Mengintip tradisi berburu paus di Lamalera yang kian terdesak
Perburuan paus tradisional Lamalera di Indonesia timur tetap menjadi salah satu perburuan paling berbahaya di dunia.
Begitu paus terlihat, lamafa atau juru tikam melompat ke laut, memanfaatkan daya lompatan untuk menghunjamkan tombak bertangkai bambu ke tubuh paus. (FOTO: CNA)
LAMALERA, Indonesia: Di haluan perahu kayu tradisional, lamafa, sang juru tikam, berdiri menanti.
Begitu paus terlihat, ia menerjang ke laut, mengandalkan bobot tubuhnya dan kekuatan lompatan untuk menghunjamkan tombak bertangkai bambu ke tubuh paus.
Tak ada senapan harpun modern maupun teknologi sonar yang digunakan.
Di pesisir selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, laut sejak lama membentuk kehidupan warga desa Lamalera yang terpencil.
Desa berpenduduk sekitar 1.600 orang ini dikenal dengan perburuan paus untuk dikonsumi, sebuah tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Pemerintah Indonesia mengakui praktik tersebut sebagai bagian dari warisan budaya nasional, yang dilakukan demi bertahan hidup dan menjaga tradisi, bukan untuk mencari keuntungan komersial.
Namun, ketika kelangsungan cara hidup ini kian tak pasti, pemerintah setempat berharap tradisi tersebut suatu hari dapat masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, meski Indonesia belum mengajukan permohonan.
SEBELUM PERBURUAN DIMULAI
Di Lamalera, perburuan dimulai jauh sebelum perahu pemburu pertama bertolak ke laut.
Musim berburu paus setiap tahun dimulai pada 1 Mei. Namun, persiapan sudah berlangsung beberapa hari sebelumnya melalui serangkaian ritual untuk kerukunan, memohon berkat, dan meminta perlindungan selama melaut.
Salah satu yang terpenting adalah Tobu Neme Fate, upacara sakral untuk kerukunan, mempererat persatuan, dan menyucikan diri yang digelar pada 29 April.
“Tobu Neme Fate adalah tradisi yang menurut hukum adat kami wajib dilaksanakan setiap tahun,” kata tokoh adat Vincentius Geleka Bataona kepada CNA.
“Inilah saatnya masyarakat berkumpul, bermusyawarah, dan mempersiapkan diri sebelum turun ke laut.”
Keesokan harinya, anggota suku Langowujon, yang secara turun-temurun menjaga ritual adat Lamalera, menjalankan ritual Ie Gerek.
Upacara leluhur ini dipercaya untuk memanggil roh paus sebelum perburuan dimulai.
Masih pada hari yang sama, warga berkumpul di Pantai Lamalera untuk mengenang dan mendoakan para nelayan yang meninggal atau hilang di laut.
Pada 1 Mei, suasana bergeser dari mengenang mereka yang telah tiada menjadi menanti dimulainya musim perburuan.
Warga berkumpul untuk mengikuti Misa Leva, misa Katolik yang memberkati perahu tradisional pemburu paus Lamalera, yang disebut peledang, serta tombak sebelum musim perburuan dimulai.
“Ini mencerminkan salah satu kekuatan terbesar Lamalera: memadukan iman Katolik dengan tradisi budaya yang telah bertahan selama berabad-abad,” kata Pastor Lamalera Fransiskus Xavenius Heaven.
Upacara ini juga menunjukkan bagaimana ajaran Katolik telah menyatu dengan tradisi adat Lamalera.
Misionaris Katolik tiba di Pulau Lembata pada 1886, berabad-abad setelah masyarakat Lamalera mulai berburu paus.
Alih-alih menggantikan adat setempat, Gereja menyesuaikan diri dan memasukkan unsur-unsur tradisi masyarakat ke dalam kehidupan beragama.
Selain menjalankan berbagai ritual, warga juga memastikan seluruh peralatan siap digunakan sebelum musim perburuan dimulai.
Mata tombak hingga kini masih ditempa dengan tangan, menggunakan teknik yang diwariskan turun-temurun.
Hanya segelintir pandai besi ahli yang dipercaya membuatnya. Mata tombak yang dibuat kurang sempurna bisa gagal pada saat genting dan membahayakan seluruh awak.
Salah satunya Ignasius Blajatake Beding, 87, yang telah menempa tombak selama lebih dari 60 tahun.
“Kami mengajari anak-anak karena kami tahu kami semakin tua dan tidak akan selamanya ada. Lebih baik mereka yang meneruskan tradisi ini daripada menyerahkannya kepada orang lain,” kata Beding.
MENANTANG BAHAYA
Saat fajar menyingsing, para awak mendorong peledang ke laut, menggelindingkan perahu berat itu di atas batang-batang kayu yang diletakkan di bawah lunas.
Setiap awak memegang peran penting.
Lamafa berdiri di haluan mengawasi kemunculan paus, sementara lama uri atau juru mudi mengarahkan perahu. Para pendayung membawa peledang menerjang ombak, melantunkan seruan berirama agar kayuhan tetap serempak selama berjam-jam yang melelahkan di laut.
Pelancong asal Jerman Marco Grossman termasuk segelintir orang luar yang berkesempatan menyaksikan langsung perburuan paus yang berhasil.
“Semua orang benar-benar fokus menjalankan tugasnya agar paus bisa ditangkap. Situasinya sangat menegangkan. Perahu bisa hancur atau terbalik, dan orang-orang bisa tercebur ke laut,” kenangnya.
“Semuanya kacau, tetapi mereka tetap bisa bekerja sama karena jelas sangat berpengalaman. Teriakan terdengar di mana-mana. Situasinya sangat intens dan sangat spontan.”
