahgunaan dana program tersebut.
Nanik menjadi satu-satunya deputi yang tetap dipertahankan oleh Prabowo.
Selama menjabat, Nanik memimpin evaluasi besar terhadap infrastruktur Program MBG. Berdasarkan laporan Antara, BGN mengevaluasi hampir 28.000 dapur umum di seluruh Indonesia, menetapkan klasifikasi mutu bagi sekitar 3.000 dapur, serta menghentikan ekspansi di wilayah yang dinilai telah memiliki kapasitas berlebih.
ANGGARAN MBG KEMBALI DIPANGKAS
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Rabu, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan mengatakan berbagai langkah reformasi yang dilakukan Nanik berhasil menghemat anggaran hingga ratusan miliar rupiah.
Ia menyebut Nanik menindak 414 dapur bermasalah, membentuk 11 tim reformasi internal, serta mengarahkan kembali program pangan nasional agar lebih berfokus pada kelompok masyarakat rentan.
Pengunduran diri Nanik terjadi ketika Program Makan Bergizi Gratis kembali menghadapi pengurangan anggaran.
Pada Selasa (21/7), pemerintah dilaporkan memangkas anggaran program tersebut menjadi Rp229 triliun dari sebelumnya Rp268 triliun. Sejumlah pejabat BGN juga menyebut nilai tersebut masih berpotensi berubah apabila efisiensi kembali dilakukan.
Program Makan Bergizi Gratis sebelumnya memperoleh alokasi Rp335 triliun pada 2026 dengan target menjangkau 83 juta penerima manfaat hingga akhir tahun. Namun, anggaran tersebut secara bertahap dikurangi sebagai bagian dari upaya efisiensi belanja negara.
Reuters sebelumnya melaporkan pada Juni bahwa BGN tengah mengupayakan penghematan anggaran lebih dari US$2 miliar, termasuk melalui pengurangan jumlah penerima manfaat dan operator dapur.
Dalam konferensi pers pada Selasa, Sekretaris BGN Lili Khamiliyah mengatakan Presiden Prabowo memberikan waktu satu bulan kepada BGN untuk menetapkan besaran anggaran final setelah evaluasi internal selesai dilakukan.
Ia menjelaskan angka Rp229 triliun masih bersifat sementara dan masih terbuka ruang untuk efisiensi lebih lanjut.
"Akan ada pengurangan jumlah penerima manfaat. Presiden tidak lagi menargetkan angka tertentu, tetapi menginginkan peningkatan kualitas agar tidak ada lagi kasus keracunan makanan," kata Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari dalam konferensi pers yang sama.
Sejak diluncurkan pada Januari 2025, program ini menjadi sorotan publik.
Salah satunya menyusul sejumlah kasus dugaan keracunan makanan yang, menurut Network for Education Watch, telah memengaruhi sedikitnya 33.000 anak hingga April lalu.
Dalam pernyataannya, Nanik menegaskan akan tetap mendukung upaya Prabowo meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis.
"Saya akan terus berjuang dan mendukung Bapak Presiden yang saat ini bekerja tanpa lelah untuk meningkatkan kehidupan rakyat Indonesia," katanya.
"Selama 14 tahun bekerja bersama beliau, saya tahu betul bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak pernah dirancang untuk tujuan politik, seperti yang dituduhkan sebagian pihak," lanjutnya.
"Program ini benar-benar dirancang sebagai intervensi gizi agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi emas sekaligus memiliki kesehatan yang lebih baik."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.