analisis Indonesia
Mengapa isu merger Grab–GoTo kembali muncul, tekanan finansial, politik, atau ada motif lain?
Wacana soal kemungkinan merger antara raksasa teknologi Grab dan GoTo telah dimulai sejak Februari 2020. Dengan dukungan dari pemerintah, apakah kini akan terealisasi?
Jutaan orang di Indonesia menggunakan jasa ojek online (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)
JAKARTA: Perusahaan transportasi online, kurir makanan dan barang GoTo akan memiliki CEO baru setelah Patrick Sugito Walujo yang sudah menjabat 2,5 tahun mundur pada akhir November lalu. Mundurnya Patrick kian memicu spekulasi bahwa merger GoTo dengan Grab dalam pembahasan dan sudah semakin dekat.
Rencana merger dua perusahaan itu pertama kali mencuat enam tahun lalu pada Februari 2020. Media Bloomberg yang mengutip sumber anonim melaporkan bahwa mundurnya CEO GoTo menunjukkan rencana merger sudah "semakin maju", mengingat Patrick adalah orang yang menolak rencana penggabungan tersebut.
Dalam pernyataan GoTo, Direktur Operasional (COO) Hans Patuwo akan dicalonkan menjadi CEO menggantikan Patrick dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Desember mendatang.
Di luar perubahan pimpinan, para analis melihat konfirmasi pemerintah soal pembicaraan merger sebagai sinyal kuat kemungkinan penyatuan dua raksasa teknologi itu. Sebelumnya, pemerintah tidak pernah mengomentari isu merger tersebut.
Prasetyo Hadi, Menteri Sekretaris Negara merangkap juru bicara kepresidenan, mengatakan pada 7 November bahwa beberapa kementerian tengah membahas potensi merger perusahaan Indonesia dan Singapura tersebut dan keputusan akan segera diambil.
Prasetyo juga mengatakan bahwa Danantara kemungkinan akan ikut terlibat dalam kesepakatan.
Sepekan sebelumnya, Prasetyo juga mengatakan bahwa pemerintah tengah menggodok peraturan terkait transportasi online, guna meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan terhadap para pengemudi ojek online (ojol).
Pada 12 November lalu, juru bicara GoTo mengatakan bahwa perusahaan konsisten mendukung kebijakan pemerintah yang menguntungkan para mitra ojol dan pelaku UMKM.
Pemerintahan Prabowo Subianto sebelumnya diguncang aksi protes para driver ojol pada Agustus dan September, yang dipicu tewasnya driver akibat terlindas kendaraan polisi dalam aksi memprotes fasilitas mewah anggota DPR pada 28 Agustus lalu.
Para analis sebelumnya mengatakan kepada CNA bahwa kecepatan mobilisasi para driver telah menarik perhatian politisi, menandakan bahwa mereka bukan lagi sekadar penyedia layanan yang tak terlihat, melainkan kekuatan politik yang perlu diperhitungkan.
Artinya, nasib para driver ojol secara tidak langsung mempengaruhi keberlanjutan finansial perusahaan yang mempekerjakan mereka, dan itu telah menjadi isu politik.
Para analis mengatakan bahwa GoTo mencatat kerugian besar selama beberapa tahun berturut-turut, dan merger dengan perusahaan lain bisa jadi salah satu jalan untuk memperbaiki kinerja keuangannya.
Namun, sejumlah analis juga mempertanyakan apakah kesepakatan dengan Grab dapat terealisasi dan apa dampaknya bagi para para driver ojol.
Pakar juga mencatat bahwa pembahasan soal potensi merger muncul bersamaan dengan laporan penyelidikan Kejaksaan Agung atas investasi entitas BUMN di GoTo lima tahun lalu, sehingga memunculkan pertanyaan apakah keduanya saling berkaitan.
Boyamin Saiman, koordinator LSM Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI), mengatakan bahwa merger dapat menggabungkan keuntungan dan kerugian perusahaan.
“Ini juga akan memengaruhi harga saham yang dihasilkan, misalnya bisa lebih rendah atau lebih tinggi.”
MENGAPA ISU MERGER KEMBALI MENCUAT?
GoTo dibentuk pada 2021 melalui merger antara Gojek dan Tokopedia.
GoTo melantai di Bursa Efek Indonesia pada April 2022 dengan harga penawaran umum perdana Rp338 per saham dan valuasi US$28 miliar.
Sejak itu, harga sahamnya turun lebih dari 80 persen dan kini berada di kisaran Rp65 per saham.
Perusahaan membukukan rugi bersih Rp90,5 triliun pada 2023, dua kali lebih besar dari tahun sebelumnya.
Pada 2024, kerugiannya menyusut 96 persen menjadi Rp3,1 triliun. Untuk paruh pertama 2025, GoTo mencatat rugi bersih Rp742 miliar.
Sebagai perbandingan, laporan keuangan Grab mencatatkan rugi setahun penuh sebesar US$158 juta (Rp2,53 triliun) pada 2024, turun dari US$485 juta (Rp7,76 triliun) pada tahun sebelumnya.
