Perjalanan desa di Ternate dari pemburu jadi pelindung kuskus mata-biru
Sempat dianggap hama perusak tanaman dan banyak diburu, kuskus mata-biru sekarang dianggap sebagai magnet ekowisata bagi masyarakat di Ternate.
Kuskus mata-biru adalah mamalia berkantung yang aktif pada malam hari dan endemik di dua pulau vulkanik kecil di Provinsi Maluku Utara, Indonesia. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)
TERNATE, Maluku Utara: Hari beranjak malam ketika enam pemuda relawan asal desa Takome meninggalkan kemah dengan berbekal senter kepala, buku catatan dan ponsel.
Menyusuri jalur setapak yang dibangun petani di sebuah bukit kecil bagian utara pulau vulkanik Ternate, lampu senter mereka menyapu mencari tanda-tanda kehidupan.
Baru berjalan sekitar 500 meter, mereka mendapati burung madu Sahul yang berbulu cerah dan cekakak kerdil Maluku bertengger di dahan pohon pala dan cengkeh. Temuan setiap satwa dilindungi kemudian didokumentasikan.
Sekitar 20 menit kemudian, para pemuda itu menemukan apa yang sebenarnya mereka cari.
Salah satu dari mereka berteriak: "Kuso! Kuso! Kuso!" - sebutan lokal untuk kuskus mata-biru - sambil mengarahkan lampu senternya ke dedaunan yang gemerisik di kanopi hutan. Semua senter kepala sontak mengarah ke atas pohon jamblang tempat mamalia marsupial itu baru selesai makan.
Beberapa menit berikutnya dihabiskan untuk mengagumi hewan seukuran kucing dengan bulu cokelat keemasan itu. Hewan nokturnal itu hampir tidak bergerak, menatap balik dengan mata birunya yang memukau.
Kuskus mata-biru hanya ditemukan di dua pulau vulkanik: Ternate dan tetangganya Tidore. International Union for Conservation of Nature (IUCN) memberikan hewan ini status rentan, terancam erupsi gunung berapi, kehilangan habitat atau perburuan. Bahkan, kondisinya saat ini bisa lebih rentan lagi.
"Meningkatnya perburuan kemungkinan besar akan jadi alasan statusnya naik ke kategori yang lebih terancam lagi dalam waktu dekat," tulis organisasi itu dalam catatannya mengenai spesies ini pada 2019.
Para pejabat dan pakar memperingatkan bahwa tanpa adanya intervensi, kuskus mata-biru bisa bernasib sama seperti kerabatnya, kuskus tutul hitam dan kuskus beruang Talaud, yang kini berstatus sangat terancam punah akibat perburuan dan hilangnya habitat.
Masyarakat Takome yang kini melindungi hewan tersebut sebelumnya turut menjadi ancaman bagi kuskus mata-biru.
"Bahkan, banyak dari kami yang sekarang terlibat sebagai relawan (konservasi) dulunya adalah bagian dari itu (perburuan dan pembunuhan kuskus). Kami melakukan hal yang sama seperti orang lain," kata Yuhdi Safi, warga Takome yang sekarang memimpin upaya konservasi alam di desanya.
Pria 29 tahun berperawakan kurus dan bersuara pelan ini mengatakan warga desa dulu memandang kuskus sebagai hama perusak tanaman, seperti pohon durian, pala dan jamblang.
"Mereka tidak tahu kalau kuskus mata-biru adalah satwa endemik yang dilindungi di Ternate dan Tidore," kata dia.
Persepsi itu perlahan berubah. Hari ini, Yuhdi mengatakan anak-anak muda di desanya telah menggantung ketapel dan senapan angin mereka, dari yang dulu pemburu sekarang ikut dalam patroli mencegah perburuan dan orang luar memasuki hutan.
BENTENG PERLINDUNGAN TERAKHIR KUSKUS MATA-BIRU
Warga lokal dan pejabat setempat mengatakan Takome bisa jadi merupakan benteng perlindungan terakhir bagi kuskus mata-biru.
Daerah itu kaya akan buah, dedaunan dan serangga kecil yang menjadi makanan hewan marsupial tersebut. Risiko kehilangan habitat juga kecil karena Takome terletak di jalur aliran lahar dan lumpur erupsi Gunung Gamalama, menjadikan wilayah ini minim pembangunan dan berpopulasi paling sedikit di Ternate.
Salah satu letusan terbesar gunung setinggi 1.700m itu terjadi pada 2015, memaksa ribuan warga mengungsi, termasuk penduduk Takome.
Tapi dibandingkan dengan ancaman manusia, bencana alam cuma bahaya kecil bagi kuskus. Junaidi Abas, warga Takome, mengatakan berburu kuskus pernah menjadi hobi anak-anak dan pemuda setempat.
"Sepulang sekolah, kami langsung ke hutan dan berburu kuskus. Saat masih kecil, kami berburu dengan ketapel, tapi ketika dewasa, kami menggunakan senapan angin," kata pria 34 tahun ini.
