Merger Pelita Air dan Garuda jalan terus, apa alasan Danantara?
Merger ini mendapat penolakan sejumlah pihak termasuk dari legislator Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
JAKARTA: Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) akhirnya angkat bicara soal rencana penggabungan usaha atau merger antara PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan Pelita Air, maskapai penerbangan yang saat ini berada di bawah naungan PT Pertamina (Persero).
Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, menjelaskan bahwa langkah merger kedua maskapai pelat merah tersebut perlu dilakukan untuk menghindari praktik kanibalisme pasar di industri penerbangan nasional.
Menurutnya, merger ini akan menjadi bagian dari strategi penataan bisnis BUMN berdasarkan sektor usahanya.
“Tidak lucu kalau Pelita berada di sektornya sendiri, karena Pelita adalah bagian dari bisnis penerbangan. Dalam rencana ini akan dipastikan tidak terjadi saling kanibal. Garuda dan Citilink saja tidak kami izinkan saling mengambil pasar, apalagi nanti dengan Pelita,” jelas Febriany, dikutip dari MSN Indonesia, akhir pekan lalu.
FOKUS HILANGKAN KOMPETISI INTERNAL DAN PERKUAT SINERGI
Febriany menegaskan bahwa konsep sinergi antar-BUMN menjadi prinsip utama dalam penggabungan usaha tersebut.
Menurutnya, proses integrasi harus dieksekusi terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap berikutnya agar tidak menimbulkan persaingan internal antarentitas di bawah holding.
“Bagian terpenting dari proses streamline ini adalah menghilangkan kompetisi internal dan potensi saling kanibal,” tekannya.
Meskipun demikian, Febriany belum memberikan bocoran mengenai segmentasi dan branding pasca-merger antara Garuda dan Pelita Air.
“Bagaimana segmentasinya, branding-nya, tunggu saja,” katanya.
Febriany juga menilai Pelita Air memiliki sejumlah praktik terbaik (best practices) yang bisa diadopsi oleh entitas lain di sektor maskapai pelat merah.
“Begitu pula sebaliknya, ada praktik baik di Citilink dan Garuda yang bisa memberikan manfaat bagi Pelita Air. Jadi di sini kami saling memperkuat,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa keputusan final merger akan ditentukan oleh Danantara Indonesia.
Menurut Simon, pembahasan terkait rencana merger telah dilakukan antara Pertamina dan Garuda Indonesia, termasuk penyusunan tahapan penggabungan bisnisnya.
Danantara saat ini juga tengah menjalankan transformasi besar-besaran untuk menyehatkan kondisi keuangan Garuda Indonesia. Maskapai pelat merah tersebut diketahui memiliki utang sebesar US$8,28 miliar (sekitar Rp138,49 triliun) dan mencatat kerugian US$182,53 juta (Rp3,05 triliun) hingga kuartal ketiga 2025.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), disetujui penyertaan modal senilai Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management (DAM).
Danantara memastikan proses restrukturisasi tidak menimbulkan beban fiskal baru bagi negara.
Selain itu, Garuda Indonesia telah melakukan sejumlah aksi korporasi, mulai dari pendanaan langsung untuk operasional, skema pembayaran utang bahan bakar, hingga penyertaan aset berupa lahan dari anak usahanya, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.