Benjamin Keleka Tapoona, 25, salah satu lamafa di Lamalera, sangat memahami risiko tersebut.
“Yang paling saya takutkan adalah terlilit tali. Ekor paus juga bisa menghantam awak. Ada yang meninggal, ada pula yang luka parah,” katanya.
“Baru beberapa hari lalu, kaki seorang pria tua terlilit tali hingga harus diamputasi. Bahayanya banyak. Saat berada di atas peledang, kita harus benar-benar fokus.”
Mantan lamafa sekaligus pembuat perahu Ignasius Seran Blikololong kehilangan putra bungsunya, Benjamin, dalam perburuan paus lebih dari satu dekade lalu.
“Sebagai seorang ayah, kesedihan kehilangan Benjamin begitu berat,” katanya.
“Dia sudah berkeluarga dan meneruskan pekerjaan yang dulu saya lakukan. Malam hari, saya sering terbangun memikirkannya.”
Meski penuh risiko, keberhasilan membawa pulang seekor paus sperma tetap menjadi momen yang paling dinanti sepanjang musim perburuan.
Setiap hasil buruan dibagikan menurut aturan ketat, dengan bagian khusus untuk para janda, anak yatim, dan orang sakit.
Sebagian besar daging juga dikeringkan agar dapat disimpan selama berbulan-bulan.
Daging paus juga dibarter dengan bahan pangan yang sulit ditanam di tanah Lamalera yang kering dan berbatu.
BARTER DAGING PAUS DI PASAR
Setiap Sabtu pagi, Desa Wulandoni yang tak jauh dari Lamalera menjadi tempat digelarnya salah satu pasar barter tradisional yang masih bertahan di Indonesia.
Warga Lamalera datang untuk menukar hasil laut dengan hasil tani dari desa-desa sekitar.
Setiap pekan, Maria Gasparine Kremo berjalan hampir dua jam dari Lamalera menuju pasar.
“Kalau tidak punya uang, tidak masalah,” katanya.
“Kalau punya ikan, tinggal ditukar dengan ikan. Tidak ada yang mengharuskan kita membayar dengan uang.”
Sepotong daging paus segar, misalnya, bisa ditukar dengan enam buah pisang, sementara daging paus kering bisa ditukar dengan 12 ubi jalar.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perburuan paus sperma semakin jarang membuahkan hasil.
PAUS SPERMA KIAN SULIT DICARI
Pada 2025, warga Lamalera hanya berhasil membawa pulang tiga paus sperma. Hingga Juli tahun ini, mereka baru mendapat satu.
“Ada hari ketika hasil tangkapan bagus, ada juga yang tidak. Pada akhirnya, semua bergantung pada keberuntungan,” kata Kepala Desa Lamalera B Matheus Gilo Bataona.
Menurutnya, hasil tangkapan sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup warga.
“Dulu, sekitar 2018 atau 2019, pernah dalam sehari kami menangkap tujuh paus. Namun dalam beberapa tahun terakhir, itu tidak pernah terjadi lagi.”
Seiring paus sperma semakin sulit didapat, para nelayan semakin mengandalkan biota laut lain untuk menopang kehidupan mereka.
Paus pilot dan cetacea yang lebih kecil, seperti lumba-lumba, serta beberapa jenis hiu juga ditangkap untuk memenuhi kebutuhan pangan dan sumber daya desa.
Sejauh ini belum ada bukti bahwa perburuan paus di Lamalera mengancam keberlanjutan populasinya. Namun, sejumlah pegiat konservasi menilai batas tangkapan sebagai langkah pencegahan perlu dipertimbangkan.
“Misalnya, saya mungkin merasa batas 10 ekor per tahun cukup, sementara masyarakat mengatakan mereka membutuhkan 20. Itu yang perlu kita bicarakan,” kata dosen ilmu lingkungan James Cook University Putu Liza Mustika. Ia juga salah satu pendiri Cetacean Sirenian Indonesia, organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam konservasi mamalia laut.
Pada saat yang sama, pemerintah juga mencari cara agar warga Lamalera tidak terlalu bergantung pada paus dan biota laut dilindungi lainnya.
Perairan di sekitar Lembata diperkirakan mampu menghasilkan tangkapan ikan lebih dari 10.000 ton per tahun secara berkelanjutan.
Pemerintah menilai, kapal yang lebih memadai dapat membantu nelayan Lamalera memanfaatkan potensi tersebut. Namun, mengubah mata pencaharian tidak cukup hanya dengan menyediakan kapal baru.
“Meski memiliki kapal dan alat tangkap yang lebih baik, masyarakat masih belum memiliki keterampilan untuk memanfaatkan potensi laut secara maksimal,” kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lembata Hadi Umar.
“Karena itu, mengubah pola pikir masyarakat Lamalera, dari generasi tua hingga generasi muda, membutuhkan waktu.”
Meski terpencil, Lamalera tak luput dari arus globalisasi.
Kini, semakin sedikit anak muda yang memilih menjadi nelayan atau lamafa.
Marianus Yakobus Rubo Bataona termasuk anak muda Lamalera yang memilih tidak mencari penghidupan di laut. Ia menempuh pendidikan tinggi di bidang Bimbingan dan Konseling.
Saat masih kecil, Marianus mengaku pernah bercita-cita menjadi awak peledang, bahkan seorang lamafa.
“Namun, cita-cita itu perlahan memudar karena orangtua tidak mengizinkan saya melaut. Saya rasa itu cara mereka melindungi saya.”
“Bagaimanapun juga, kami semua tahu, setiap kali melaut selalu ada bahaya.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.