Kritik dan keluhan muncul terhadap uji coba menu Makan Siang Gratis, apa saja?
Uji coba Makan Siang Gratis saat ini dilakukan di Sentul, Hambalang, Solo, dan Surabaya.
JAKARTA: Uji coba program Makan Siang Gratis yang sedang dilakukan di empat daerah yaitu Sentul, Hambalang, Solo, dan Surabaya menuai sejumlah kritik dan keluhan.
Wakil Presiden Terpilih Gibran Rakabuming Raka angkat bicara setelah munculnya komentar miring terhadap menu dan gizi dari makanan dan susu yang disajikan.
Yang pertama adalah tingginya kadar gula dari susu yang diberikan kepada siswa.
Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) lewat akun Twitter pada Rabu (24 Juli) menyoroti kadar gula pada susu yang disajikan dalam uji coba program Makan Siang Gratis di Sentul.
"Hai Mas @gibran_tweet kemarin sempat lihat-lihat foto-foto program ini dan ada produk susu berpemanis rasa strawberi. Itu termasuk tinggi gula (25 gram) padahal batas harian konsumsi gula anak-anak 25 gram," bunyi kicauan CISDI.
"Sekali lagi ini masih uji coba. Saya siap menerima masukan, evaluasi dari siapapun," kata Gibran usai meninjau langsung uji coba program yang saat ini disebut Makan Bergizi Gratis itu, Jumat (26 Juli) di SD Negeri Tugu, Solo.
Mengutip TribunSolo, Gibran mengungkapkan susu yang dipakai di Solo adalah Greenfield UHT full cream 105 ml dengan kandungan gula 9 gram.
“Hari ini kita pakai susu yang putih kok. Sekiranya jenis susunya tidak berkenan kami siap ganti,” kata putra sulung Presiden Jokowi itu.
Adapun menu yang disajikan di Solo mirip dengan menu uji coba di Sentul yaitu nasi, sayur, ayam, pisang, dan susu.
Selain masalah kadar gula susu, sejumlah siswa di SD Negeri Tugu juga mengeluhkan makanan yang terlalu pedas.
Seorang orang tua murid bernama Lestari menyebutkan lauk cah sawi yang ada di menu terlalu pedas bagi anaknya yang akhirnya tidak menghabiskan makanan.
"Sawinya tadi ada cabainya. Untuk anak kelas I mungkin kurang suka. Itu yang kelas I ya karena anak saya kelas I. Kalau untuk anak yang sudah dewasa mungkin sudah bagus," ceritanya kepada CNN Indonesia.
Kepala Sekolah SDN Tugu, Nuning Harmini, tidak membantah bahwa ada makanan yang terlalu pedas.
"Mungkin ke depan bisa diganti dengan sayur yang tidak pedas seperti sayur bayam, bubur bayam, atau oseng-oseng," kata Nuning.
Keluhan ketiga adalah kemasan makanan yang menggunakan bahan dari plastik.
Gibran menjelaskan penggunaan kemasan tersebut ditujukan agar makanan bisa dibawa pulang jika tidak habis dimakan di sekolah.
"Sekiranya nanti menimbulkan dampak negatif terkait packaging plastik, nanti akan kita ubah. Pakai piring, pakai tray stainless dan lain-lain," sebut mantan Wali Kota Solo itu.
Lebih jauh, Gibran mengatakan uji coba akan terus dijalankan dari bulan Agustus hingga Oktober mendatang.
“Ini nanti uji coba berjalan selama 3 bulan. Nanti kita akan banyak menerima masukan, evaluasi dari pada guru, Pak Wali Kota, orang tua murid, muridnya sendiri, komite, ahli gizi. Ini masih proses uji coba pasti banyak sekali masukan-masukan atau evaluasi,” pungkasnya.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini