Skip to main content
Iklan

Indonesia

Mengkhawatirkan! 70% pasien Indonesia kebal antibiotik

Penggunaan antibiotik secara sembarangan diduga menjadi penyebab utama munculnya masalah resistensi.

Mengkhawatirkan! 70% pasien Indonesia kebal antibiotik
Ilustrasi resistensi antibiotik (iStock)
23 Sep 2024 09:20AM (Diperbarui: 23 Sep 2024 12:15PM)

JAKARTA: Jumlah warga Indonesia yang mengalami resistensi terhadap antibiotik (antimicrobial resistance/AMR) terus meningkat.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Azhar Jaya, SH, SKM, MARS, menguraikan kasus resistensi antimikroba yang terdeteksi sejauh ini terjadi pada dua jenis bakteri yakni Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae.

"Pada tahun 2023, di 24 rumah sakit sentinel, tercatat 70,75% kasus resistensi terhadap Extended-spectrum Beta-Lactamase (ESBL), jauh di atas target yang ditetapkan sebesar 52% untuk tahun 2024. Ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam resistensi antimikroba," jelas dr. Azhar kepada Bloomberg Technoz pekan lalu.

Dua bakteri ini dapat menyebabkan infeksi serius dan berpotensi fatal, menyerang seluruh sistem organ tubuh manusia.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai resistensi mikroba di Indonesia, pemerintah berencana melakukan pengukuran ESBL di 56 rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, pada akhir tahun 2024.

Data terbaru dari WHO Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System (GLASS) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa resistensi antimikroba pada Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae di Indonesia terdeteksi melalui pemeriksaan spesimen darah dan urine pasien yang terinfeksi AMR.

Penggunaan antibiotik secara sembarangan diduga menjadi penyebab utama munculnya masalah resistensi ini.

Resistensi antimikroba mengakibatkan pengobatan menjadi kurang efektif dan memperpanjang waktu perawatan.

Pasien yang terinfeksi AMR membutuhkan perawatan yang lebih intensif, menggunakan antibiotik yang mungkin memiliki efek samping berat serta risiko toksisitas.

Selain itu, penyebaran infeksi mikroba yang resisten di lingkungan rumah sakit menjadi tantangan tersendiri.

"Merawat pasien dengan infeksi AMR sangat sulit. Pilihan obat yang efektif sering kali terbatas dan mahal, sementara patogen bisa saja resisten terhadap antibiotik yang tersedia. Proses penegakan diagnosis juga kerap berjalan lambat," beber dr. Azhar kepada detikHealth.

Ia menambahkan, diperlukan pemeriksaan kultur dan uji kepekaan untuk kasus pasien dengan resistensi mikroba, yang tentunya akan memperpanjang waktu pengobatan karena harus menunggu hasil yang akurat.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan