Skip to main content
Iklan

Indonesia

Long COVID hantui Indonesia, tetap bergejala walau sudah negatif beberapa tahun lalu

Salah satu gejala long COVID-19 adalah kelelahan ekstrem dan nyeri tubuh.

Long COVID hantui Indonesia, tetap bergejala walau sudah negatif beberapa tahun lalu
Seorang relawan dari Tim Pemulasaraan Jenazah Pasien COVID-19 Kota Bogor dengan alat pelindung diri lengkap, sedang mengikuti proses pemakaman seorang perempuan yang meninggal saat isolasi mandiri di rumahnya di Bogor, Jawa Barat. (CNA/Nivell Rayda)

JAKARTA: Long COVID kini menjadi ancaman serius di Indonesia, menyusul peringatan dari pakar epidemiologi Dicky Budiman mengenai potensi terjadinya "tsunami" kasus.

Efek jangka panjang dari COVID-19 dapat dirasakan selama bertahun-tahun setelah infeksi awal.

Menurut Dicky, kelompok paling rentan terhadap long COVID adalah penyintas yang belum menerima vaksinasi.

"Riset menunjukkan mayoritas dari mereka yang mengalami long COVID belum pernah atau belum berkesempatan mendapatkan vaksinasi saat pertama kali terinfeksi," jelasnya dilansir dari detikHealth, akhir pekan lalu.

"Di Indonesia, masalahnya hanya pada pendataan. Namun, kita bisa melihat di sekeliling, bahkan dalam keluarga, ada yang menjadi mudah sakit atau merasa cepat lelah, misalnya," sambung dokter yang berbasis di Universitas Griffith, Australia itu.

Studi dari Inggris dan Amerika Serikat sendiri teLah menunjukkan tren peningkatan kasus long COVID.

Para peneliti menemukan bahwa pemulihan optimal biasanya terjadi dalam enam bulan pertama setelah infeksi.

Namun, jika gejala bertahan lebih dari dua tahun, peluang pemulihan total menjadi sangat kecil.

"Pasien yang telah berjuang selama lebih dari dua tahun memiliki peluang sangat tipis untuk pulih sepenuhnya," kata Manoj Sivan, profesor kedokteran rehabilitasi di Universitas Leeds, dalam temuan yang dipublikasikan di The Lancet.

Gejala long COVID yang paling sering dilaporkan meliputi di antaranya adalah kelelahan ekstrem, brain fog atau kesulitan berkonsentrasi, sesak napas, nyeri sendi, punggung, dan otot serta sakit kepala.

Gejala-gejala ini dapat berkisar dari ringan hingga sangat melumpuhkan. Hingga kini, belum ada tes diagnostik atau pengobatan yang terbukti efektif untuk menangani long COVID.

Profesor David Walt dari Rumah Sakit Brigham and Women’s di AS mengungkap kemungkinan penyebab dari long COVID, salah satunya adalah kerusakan pada sistem imun.

"Virus mungkin merusak sistem imun, menyebabkan disfungsi imun yang berlanjut setelah pasien sembuh dari infeksi awal," urainya kepada MedicalXpress.

Secara global, diperkirakan antara 62 juta hingga 200 juta orang mengalami long COVID.

📢 Kuis CNA Memahami Asia sudah memasuki putaran pertama, eksklusif di saluran WhatsApp CNA Indonesia. Ayo uji wawasanmu dan raih hadiah menariknya!

Jangan lupa, terus pantau saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk mendapatkan tautan kuisnya ðŸ‘€

🔗 Cek info selengkapnya di sini: https://cna.asia/4dHRT3V

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan