Krisis berkepanjangan sampah Tangsel, tumpukan setinggi 3 meter tutup separuh jalan
Air lindi mengalir bebas, lalat beterbangan, belatung muncul tanpa malu-malu yang menyebabkan bau menyengat.
Gunungan sampah di kota Tangerang Selatan (Nasibrakyat.com)
JAKARTA: Status tanggap darurat sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) resmi berakhir pada Senin (5/1). Tapi di lapangan? Cerita beda. Sampah masih menang telak.
Sejumlah pasar tradisional justru jadi monumen kegagalan pengelolaan. Di Pasar Cimanggis, Pasar Ciputat, dan Pasar Jombang, tumpukan sampah menggunung, meluber ke badan jalan, dan menyebar bau menyengat yang bikin kepala nyut-nyutan.
Gunungan sampah di tiga pasar itu bahkan menutup hampir separuh jalan. Air lindi mengalir bebas, lalat beterbangan, belatung muncul tanpa malu-malu. Ini bukan insiden sehari dua hari. Masalah ini sudah menghantui Tangsel sejak pertengahan Desember 2025 dan belum kelihatan ujungnya.
Kondisi paling parah terlihat di Pasar Cimanggis dan Pasar Jombang. Ketinggian sampah disebut mencapai sekitar tiga meter, nyaris menyentuh atap kios pedagang. Di Pasar Ciputat dan Cimanggis, sampah meluber hingga menutup separuh jalan raya dan memanjang di trotoar sekitar 10 meter, diwartakan Kompas.com.
JERITAN PEDAGANG DAN PENGENDARA
Di tengah kondisi itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq sebelumnya menyebut Tangerang Selatan sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia. Predikat serupa juga disematkan kepada Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang yang sama-sama berada di Provinsi Banten.
Hanif bahkan sempat melontarkan ancaman serius kepada Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie. Ancaman itu berkaitan dengan penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong, yang berimbas langsung pada penumpukan sampah di berbagai sudut kota
“Berdasarkan Pasal 40 Undang-Undang 18/2008, sampah merupakan tanggung jawab Wali Kota,” katanya. Dalam aturan tersebut tercantum ancaman pidana minimal empat tahun jika persoalan sampah tidak ditangani dengan benar.
Di tingkat bawah, dampaknya dirasakan langsung pedagang. Hartini, 42, pedagang sayuran di Pasar Jombang, mengatakan penumpukan sampah sudah terjadi sejak sebelum pergantian tahun. Menurutnya, sampah mulai menggunung sejak akhir Desember dan hingga kini belum terangkut sepenuhnya.
“Ada sekitar hampir sebulanan, sekitar akhir-akhir Desember mulai numpuk. Udah ada juga yang angkutin, ada berapa kali, kayanya ada sekitar 2 kali tapi gak semuanya, mungkin bertahap kali angkutinnya,” katanya kepada Satelit News.
Hartini menyebut sampah memang tidak langsung menutup lapaknya. Namun bau menyengat, akses pasar yang tertutup, serta area parkir yang lumpuh membuat aktivitas jual beli makin tidak nyaman.
“Tapi paling cuma bau dan parkirnya jadi susah. Soalnya di sana ada akses masuknya tapi malah tertutup sampah. Sebelum ada sampah juga penjualan sudah menurun banget,” lanjut perempuan yang sudah 25 tahun berdagang itu.
Ia juga menegaskan sebagian besar sampah bukan berasal dari aktivitas pasar. Warga sekitar diduga membuang sampah ke area pasar karena pengangkutan di lingkungan mereka tidak berjalan lancar.
“Kalau dari pasar mah nggak banyak sih,” sebutnya.
Keluhan serupa datang dari pengguna jalan. Soleh, 45, pengendara motor yang berprofesi sebagai driver ojek online, mengaku sangat dirugikan oleh kondisi tersebut.
“Dari segi kesehatan sangat mengganggu dari bau yang menyengat dan aktivitas pengguna jalan sering terganggu dengan adanya ini. Karena saya lewat sini hampir setiap hari, harapan saya pemda Tangsel sesegera mungkin untuk mempercepat mengkondisikan sampah yang sangat mengganggu ini,” bebernya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.