Skip to main content
Iklan

Indonesia

Menteri Agama Nasaruddin susun kurikulum cinta, apa itu?

Kurikulum cinta akan menggantikan kurikulum pendidikan agama saat ini yang terlalu menekankan perbedaan.

Menteri Agama Nasaruddin susun kurikulum cinta, apa itu?
Paus Fransiskus menghadiri pertemuan antar agama bersama Imam Besar Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal Jakarta, Indonesia, 5 September 2024. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)
06 Dec 2024 02:48PM (Diperbarui: 06 Dec 2024 03:28PM)

JAKARTA: Menteri Agama Nasaruddin Umar mengusulkan penyusunan kurikulum berbasis cinta.

“Kami sedang menyoroti kurikulum dari tingkat bawah hingga atas, mencoba merumuskan kurikulum berbasis cinta,” ungkap Nasaruddin dikutip Kumparan dalam Sidang Tanwir PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis (5/12).

Kurikulum cinta ini juga dimaksudkan sebagai kritik terhadap penerapan kurikulum pendidikan saat ini, terutama di bidang agama.

Menurut Nasaruddin, kurikulum pendidikan agama yang dijalankan sekarang cenderung terlalu menonjolkan perbedaan, yang berpotensi memunculkan kebencian antarumat beragama.

“Selama ini, banyak guru agama yang mengajarkan bahwa agama Islam adalah agama paling benar, sedangkan agama lain dianggap sesat,” kritik Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Ia menekankan bahwa pendekatan seperti itu dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada pola pikir anak-anak.

“Jika sejak dini anak-anak diajarkan dan ditanamkan tentang perbedaan yang divisif dan kurikulum kebencian satu sama lain, apa jadinya? mereka akan membawa pandangan itu hingga dewasa, sehingga sulit membangun persatuan,” tambahnya.

Melalui kurikulum cinta, Nasaruddin berharap murid-murid dapat diajarkan untuk menghargai perbedaan tanpa menyamakan semua agama.

“Tetapi sekali lagi dengan tetap memperhatikan bahwa tidak boleh sama sekali juga menyamakan semua agama, karena itu bisa orang mudah pindah-pindah agama,” tegasnya.

Lebih lanjut, menteri berusia 65 tahun itu menekankan pentingnya konsolidasi ajaran agama secara mendalam kepada masyarakat.

“Semakin kita memahami dan menjalankan ajaran agama masing-masing dengan baik, semakin damai dunia ini,” tambahnya, dilansir dari Disway.

Ia berharap kurikulum berbasis cinta ini dapat menanamkan pola pikir inklusif pada generasi muda Indonesia, sehingga mereka mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan bangsa yang harus dihargai.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan