Skip to main content
Iklan

Indonesia

Mengapa masih banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri? Ini jawaban Kemenkes

Indonesia sebenarnya menunjukkan kemajuan signifikan dalam produksi alat kesehatan (alkes) dalam negeri.

Mengapa masih banyak orang Indonesia berobat ke luar negeri? Ini jawaban Kemenkes
Rumah Sakit Hasan Sadikin (Kementerian Kesehatan)

JAKARTA: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia menyoroti fenomena masih banyaknya masyarakat yang lebih memilih berobat ke luar negeri dibandingkan di rumah sakit dalam negeri.

Direktur Jenderal Alat Kesehatan Kemenkes RI, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan salah satu penyebab utama tren tersebut adalah terbatasnya akses terhadap teknologi kesehatan inovatif di Indonesia.

“Kalau untuk mendapatkan akses teknologi kesehatan inovatif, apakah itu alat kesehatan atau obat-obatan, masih sulit di Indonesia, ya pasti orang akan berobat ke luar negeri karena di sana lebih mudah,” ungkap Rizka, diwartakan detikHealth, Minggu (26/10).

KETERBATASAN TEKNOLOGI JADI FAKTOR UTAMA

Menurut Rizka, persoalan ini tidak hanya soal preferensi pasien, melainkan cerminan dari lambatnya adopsi teknologi kesehatan mutakhir di rumah sakit dalam negeri. Hal ini berdampak langsung terhadap kecepatan dan kualitas layanan kepada pasien.

“Misalnya untuk radioterapi, di Indonesia harus antre berminggu-minggu, bahkan berbulan. Sementara di negara tetangga bisa cepat. Itu yang membuat orang akhirnya memilih berobat ke luar negeri,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan di sektor layanan, Rizka menegaskan bahwa dari sisi produksi alat kesehatan (alkes) dalam negeri, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan.

Sebelum pandemi COVID-19, hanya terdapat sekitar 400 industri alat kesehatan di Indonesia, sebagian besar masih bergantung pada impor. Kini, jumlah tersebut meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 815 industri.

Selain itu, belanja alat kesehatan dalam negeri dalam tiga tahun terakhir juga naik hingga 3,4 kali lipat dibandingkan tahun 2019 — menunjukkan potensi besar menuju kemandirian sektor kesehatan nasional.

Untuk memperkuat ekosistem industri lokal, Kemenkes menerapkan strategi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan kebijakan freeze-unfreeze terhadap produk impor.

Langkah penting lainnya adalah business matching antara produsen alat kesehatan lokal dan fasilitas layanan kesehatan (faskes).

“Kalau tidak ada business matching, industri dan rumah sakit tidak saling tahu. Misalnya ada yang bikin hospital bed elektrik otomatis di dalam negeri, tapi rumah sakit tidak tahu, akhirnya tetap beli impor,” jelas Rizka.

Upaya ini diharapkan dapat memperluas penggunaan produk alkes buatan Indonesia di rumah sakit nasional, sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor.

Pertumbuhan industri alat kesehatan lokal menandakan Indonesia memiliki kapasitas besar untuk berdikari di bidang kesehatan. Namun, akses cepat, efisiensi layanan, dan percepatan adopsi teknologi masih menjadi titik lemah yang harus dibenahi.

“Pemerintah berupaya keras agar masyarakat bisa mendapatkan akses terhadap teknologi inovatif secepat mungkin, supaya mereka bisa berobat di Indonesia dengan kualitas yang sama seperti di negara lain,” tutup Rizka.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan