Muntah-muntah, 400 pelajar keracunan Makan Bergizi Gratis di Tasikmalaya
Rangkaian kasus keracunan MBG terjadi di beberapa daerah mulai dari Tasikmalaya, Cianjur, Bandung, hingga Karanganyar.
TASIKMALAYA: Sebanyak 400 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan di Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan di sekolah pada 30 April.
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tasikmalaya per Jumat (2/5), para korban terdiri dari siswa taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), madrasah ibtidaiyah (MI), hingga sekolah menengah pertama (SMP).
Puluhan siswa dengan gejala seperti diare hebat dan muntah-muntah dilarikan ke Puskesmas Rajapolah pada Kamis malam (1/5). Dari 24 siswa yang datang ke puskesmas, delapan orang harus menjalani rawat inap, dan satu siswa dirujuk ke rumah sakit karena kondisi yang memburuk.
Epi Edwar Lutpi, Kepala Bidang Pengawasan Fasilitas, Layanan Kesehatan, dan Tempat Usaha di Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan investigasi menyeluruh.
“Kami sedang melaksanakan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui sebaran kasus dan sumber penyebabnya. Selain itu, inspeksi langsung dilakukan ke dapur tempat MBG diproduksi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga distribusinya,” jelas Epi. Ia menambahkan bahwa inspeksi tersebut turut melibatkan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Tasikmalaya.
Salah satu orang tua korban, Rosita, menceritakan kepada CNN Indonesia bahwa kedua anaknya yang bersekolah di SMPN 1 Rajapolah turut menyantap menu MBG.
Salah satu dari mereka mengalami diare parah hingga mengalami dehidrasi.
“Anak saya mulai diare jam 10 malam, terus-terusan BAB sampai akhirnya kami bawa ke puskesmas. Barusan kata dokter, anak saya mulai dehidrasi dan harus diinfus,” ujar Rosita.
Ia menambahkan bahwa sang kakak hanya memakan sebagian menu MBG, sedangkan adiknya menghabiskan seluruh porsinya. Akibatnya, hanya sang adik yang menunjukkan gejala keracunan.
DERETAN KASUS SERUPA DI DAERAH LAIN.
Insiden di Rajapolah menambah daftar panjang kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis dalam beberapa pekan terakhir. Pada 20 April lalu, sebanyak 78 siswa dari dua SMA di Cianjur juga mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan program MBG.
Kasus lain terjadi di SDN 4 Wonorejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kepala sekolah Damiyati (56) bersama dua siswanya menderita sakit perut dan diare setelah menyantap menu MBG pada 24 April.
Menurut Damiyati, makanan yang terdiri dari ayam, soto, dan susu itu tampak normal, namun kemudian ia menyadari daging ayam terasa hambar dan kuah soto mengeluarkan bau asam.
Investigasi internal sekolah menunjukkan bahwa daging ayam telah dimasak sejak malam sebelumnya, sementara kuah soto baru dimasak pada pagi hari. Diduga, kuah yang dibungkus dalam kondisi panas mengalami proses pembusukan.
Serangkaian kasus keracunan ini memunculkan kekhawatiran publik terhadap sistem pengadaan dan distribusi makanan dalam program MBG. Dugaan sementara mengarah pada makanan basi atau kontaminasi bakteri akibat penanganan yang kurang higienis dan tidak sesuai standar keamanan pangan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.