Submarine rescue pertama Indonesia tiba, ini kecanggihan KRI Canopus-936
Sebanyak 93 personel telah menjalani pelatihan di Jerman untuk mengoperasikan kapal hidrografi dan penyelamatan bawah laut.
TNI Angkatan Laut (AL) menyambut kedatangan KRI Canopus-936 di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/5/2026). (Facebook/ASEAN urbanist via Agus Hermansyah)
JAKARTA: TNI Angkatan Laut resmi menerima kapal penyelamat kapal selam pertama milik Indonesia, KRI Canopus-936, yang kini memperkuat kemampuan pencarian dan penyelamatan bawah laut.
Kapal tersebut tiba di Dermaga Kolinlamil, Jakarta, pada Senin (11/5), dan disambut Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, serta Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Muhammad Ali bersama jajaran pejabat TNI AL.
“Kapal ini merupakan submarine rescue pertama yang kita miliki,” kata Ali dilansir Antara.
Ia menjelaskan, KRI Canopus-936 menempuh pelayaran panjang sebelum tiba di Indonesia, dengan rute yang melintasi Samudra Atlantik dan singgah di sejumlah negara.
“Singgahnya di beberapa negara, dari mulai Spanyol, kemudian Nigeria, Afrika Selatan, Mauritius, kemudian ke Lampung, dan akhirnya ke Jakarta. Jadi pelayaran ini cukup panjang dan Alhamdulillah selama pelayaran dalam keadaan aman,” ujarnya.
DILENGKAPI TEKNOLOGI SURVEI HINGGA OPERASI MILITER
KRI Canopus-936 merupakan hasil kerja sama perusahaan pembuat kapal asal Jerman, Abeking & Rasmussen (A&R), dengan PT Palindo Marine. Sekitar 60 persen komponennya berasal dari dalam negeri.
Melansir Antara, kapal ini dilengkapi berbagai teknologi, seperti Hydrographic Survey Launcher (HSL), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Surface Vehicle (ASV), Unmanned Aerial Vehicle (UAV), hingga unmanned underwater vehicle (UUV).
Ali menyebut, kapal ini dirancang sebagai kapal bantu hidrografi oseanografi untuk melakukan survei dan pemetaan bawah laut secara detail.
“Peralatan itu digunakan untuk melakukan survei hidrografi, oseanografi, geofisika, hingga pemetaan secara detail di dasar laut,” katanya.
Selain itu, KRI Canopus-936 memiliki kemampuan survei laut dalam maupun laut dangkal, termasuk di wilayah pesisir dengan dukungan dua kapal kecil yang dibawanya.
Kapal ini juga dapat menjalankan misi pencarian dan pertolongan (SAR) di bawah air, termasuk mendeteksi sinyal darurat dan melacak objek di dasar laut, serta mendukung operasi penyelamatan kapal selam.
Tak hanya itu, KRI Canopus-936 dapat digunakan untuk operasi militer seperti pemetaan jalur kapal selam, deteksi ranjau laut, patroli keamanan, hingga dukungan intelijen maritim.
Untuk mendukung pengoperasian teknologi tersebut, sebanyak 93 personel telah menjalani pelatihan selama tujuh bulan di bidang hidrografi di Jerman, serta sebelumnya mengikuti pendidikan di Prancis dan Indonesia.
“Mereka melaksanakan pelatihan di Jerman, dan sebelumnya juga mereka pernah melaksanakan pelatihan dan pendidikan di Prancis dan Indonesia. Kita sudah ada sekolah hidrografi,” ungkap Ali.
Saat ini, TNI AL telah memiliki dua kapal survei modern, yakni KRI Spica (934) dan KRI Rigel (933). KRI Canopus-936 nantinya akan berada di bawah Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) untuk mendukung survei di seluruh perairan Indonesia, termasuk dalam kegiatan Ekspedisi Jala Citra.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.