Mengapa suhu Jakarta semakin panas membara? Ini penyebabnya
Suhu Jakarta meningkat signifikan sebesar 1,6 derajat Celsius dalam 130 tahun terakhir.
JAKARTA: Suhu Jakarta semakin hari semakin terasa gerah. Panasnya terik matahari menyengat hampir setiap hari di ibu kota.
Apa yang menyebabkan udara Jakarta begitu sangat luar biasa panas membara?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan dalam webinar bertajuk 'Urban Climate of Jakarta city: from the last 130 years to the end of 21st Century', mengutip laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bahwa suhu permukaan Jakarta meningkat signifikan sebesar 1,6 derajat Celsius dalam 130 tahun terakhir.
Kenaikan suhu tersebut bahkan lebih tinggi dibanding laju kenaikan suhu global dan regional.
PERUBAHAN LANSKAP JAKARTA
Penyebabnya, Praktisi Cuaca dan Iklim Ekstrem BMKG Siswanto, menjelaskan adalah karena perubahan lanskap Jakarta, dari yang sebelumnya dominan vegetasi tumbuhan menjadi kawasan properti.
Iklim Jakarta, sambungnya, telah berubah signifikan seiring dengan pertumbuhan kota.
Pertumbuhan kota ini ditandai dengan urbanisasi serta penggunaan semua properti di dalam perkotaan seperti energi, tata kelola air, dan tata kelola lahan.
“Perubahan lingkungan kompatibel dengan perubahan iklim atau perubahan suhu, dalam hal ini yang terjadi di Jakarta,” papar Siswanto.
Berdasarkan hasil pencitraan satelit Landsat untuk Jakarta pada tahun 1972, ibu kota masih didominasi vegetasi dengan kawasan terbangun masih sangat minim.
Satu dekade kemudian, pada tahun 1982, vegetasi hijau masih mendominasi ibu kota.
Suhu belum banyak berubah dengan rata-rata 28 derajat Celsius, meskipun suhu maksimum bertambah rata-ratanya dari 31,7 derajat Celsius menjadi 32,2 derajat Celsius.
Sedangkan untuk suhu minimum juga hanya naik tipis dari 24,3 derajat Celsius menjadi 24,7 derajat Celsius.
Perubahan lanskap mulai terlihat satu dekade kemudian pada tahun 1997.
Lanskap ibu kota mulai didominasi oleh kawasan hunian yang sangat ekspansif.
Rata-rata suhu udara naik sekitar 0,4 derajat Celsius menjadi 28,4 derajat Celsius.
Berselang satu dekade kemudian pada tahun 2005, perkembangan kawasan hunian Jakarta semakin menggurita dan ekspansif hingga tahun 2014.
Kawasan hunian semakin padat tak hanya di dalam Jakarta, tetapi juga sampai keluar batas Jakarta.
Pada tahun 2018, gunung-gunung atau perbukitan di wilayah Bogor yang tadinya bisa terlihat dari Jakarta sudah menghilang dari pandangan mata.
Kenaikan suhu permukaan secara drastis tersebut, menyebabkan curah hujan ekstrem di Jakarta mengalami tren peningkatan secara signifikan dengan sifat curah hujan yang mengalami perubahan.
Misalnya, hujan semakin deras, namun durasi lebih pendek.
Selain itu, curah hujan juga meningkat saat pagi hari dan pergeseran hujan siang ke malam hari, serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan pada musim hujan.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.