Kuskus adalah hewan buruan yang mudah. Mereka bergerak sangat lambat, bahkan lebih lambat lagi saat kekenyangan. Ketika disoroti sinar lampu, hewan ini seperti linglung dan membatu.
Warga dari luar Takome juga kerap mengunjungi hutan desa itu, berburu kuskus sebagai hobi atau untuk diambil dagingnya. Junaidi mengatakan, perburuan terjadi hampir setiap hari, kadang melibatkan 10 pemburu dalam satu waktu.
"Perburuan oleh warga dan masyarakat dari luar ketika itu banyak sekali, dalam semalam bisa dapat lima sampai enam karung kuskus," kata Junaidi, menambahkan bahwa satu karung biasanya terdiri dari 10 hingga 12 kuskus dewasa.
Karena kuskus adalah hewan marsupial yang membawa anaknya di dalam kantung, perburuan juga berimbas pada matinya kuskus muda yang masih bergantung pada induknya.
Kondisi berangsur berubah pada 2019, ketika beberapa pemuda Takome punya ide membuka area perkemahan di Pulo Tareba, sebuah lahan pertanian yang ditelantarkan di tepian jurang sedalam 30 meter dengan pemandangan danau.
Dengan dana dari desa, para pemuda mengumpulkan kayu dari pohon tumbang dan membangun gazebo, anjungan pandang dan bangunan dua lantai yang berfungsi sebagai kafe sekaligus tempat tinggal para relawan penjaga area perkemahan.
Membangun berbagai fasilitas dari kayu ini hanya butuh beberapa minggu, area perkemahan dan konservasi Pulo Tareba kemudian dibuka untuk umum.
Area perkemahan itu sontak jadi terkenal, tidak hanya bagi warga Ternate yang ingin menyaksikan indahnya matahari terbenam, tetapi juga para pecinta burung, peneliti dan ilmuwan yang tertarik pada keanekaragaman hayati di dalamnya.
"Para aktivis dan ilmuwan ini mengatakan kepada kami bahwa kuskus di Takome itu istimewa dan cuma bisa ditemukan di Ternate dan Tidore," kata Yuhdi. Seiring waktu, warga desa menyadari bahwa menjadi pemandu bagi ilmuwan untuk melihat kuskus lebih menguntungkan dibandingkan memburu satwa itu.
"Takome salah satu kampung yang memiliki potensi cukup besar. Itu menjadi satu alasan kami melakukan pendekatan kepada mereka jangan sampai berburu kuskus, karena kalau berburu justru wisatawan tidak datang lagi."
Baik pemburu maupun peneliti dikenakan tarif yang sama untuk jasa pemandu hutan, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp100.000 per malam. Bedanya, dengan turis dan peneliti warga desa bisa menjual makanan, menyewakan tenda dan mengenakan tiket masuk.
“Bekerja sama dengan wisatawan dan peneliti juga lebih berkelanjutan karena kami melindungi spesies yang justru ingin mereka lihat,” ujar Yuhdi.
Namun, mengubah pandangan masyarakat setempat terhadap kuskus dari hama menjadi satwa dilindungi bukanlah hal mudah, terutama selama pandemi COVID-19 ketika peneliti dan wisatawan berhenti datang.
"Alhamdulillah kami bisa membuat warga kampung berhenti berburu. Bahkan, sekarang jika mereka menemukan kuskus yang terluka, mereka akan mengantarkannya ke kami untuk diobati dan dirawat," kata Yuhdi.
ANCAMAN MASIH MENGINTAI KUSKUS
Kendati demikian, ancaman bagi kuskus masih belum sepenuhnya berakhir.
Meski warga Takome sudah tidak lagi berburu kuskus, hutan di sekitar desa itu tetap menjadi magnet bagi pemburu dari luar daerah yang tergiur banyaknya kuskus mata-biru. Kabar menyebar bahwa satwa ini mudah ditemukan, dan di tengah kegelapan malam, orang luar terus memasuki hutan untuk berburu terutama saat bulan purnama ketika jarak pandang paling baik.
Warga Takome, Junaidi, mengatakan sejak 2023 masyarakat desa mengambil inisiatif untuk melakukan patroli rutin. Sejak patroli dimulai, mereka telah menggagalkan tiga kasus perburuan. Pada patroli Desember lalu, mereka berhasil menyelamatkan 15 kuskus dewasa dan empat anaknya dari empat pemburu.
"Kami melihat sinar lampu di sisi lain (danau). Mereka hendak masuk lebih dalam ke hutan, dan kami mengirim beberapa orang untuk memeriksanya. Benar saja, ketika kami mendekat, terdengar suara tembakan," kata Junaidi soal kasus Desember lalu.
Warga kemudian melaporkannya ke polisi setempat dan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Empat pemburu itu berhasil dicegat ketika berjalan ke permukiman terdekat.