Perusahaan itu tercatat di bursa Nasdaq. Per 2 Desember, harga sahamnya berada di sekitar US$5,26 per lembar, turun dari US$11,01 ketika debut pada Desember 2021.
Kapitalisasi pasar Grab saat ini berada di kisaran US$21,5 miliar.
Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan), sedikitnya 2 juta warga Indonesia bekerja sebagai driver ojol, sementara sejumlah perkiraan lain menyebut angkanya mencapai 7 juta orang.
Kompas melaporkan bahwa berdasarkan volume pesanan, Grab menguasai 63 persen pangsa pasar di Indonesia, sedangkan GoTo 36 persen. Sementara itu, untuk volume pesan-antar makanan, Grab memegang pangsa pasar 47 persen dan GoTo 52 persen.
Beberapa operator yang jauh lebih kecil di Indonesia antara lain ShopeeFood, Maxim, dan Bluebird.
Analis mengatakan, banyaknya jumlah driver ojol di Indonesia membuat keberlanjutan finansial platform ride-hailing tidak bisa diabaikan, terutama di tengah kondisi pasar kerja yang lesu.
Merger GoTo–Grab akan menciptakan raksasa platform ride-hailing regional dengan sekitar 85 persen dari pasar senilai US$8 miliar, menurut data firma analitik Euromonitor International.
Ekonom dan pakar kebijakan publik dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan bahwa merger dapat membuat industri lebih efisien.
“Merger dapat meningkatkan efisiensi industri, yang pada akhirnya akan menguntungkan para pemangku kepentingan, termasuk para driver.”
Sebuah kesepakatan bisa menempatkan valuasi GoTo di kisaran US$7 miliar, menurut laporan Reuters yang mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut pada awal tahun ini.
Analis pasar modal Teguh Hidayat dari perusahaan investasi Avere Investama mengatakan perhitungan politik kemungkinan berada di balik pembahasan soal potensi merger.
Ia memandang isu ini tak pernah surut karena merger dianggap satu-satunya jalan realistis, mengingat kerugian yang dialami GoTo dan potensi gejolak sosial jika perusahaan ini tumbang sehingga berdampak kepada kehidupan jutaan driver.
“Kalau aplikasinya ditutup, para driver bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga bisa memicu krisis sosial di Indonesia,” kata Teguh.
“Tapi kalau tetap berjalan sendiri, GoTo akan terus bakar uang.”
Sementara itu, ekonom Yanuar Rizky dari lembaga konsultan Bejana Investidata Globalindo (BIG) mengatakan bahwa kembali mencuatnya isu merger Grab–GoTo sesuai pola umum startup, yakni merger untuk mengangkat harga saham.
Namun, sejumlah analis mempertanyakan waktu kemunculan potensi kesepakatan itu di tengah penyelidikan Kejaksaan Agung.
Pada 12 November, Tempo mengutip Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Anang Supriatna, yang membenarkan adanya penyelidikan tersebut.
“Masih dalam tahap penyelidikan, jadi sifatnya masih tertutup,” kata Anang.
Tempo mengutip sebuah memorandum Kejaksaan Agung tahun 2023 yang menyatakan bahwa jaksa menduga adanya pelanggaran dalam investasi modal Telkomsel senilai US$150 juta ke GoTo pada sekitar 2020 hingga 2021.
Telkomsel, anak usaha perusahaan telekomunikasi BUMN Telkom, menanamkan tambahan US$300 juta setelah merger Gojek dan Tokopedia pada Mei 2021.
Dokumen Kejaksaan Agung yang dikutip Tempo menyebut bahwa Gojek tak pernah membukukan laba sejak 2010, yang menjadi salah satu dasar dugaan adanya pelanggaran tata kelola.
Tempo dan Jakarta Post juga melaporkan bahwa jaksa menduga adanya potensi konflik kepentingan yang melibatkan pejabat negara dan anggota dewan BUMN dalam investasi Telkomsel tersebut.
Boyamin dari MAKI mempertanyakan apakah ada kaitan antara pembicaraan merger dan penyelidikan itu.
Namun, Wijayanto dari Universitas Paramadina menilai merger tidak ada kaitannya dengan penyelidikan Kejagung.
“Itu isu yang terpisah,” ujarnya kepada CNA. “Ide soal merger sudah muncul jauh sebelum isu Telkomsel.”
Saat dihubungi CNA, Grab menolak berkomentar mengenai potensi merger maupun penyelidikan Kejaksaan Agung.
CNA juga menghubungi GoTo untuk menanggapi penyelidikan tersebut, meski perusahaan menolak memberi komentar soal isu merger.
Telkomsel juga menolak memberikan komentar terkait penyelidikan itu.
SEBERAPA BESAR PELUANG MERGER?
Para analis berbeda pendapat soal apakah merger kali ini akan benar-benar terjadi.
Menurut Boyamin, peluang Grab bersedia melakukan merger dengan GoTo kini lebih kecil karena adanya penyelidikan Kejaksaan Agung dan besarnya kerugian GoTo.
“Peluang merger tetap ada, tapi sekarang posisi tawar Grab lebih besar,” ujarnya.
