Menteri PPPA minta maaf atas usulan gerbong perempuan dipindah ke tengah rangkaian
Usulan sebelumnya disampaikan menyusul insiden tabrakan yang menimpa gerbong kereta khusus perempuan di Bekasi.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. (Foto:Instagram/arifah.fauzi)
JAKARTA: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyampaikan permintaan maaf setelah usul memindahkan gerbong perempuan ke tengah rangkaian kereta, pascakecelakaan yang menewaskan 16 orang, menuai kritik.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya dan KemenPPPA, Arifah "menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat".
"Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut," kata Arifah.
"Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya."
Pada Selasa lalu (28/4), setelah menjenguk korban kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek di RSUD Bekasi, Arifah mengusulkan penempatan gerbong khusus perempuan “di tengah, jadi laki-laki di ujung.”
Dalam insiden tabrakan tersebut, kereta Argo Bromo menabrak gerbong paling belakang yang merupakan gerbong khusus perempuan dari KRL yang tengah terhenti di Stasiun Bekasi Timur. Ke-16 korban tewas seluruhnya adalah perempuan, puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Usulan tersebut menuai kritikan dari masyarakat, termasuk dalam bentuk meme di media sosial, yang menganggap Arifah tidak menghargai nyawa laki-laki. Para pengkritik mengatakan bahwa nyawa perempuan dan lelaki sama berharganya.
Dalam permintaan maafnya, Arifah mengatakan bahwa keselamatan adalah prioritas nomor satu, baik perempuan dan laki-laki.
"Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, yang menjadi fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak. Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki," kata dia.
Arifah mengatakan kementeriannya hadir untuk memastikan hak korban dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dalam tragedi ini tidak terabaikan.
"Kami sangat berduka atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa ini. Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis, perlindungan, serta dukungan yang diperlukan, khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma akibat peristiwa ini," kata dia.
Gerbong khusus perempuan sendiri telah diterapkan sejak 2012 dan ditempatkan di kedua ujung rangkaian kereta komuter.
Djoko Setijowarno, pakar transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Jawa Tengah, mengatakan penempatan tersebut memudahkan akses bagi perempuan karena gerbong itu biasanya paling dekat dengan pintu masuk dan keluar. Selain itu, petugas keamanan juga lebih mudah memasang pembatas di peron tanpa mengganggu pergerakan penumpang.
“Jika gerbong khusus perempuan berada di tengah, akan sulit memisahkan penumpang perempuan dari kerumunan,” kata pakar transportasi Djoko.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.