Ahmad Doyada dari BKSDA mengatakan hanya ada empat petugas yang menjaga pulau seluas 76km persegi itu, sehingga mereka sangat mengandalkan dukungan dan pengawasan warga Desa Takome.
"Petugas kami terbatas, dan wilayah itu cukup jauh dari kantor kami, jadi kami meminta bantuan warga. Jika ada yang berburu, kami minta mereka memberi tahu kami," kata Ahmad.
Ahmad mengatakan kantornya telah memasang papan peringatan yang menyatakan perburuan spesies dilindungi adalah tindakan ilegal dan dapat dihukum hingga lima tahun penjara, denda maksimal Rp100 juta, atau keduanya.
“Para pemburu sering beralasan tidak tahu kalau kuskus mata-biru adalah spesies dilindungi,” kata dia. Dengan adanya papan peringatan itu, Ahmad berharap tidak ada lagi alasan tersebut.
Ahmad mengatakan Pemerintah Provinsi Maluku Utara juga tengah menyusun peraturan daerah yang akan memperkuat upaya perlindungan dan konservasi kuskus mata-biru.
Proses penyusunan masih berlangsung. Setelah rancangan selesai, dokumen itu harus dibahas oleh DPRD sebelum disahkan dan diundangkan menjadi peraturan daerah. Proses pembahasan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
INISIATIF DESA TAKOME
Doyada mengatakan belum ada studi resmi mengenai jumlah populasi kuskus mata-biru sehingga menyulitkan upaya konservasi.
Tanpa data dasar tentang jumlah populasi yang tersisa, angkanya meningkat atau menurun, petugas akan kesulitan mengukur dampak nyata dari perburuan maupun hilangnya habitat.
Tanpa estimasi populasi, sulit menguatkan alasan untuk perlindungan lebih ketat, mendapatkan dana, atau merancang pengelolaan jangka panjang yang tepat bagi spesies ini.
Dengan kurangnya penelitian resmi, masyarakat desa Takome akhirnya mengambil inisiatif untuk bergerak sendiri. Warga desa secara rutin melakukan penjelajahan hutan, mendokumentasikan penampakan, perilaku dan lokasi kuskus dan satwa lainnya.
Yuhdi berharap dokumentasi soal habitat utama dan pola musiman kuskus mata-biru bisa membantu peneliti dalam membaca tren dan menyusun gambaran lebih jelas tentang spesies yang belum banyak dikaji ini.
"Kami sering melakukan diskusi dengan para peneliti yang datang soal apa yang mereka perlukan dan bagaimana masyarakat bisa membantu," kata dia.
Sebagai gantinya, kelompok konservasi alam dan para peneliti menggelar pelatihan bagi relawan lokal tentang dasar pemantauan satwa liar, identifikasi spesies, dan pencatatan data, agar mereka mampu mendokumentasikan hewan secara lebih akurat dan aman di hutan.
Kelompok ini juga membantu menjadikan area perkemahan lebih ramah lingkungan, dengan menyediakan berbagai piranti seperti lampu sensor gerak dan panel surya. Warga juga mendapat edukasi soal manajemen limbah, mulai dari sistem pengumpulan botol plastik hingga membuat pupuk kompos, demi mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Sejak area perkemahan kembali beroperasi setelah jeda pandemi pada 2022, kelompok pemuda Desa Takome mendapat pujian dan pengakuan dari berbagai organisasi di Ternate maupun luar daerah.
Sejumlah perusahaan kemudian memberikan donasi yang memungkinkan kawasan tersebut dikembangkan.
“Kami baru saja menambah kabin agar tamu yang tidak ingin bermalam di tenda memiliki tempat menginap yang nyaman,” kata Yuhdi. Ia menambahkan, dirinya juga berharap dapat membangun anjungan pengamatan burung dan tempat intai berkamuflase agar pengunjung dapat mengamati satwa tanpa mengganggunya.
Kini lokasi itu lebih ramai dari sebelumnya, menarik wisatawan, pencinta alam, dan ilmuwan dari seluruh Indonesia serta berbagai negara. Pada musim liburan sekolah, area perkemahan Pulo Tareba bisa kedatangan hingga 200 wisatawan per hari.
Keterlibatan masyarakat pun meningkat, semakin banyak warga yang turut ambil bagian dalam membantu pembangunan, operasional harian, hingga patroli konservasi. Bahkan mereka yang sudah punya pekerjaan tetap kerap membantu di malam hari sepulang kerja.
Namun bagi para relawan, imbalan terbesar adalah melihat kuskus mata-biru kembali bermunculan.
“Ketika pertama kali memulai, kami bisa menghabiskan semalaman tanpa bertemu satu pun kuskus. Sekarang, kurang dari 15 menit berjalan saja kami sudah menemukannya,” ujar Yuhdi.
“Saya berharap ini menjadi tanda bahwa semua kerja keras kami dalam melindungi kuskus akhirnya membuahkan hasil.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.