Skip to main content
Iklan

Indonesia

5 fakta mahasiswi kedokteran Undip diduga bunuh diri karena bullying

5 fakta mahasiswi kedokteran Undip diduga bunuh diri karena bullying

Fakultas Kedokteran Undip melaksanakan kegiatan Penerimaan dan Pengenalan Institusi PPDS. (Foto: website Undip)

15 Aug 2024 05:19PM (Diperbarui: 15 Aug 2024 05:31PM)

SEMARANG: Mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) anestesi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, dr. Aulia Risma Lestari, diduga bunuh diri lantaran mendapatkan perundungan atau bullying selama menempuh pendidikan.

Untuk mencari tahu pemicunya, tim Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak melakukan investigasi, seperti dilaporkan Liputan6.

"Tim Itjen Kemenkes sudah turun ke RS Kariadi untuk menginvestigasi pemicu bunuh diri untuk memastikan apakah ini ada unsur bullying atau tidak," kata Plt. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Kemenkes menargetkan hasil investigasi sudah keluar dalam seminggu ke depan, imbuh Nadia.

Berikut lima fakta yang telah mencuat seputar kejadian tragis itu.

1. KORBAN DITEMUKAN TEWAS DI INDEKOS

Risma ditemukan tewas di kamar kos di Kelurahan Lempongsari, Semarang pada Senin (12/8).

Menurut laporan Detik, mahasiswi berusia 30 tahun itu tewas setelah diduga menyuntikkan obat penenang kepada tubuhnya sendiri.

Polisi menyebut yang bersangkutan sudah menempati kos sekitar 1 tahun.

Kompol Agus Hartono menerangkan penemuan korban berawal dari kecurigaan karena korban tak bisa dihubungi sejak pagi oleh pacarnya. Saat itu, kamar kos korban terkunci dari dalam.

"Akhirnya panggil tukang kunci dan ditemukan sudah meninggal," jelasnya.

Agus menjelaskan saat ditemukan, kondisi korban kebiruan di bagian wajah serta posisi miring seperti orang tertidur.

2. DITEMUKAN BUKU HARIAN

Agus melanjutkan di lokasi kejadian, polisi menemukan buku harian korban. Dalam diari tersebut, yang bersangkutan menceritakan beratnya menjadi mahasiswa kedokteran dan menyinggung urusan dengan seniornya.

"Dia mungkin kan sudah komunikasi sama ibunya karena lihat buku hariannya itu kan kelihatannya merasa berat dalam arti itu pelajarannya berat, dengan senior-seniornya itu berat," ungkapnya.

"Ibunya memang menyadari anak itu minta resign, sudah enggak kuat. Sudah curhat sama ibunya, satu mungkin sekolah, kedua mungkin menghadapi seniornya, seniornya itu kan perintahnya sewaktu-waktu minta ini itu, ini itu, keras," sambungnya.

Orang tua korban juga disebut langsung datang ke lokasi usai mendapat kabar tersebut.

Agus mengatakan pihak keluarga langsung meminta korban dibawa pulang tanpa di autopsi.

3. KEGIATAN PPDS ANESTESI UNDIP DIHENTIKAN SEMENTARA

Untuk mengusut penyebab tewasnya Risma, Kemenkes juga sudah meminta agar kegiatan PPDS anestesi di Undip diberhentikan sementara selama proses investigasi.

"Penghentian sementara kegiatan PPDS Anastesi Undip di RS Kariadi untuk memberikan kesempatan investigasi dapat dilakukan dengan baik termasuk potensi adanya intervensi dari senior/dosen kepada juniornya serta memperbaiki sistem yang ada," kata Nadia dari Kemenkes, mengutip Liputan6.

"Kami juga meminta Undip dan Kemendikbud untuk turut membenahi sistem PPDS," tambah Nadia.

4. UNDIP BANTAH ADANYA PERUNDUNGAN

Pihak Undip membantah mahasiswa yang diduga bunuh diri merupakan korban perundungan.

“Mengenai pemberitaan meninggalnya almarhumah berkaitan dengan dugaan perundungan yang terjadi, dari investigasi internal kami, hal tersebut tidak benar,” ujar Manajer Layanan Terpadu dan Humas Undip, Utami Setyowati pada Kamis, menukil Tirto.

Menurut dia, penyebab meninggalnya Risma dilatarbelakangi masalah kesehatan. Namun, atas pertimbangan medis dan privasi, Undip tak bisa menyampaikan detail penyakit korban.

“Almarhumah mempunyai problem kesehatan yang dapat memengaruhi proses belajar yang sedang ditempuh,” kata Utami.

5. SOAL PERUNDUNGAN SUDAH PERNAH DILAPORKAN

Sementara itu, dugaan perundungan di PPDS Undip ternyata pernah dilaporkan oleh Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia yang diwakili oleh Agus Pranki Pasaribu.

Agus Pranki melaporkan kepada Kemenkes pada awal Maret 2024 bahwa mahasiswa PPDS Gizi Klinis Undip yang sedang praktik di RS Kariadi mengalami perundungan.

Namun, tindak lanjut dari laporan itu hanya berupa teguran, seperti dilaporkan Tribun.

"Saya tanya tindak lanjut apa, dia bilang sudah melakukan penindakan dengan cara memberikan teguran kepada PPDS Undip, begitu saja. Ya udah begitu saja, saya bisa apa," ucap Agus pada Kamis.

Cari bantuan dengan menghubungi:

Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567

Info lebih lanjut seputar bantuan kesehatan jiwa terdapat di artikel ini.

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.

Source: Others/jt

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan