Lagi, keracunan massal Makan Bergizi Gratis, kali ini di Bogor dan Penukal Abab Lematang Ilir
Kasus keracunan serupa juga dilaporkan di Tasikmalaya, Cianjur, dan Karanganyar.
BOGOR: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali disorot publik setelah dua kasus keracunan massal terjadi di Kota Bogor dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Insiden keracunan yang terkait dengan program MBG bukan kali ini saja terjadi. Dalam beberapa pekan terakhir, kasus serupa tercatat di Tasikmalaya, Cianjur, dan Karanganyar.
Sebanyak 36 siswa dari Sekolah Bosowa Bina Insani, Tanah Sereal, Kota Bogor, dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap menu MBG pada Rabu (7/5). Mereka mengeluhkan mual, muntah, diare ringan, serta demam.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo Retno, mengonfirmasi bahwa lima siswa saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit, sementara tujuh lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi mereka membaik.
“Tim kami telah mengambil sampel makanan untuk uji laboratorium, dan kami juga menelusuri proses pengolahan di dapur penyedia untuk memastikan standar keamanan pangan dipatuhi,” ujar Retno kepada Kompas.com.
Seorang siswa berinisial MG mengaku makanan yang disajikan terasa asam.
“Makanannya basi, susunya juga asam,” tuturnya.
Tak hanya siswa, delapan guru di sekolah yang sama juga dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gejala serupa.
RATUSAN SISWA DI SUMATERA SELATAN JUGA JADI KORBAN
Insiden keracunan massal juga terjadi di Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.
Berdasarkan data Pemkab PALI, sebanyak 173 siswa dari berbagai jenjang pendidikan—mulai dari PAUD hingga SMK—di Talang Ubi mengalami gejala seperti pusing, lemas, sakit perut, dan mual setelah menyantap MBG pada 5 Mei.
Sebagian besar siswa telah mendapat perawatan di fasilitas kesehatan setempat. Namun, hingga Rabu pagi, sembilan siswa masih menjalani rawat inap di RSUD Talang Ubi karena memiliki kondisi medis bawaan yang memerlukan pengawasan lebih lanjut.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa kasus ini diduga terjadi karena kesalahan dalam proses penyimpanan dan distribusi makanan.
“Bahan baku berupa ikan diterima hari Jumat (2/5), kemudian disimpan dalam freezer. Setelah diolah setengah matang, ikan kembali dibekukan sebelum akhirnya dimasak ulang pada hari pendistribusian. Hasil uji awal memang menunjukkan makanan masih layak, namun di lapangan terjadi hal sebaliknya,” ungkap Dadan.
Menurutnya, ke depan prosedur akan diperketat.
“Kami akan memastikan bahan baku lebih segar, dan waktu pengolahan hingga penyajian dipersingkat. Makanan harus tiba 15 menit sebelum waktu makan dan segera dikonsumsi dalam waktu maksimal 30 menit,” jelasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.