22 tahun mangkrak, tiang monorel Jakarta akhirnya dibongkar
Pembongkaran merupakan bagian dari penataan menyeluruh kawasan Jalan HR Rasuna Said yang ditargetkan rampung pada September 2026.
Petugas Dinas Bina Marga DKI Jakarta mengangkut besi tiang monorel yang dibongkar setelah mangkrak 22 tahun. (Jakartaterkini.id)
JAKARTA: Tiang-tiang monorel yang selama bertahun-tahun terbengkalai di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, mulai dibongkar pada Rabu (14/1).
Pembongkaran ini menandai akhir dari proyek transportasi massal yang tak pernah terealisasi dan lama dianggap mengganggu wajah ibu kota.
Pembongkaran merupakan bagian dari penataan menyeluruh kawasan Jalan HR Rasuna Said yang ditargetkan rampung pada September 2026.
Total terdapat 109 tiang monorel yang dipangkas, dimulai dari Halte Setiabudi hingga kawasan Grand Melia.
Pekerjaan dilakukan pada malam hari, pukul 22.00 hingga 05.00 WIB, untuk meminimalkan gangguan arus lalu lintas. Berdasarkan hasil asesmen, kebijakan ini diperkirakan dapat meningkatkan kinerja lalu lintas di Rasuna Said hingga sekitar 18 persen.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung proses pembongkaran bersama Wakil Gubernur Rano Karno, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, serta pejabat Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Pramono pertama kali menyampaikan rencana pembongkaran tiang monorel mangkrak tersebut pada Mei 2025. Ia menilai keberadaan tiang-tiang itu mengganggu keindahan kota dan mempersempit ruang jalan, sehingga perlu ditata ulang dengan dasar hukum yang jelas.
“Semuanya akan ditata rapi dan saya meyakini ini akan membuat Jalan Rasuna Said menjadi jalan yang semakin baik dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang,” kata Pramono dikutip Kompas.com.
PENATAAN KAWASAN DAN JEJAK PANJANG PROYEK MONOREL
Pramono menegaskan tidak ada penutupan jalan selama proses pembongkaran. Rekayasa lalu lintas hanya dilakukan secara terbatas di jalur lambat dan bersifat situasional sesuai titik pengerjaan.
“Saya sudah minta ke Bina Marga dan Perhubungan untuk pengaturan lalu lintas supaya tidak macet. Karena ini jalan utama kita,” ujarnya.
Biaya pembongkaran tiang monorel mencapai Rp254 juta. Sementara anggaran total penataan kawasan Rasuna Said secara menyeluruh mencapai Rp102 miliar, mencakup perbaikan jalan, trotoar, saluran air, taman, penerangan, dan estetika kawasan.
Pramono mengakui proses pembongkaran ini melalui tahapan panjang. Seluruh langkah dilakukan dengan pendampingan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan KPK untuk memastikan tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.
Besi hasil pembongkaran akan diserahkan kepada PT Adhi Karya selaku pemilik monorel.
Tiang-tiang monorel tersebut berasal dari proyek yang diluncurkan pada 2004 di era Gubernur Sutiyoso.
Saat itu, PT Adhi Karya ditunjuk membangun sistem monorel yang direncanakan menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga. Tiang pancang pertama bahkan sempat diresmikan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.
Namun proyek terhenti pada 2007 akibat konflik hukum antara kontraktor dan pelaksana.
Upaya menghidupkan kembali proyek dilakukan pada 2013 oleh Gubernur Joko Widodo melalui kerja sama dengan PT Jakarta Monorail, tetapi kembali buntu enam bulan kemudian karena tidak tercapai kesepakatan dengan investor.
Wacana pembongkaran juga pernah muncul pada era Gubernur Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama.
Rencana tersebut kandas setelah negosiasi dengan PT Jakarta Monorail tidak menemukan titik temu terkait nilai kompensasi.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.