Yanuar Rizky menambahkan bahwa pemerintah kemungkinan menginginkan Danantara dilibatkan sebagai semacam pembeli siaga.
Financial Times sebelumnya melaporkan bahwa kedua perusahaan dapat menawarkan “golden share” kepada Danantara untuk mendapatkan persetujuan merger.
Skema itu mencakup pemberian kepemilikan minoritas kepada Danantara dalam entitas hasil merger, dengan hak khusus atas operasi di Indonesia.
Pemerintah belum mengonfirmasi peran Danantara dalam potensi merger tersebut. Namun pada 28 November, CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan bahwa pembicaraan mengenai merger “masih berlangsung” dan “positif”.
Sebelumnya pada 11 November, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan keputusan final terkait merger berada di tangan GoTo dan Grab.
Sementara itu, Wijayanto dari Universitas Paramadina berpendapat bahwa peluang merger kini lebih besar dari sebelumnya, tetapi keberhasilannya bergantung pada beberapa hal.
“Semua pihak harus membenahi ekosistem, terutama perbaikan regulasi, kalau tidak, merger tidak akan menciptakan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa aturan persaingan usaha harus dijalankan dengan benar. Selain itu, penolakan merger juga bisa dicegah dengan tidak membingkainya sebagai pengambilalihan perusahaan Indonesia oleh perusahaan Singapura.
DAMPAK TERHADAP DRIVER OJOL
Dalam skema merger, perusahaan baru akan mengendalikan pembayaran serta mata pencaharian jutaan driver dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kata para analis.
Karena itu, pemerintah harus menetapkan aturan yang adil dan sejalan dengan kepentingan nasional untuk melindungi driver, penumpang, dan pelaku UMKM, sekaligus tetap ramah terhadap dunia usaha, ujar Wijayanto dari Universitas Paramadina.
“Jika merger diikuti oleh perbaikan ekosistem, termasuk regulasi, situasinya berpotensi berubah dari lose-lose menjadi win-win bagi semua pihak, termasuk para driver,” katanya.
Layanan ride-hailing dan pesan-antar sangat penting di Indonesia, terutama di kota-kota besar yang kerap dilanda kemacetan, tetapi hampir setiap tahun para driver ojol menggelar protes menuntut pendapatan yang lebih baik.
Ketua Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengatakan kepada CNA: “Pemerintah sebagai regulator harus menjaga kesehatan ekosistem digital ini dan mencegahnya menjadi monopoli yang memangsa platform-platform baru yang sedang tumbuh."
“Dampaknya, jutaan pengemudi akan bergantung pada satu korporasi raksasa dan tidak memiliki pilihan lain. Ini memungkinkan korporasi menerapkan kebijakan sepihak terhadap mitra ojol, yang akan merugikan para driver.”
Boyamin dari MAKI juga berpendapat bahwa persaingan akan berkurang jika kedua perusahaan bergabung.
Namun, seiring waktu, ia mengatakan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil mungkin akan meningkatkan layanan mereka sebagai konsekuensinya, dan kekhawatiran terhadap monopoli bisa mereda ketika mereka berkembang.
Analis pasar modal Teguh bahkan menilai bahwa setelah merger, Grab mungkin tidak membutuhkan mitra driver sebanyak sekarang.
Karena itu, sebagian pengemudi bisa kehilangan pekerjaan, terutama mereka yang berasal dari GoTo.
“Jadi para pengemudi Gojek atau GoTo mungkin perlu mencari pekerjaan baru.”
Sementara itu, para driver ojol di lapangan tidak terlalu mengkhawatirkan merger dan justru menyambutnya jika memang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Pengemudi pesan-antar makanan dan barang Shopee, Adam Hakiki, 24, mengatakan bahwa jika Grab dan GoTo benar-benar bergabung, hal itu kemungkinan tidak akan memengaruhi pendapatannya.
“Masing-masing punya pasarnya sendiri. Tidak masalah.”
Seorang driver Gojek, bagian dari GoTo, yang hanya ingin disebut Helmi, 47, mendukung merger jika membawa dampak positif bagi para pengemudi.
“Saya cuma ingin hidup layak, bisa memenuhi kebutuhan,” katanya.
Pengemudi Grab Istu Rizki, 36, juga menaruh harapan positif pada rencana merger itu.
Ia baru bergabung menjadi driver Grab pada November, setelah bekerja sebagai mitra Gojek sejak 2017.
“Saya pindah ke Grab karena di Gojek sudah tidak ada order. Sulit,” ujarnya.
“Kalau kedua perusahaan bergabung, saya berharap jumlah order bisa lebih banyak.”
Warga Jakarta Lianda Ramadhana, 27, adalah pengguna layanan ojek online dari berbagai operator.
Ia mengatakan pengguna pada akhirnya akan memilih aplikasi yang lebih terjangkau dan memberi lebih banyak keuntungan.
“Kalau merger membawa lebih banyak diskon bagi pengguna, saya setuju. Asalkan tetap ada cukup lapangan kerja untuk para driver.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.