Skip to main content
Iklan

Indonesia

Mengapa Indonesia tidak alami gelombang panas? Ini penjelasan BRIN

Kondisi unik geografis Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan menghasilkan awan yang menutupi hampir setiap hari.

Mengapa Indonesia tidak alami gelombang panas? Ini penjelasan BRIN
Ilustrasi gelombang panas (BMKG)
15 May 2024 02:20PM (Diperbarui: 17 May 2024 07:32PM)

JAKARTA: Profesor Riset bidang Meteorologi, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan, mengungkapkan tutupan awan melindungi Indonesia dari bahaya gelombang panas.

Eddy mendefinisikan gelombang panas sebagai suatu kondisi saat keadaan suhu rata-rata melebihi batas ambang normalnya pada 30-40 tahun terakhir.

Namun, jika terjadi suhu panas hanya sesaat atau satu hari saja, dan tidak melebihi deviasi yang cukup besar, maka udara panas tersebut tidak dapat didefinisikan sebagai gelombang panas.

“Jika suhu pada kawasan tertentu selama dekade lebih dari 30 tahun suhunya berkisar 27 hingga 28 derajat celsius, tetapi pada saat itu melonjak dengan deviasi diatas lima menjadi 33 hingga 34 derajat celsius serta permanen selama empat hingga lima hari, dapat kita definisikan sebagai gelombang panas.”

Lebih lanjut, Eddy, menjelaskan wilayah Indonesia hampir setiap hari ditutupi oleh awan.

Hal ini karena kondisi unik geografis Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan yang terdiri atas dua pertiga laut, sepertiga daratan, lima pulau besar dan 17.548 pulau, di mana masing-masing pulau menghasilkan konveksi lokal dan regional sehingga menghasilkan awan.

“Awan yang dihasilkan tersebut membuat Indonesia relatif aman dari bahaya gelombang panas,” katanya dikutip dari laman BRIN, Selasa (14 Mei).

Kawasan yang terpapar gelombang panas menurut Eddy adalah negara yang didominasi oleh daratan, misal India, Thailand, Brasil, dan negara-negara di Afrika.

Eddy mengatakan lebih jauh belum diketahui kapan pastinya cuaca panas di Indonesia akan berakhir.

Dia memprediksi panas terik di Indonesia khususnya untuk kawasan barat dan pantura akan mencapai puncaknya pada bulan Juli 2024.

Ini merujuk pada analisisnya terhadap perilaku data Indian Ocean Dipole (IOD) yang ada di Lautan Hindia.

Udara panas ini juga diperparah dengan mulai berhembusnya angin timuran yang bergerak melintasi kawasan Indonesia seiring dengan bergeraknya posisi matahari meninggalkan garis ekuator sejak 21 Maret, bergerak semu menuju belahan bumi utara (BBU).

“Gerbang utama yang akan menerima kondisi ini adalah NTT, diikuti NTB, Bali, Jawa Timur, dan seterusnya,” ujar Eddy.

Lebih lanjut Eddy menyampaikan walau cuaca di siang hari sangat panas dan terik, umumnya akan diikuti hujan pada malam dan dini hari.

Ini menurutnya adalah indikasi yang biasa terjadi akhir musim transisi pertama (MAM).

Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto memastikan Indonesia tidak sedang diterjang gelombang panas.

Dia menjelaskan suhu panas di Indonesia merupakan fenomena dari gerak semu matahari yang posisinya pada bulan April berada dekat sekitar khatulistiwa.

Adapun gelombang panas sedang melanda negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan seperti Thailand, Vietnam, Myanmar, India..

Terakhir, otoritas Thailand melaporkan 61 warganya tewas sepanjang tahun ini akibat gelombang panas.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan