Lampung luncurkan satelit Lampung-1 tanpa APBD, apa manfaatnya?
Satelit Lampung-1 diluncurkan untuk memperkuat transformasi digital Lampung melalui AI, data satelit, dan kerja sama teknologi dengan STAR.VISION China.
STAR.VISION meluncurkan OSE Hyperspectral Twin Satellites dari pusat peluncuran maritim Haiyang, Provinsi Shandong, China, pada Rabu (5/8) pukul 09.15 WIB. (X/@STARVISION_cn)
LAMPUNG: Pemerintah Provinsi Lampung resmi meluncurkan Satelit Lampung-1 menuju orbit dari pusat peluncuran maritim Haiyang, Provinsi Shandong, China, pada Rabu (5/8) pukul 09.15 WIB.
Satelit hasil kerja sama dengan perusahaan antariksa asal China STAR.VISION Aerospace Ltd. itu diharapkan menjadi salah satu fondasi transformasi digital daerah melalui pemanfaatan teknologi penginderaan jauh (remote sensing), kecerdasan buatan (AI), dan mahadata.
Peluncuran tersebut merupakan tindak lanjut dari kerja sama yang ditandatangani Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal pada 2025 bersama STAR.VISION Aerospace Ltd. dan Oriental Maritime Space Port.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi antariksa, Pemerintah Provinsi Lampung memilih mengambil langkah yang belum banyak dilakukan daerah lain di Indonesia, yakni memanfaatkan satelit khusus untuk mendukung pembangunan berbasis data.
Selama ini, pemanfaatan satelit di Indonesia lebih banyak dilakukan pemerintah pusat melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maupun kementerian terkait, sementara pemerintah daerah umumnya hanya memanfaatkan data dari satelit nasional maupun komersial.
Pemerintah Provinsi Lampung menilai keberadaan Lampung-1 akan menjawab kebutuhan data yang selama ini masih bergantung pada survei lapangan yang memerlukan waktu, biaya, dan tenaga besar. Perubahan kondisi lahan pertanian, kawasan hutan, daerah rawan bencana, kualitas sungai, hingga perkembangan infrastruktur sering kali baru diketahui setelah dilakukan pengecekan langsung.
Akibatnya, banyak kebijakan harus menunggu data terkumpul terlebih dahulu, sementara kondisi di lapangan bisa berubah dengan cepat.
Gubernur Rahmat mengatakan, pemerintahannya membutuhkan data yang cepat dan akurat agar setiap kebijakan tidak lagi didasarkan pada perkiraan. Menurutnya, Lampung-1 menjadi bagian dari arah transformasi digital daerah berbasis AI dan mahadata.
"Pada era sekarang, keputusan yang baik harus lahir dari data yang akurat. Lampung-1 akan membantu kami melihat kondisi daerah secara lebih cepat, lebih luas, dan lebih presisi sehingga kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat," kata Mirza, dikutip dari laman Pemprov Lampung.
TIDAK GUNAKAN APBD
Berbeda dengan anggapan bahwa memiliki satelit membutuhkan investasi hingga ratusan miliar rupiah, Pemerintah Provinsi Lampung tidak membeli maupun mengoperasikan satelit tersebut.
Lampung-1 dimiliki dan dioperasikan oleh STAR.VISION Aerospace Ltd., sedangkan Pemerintah Provinsi Lampung memanfaatkan data yang dihasilkan melalui kerja sama yang telah disepakati sejak 2025.
Dengan skema tersebut, pemerintah daerah tidak mengeluarkan dana APBD untuk membangun, meluncurkan, maupun mengoperasikan satelit. Seluruh investasi pembangunan satelit ditanggung oleh pihak pengembang sebagai bagian dari kerja sama teknologi.
Skema ini dinilai lebih efisien dibandingkan apabila pemerintah daerah membangun satelit sendiri yang membutuhkan biaya besar, mulai dari proses manufaktur, peluncuran, hingga operasional.
Keunggulan Lampung-1 tidak hanya menghasilkan citra satelit.
Teknologi hyperspectral yang dipadukan dengan AI mampu membaca kondisi permukaan bumi secara lebih rinci dibandingkan satelit konvensional.
Data tersebut dapat dimanfaatkan untuk memantau kesehatan tanaman, kondisi irigasi, kualitas sungai dan pesisir, potensi banjir, longsor, kebakaran hutan, hingga perkembangan kawasan industri dan infrastruktur.
Bagi petani, informasi tersebut memungkinkan deteksi dini terhadap tanaman yang mengalami kekurangan air atau terserang penyakit sehingga risiko gagal panen dapat ditekan. Sementara bagi pemerintah daerah, data tersebut menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih cepat dan tepat sasaran.
Data tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung kepadatan kendaraan, memantau perubahan tutupan lahan, perkembangan tanaman, serta mendeteksi pembangunan baru tanpa harus melakukan studi lapangan yang memakan waktu dan biaya besar.
Selain pemanfaatan data satelit, kerja sama dengan STAR.VISION Aerospace juga mencakup pengembangan sumber daya manusia. Sejumlah aparatur Pemerintah Provinsi Lampung akan mengikuti pelatihan di China untuk mempelajari teknologi satelit, pengolahan data hyperspectral, hingga pemanfaatan AI.
Langkah ini diharapkan mampu membangun kompetensi SDM lokal sehingga pemanfaatan teknologi satelit dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.
Kerja sama tersebut juga mencakup rencana pembangunan stasiun bumi (ground station) di Provinsi Lampung guna mendukung pengembangan ekosistem teknologi antariksa di daerah.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.