Menkes BGS: Super Flu tidak seganas COVID-19, masyarakat diminta tetap tenang
Menkes menekankan pentingnya makan, tidur, dan olahraga yang cukup, untuk menjaga sistem imun.
Virus influenza tipe A subtipe H3N2 (iStock)
JAKARTA: Temuan super flu di Indonesia belakangan memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) menegaskan varian tersebut tidak lebih mematikan dibandingkan influenza biasa, COVID-19, maupun tuberkulosis atau dibandingkan penyakit pernapasan lain yang telah lama ada.
“Apakah ini mematikan dibanding COVID? Tidak,” tekannya.
BGS menjelaskan super flu sejatinya merupakan influenza tipe A dengan subtipe H3N2 yang sudah lama dikenal dalam dunia medis. Subclade K disebut hanya salah satu varian dari virus tersebut, serupa dengan kemunculan berbagai varian pada virus COVID-19 selama masa pandemi.
Diwartakan Media Indonesia, Minggu (5/1), Menkes menyampaikan mekanisme penularan super flu sama seperti influenza pada umumnya, yakni melalui udara atau droplet. Karena itu, ia menekankan pentingnya kesadaran personal untuk mencegah penularan, terutama bagi masyarakat yang mulai merasakan gejala batuk dan demam.
“Ini influenza biasa dan sudah ada sejak lama,” ujarnya.
Hingga Desember 2025, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat 62 kasus super flu di Indonesia. Mayoritas kasus ditemukan pada kelompok perempuan dan anak-anak.
“Ini kan ada Omicron, Delta, inget kan dulu kan? Ini sama. Ini virusnya H3N2. Kalau dulu kan virusnya COVID-19,” lanjut Menkes.
TETAP WASPADA TANPA KHAWATIR
Menkes mengimbau masyarakat untuk tetap waspada tanpa harus khawatir berlebihan. Ia menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.
“Jadi yang paling penting adalah makan yang cukup, tidur yang cukup, dan olahraga yang cukup, supaya imun sistem kita bagus. Sistem imun kita kalau kena flu bisa dilawan oleh tiga hal tersebut,” saran BGS.
Kemenkes juga menyatakan vaksin influenza tahunan yang tersedia saat ini masih efektif untuk menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat super flu.
Jika terinfeksi, Menkes menyebut gejala super flu akan muncul seperti flu biasa dan umumnya dapat pulih tanpa komplikasi berat.
“Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19 mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa, influenza H3N2,” imbuhnya.
Ia menambahkan H3N2 merupakan virus influenza yang setiap tahun cenderung meningkat di negara-negara dengan empat musim, terutama saat musim dingin. Sementara di Indonesia, peningkatan kasusnya dinilai tidak terlalu signifikan dan masih dapat ditangani oleh sistem kesehatan yang ada.
Karena itu, negara-negara dengan empat musim secara rutin melakukan vaksinasi influenza tahunan untuk menekan angka penularan serta mencegah keparahan penyakit.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.