Korea Selatan siap investasi LRT Bali, perlu dana Rp167 triliun
Rute fase pertama sepanjang 16 km akan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan Sentral Parkir Kuta, Seminyak, Berawa, dan Cemagi.
JAKARTA: Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa proyek Light Rail Transit (LRT) Bali atau Bali Urban Subway akan didukung oleh investor dari Korea Selatan serta investor dalam negeri.
“Ada dua investor, dari Korea dan dalam negeri,” ujar Budi dalam keterangannya kepada Bisnis usai rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (9/9).
Menurut Budi, investor asal negeri "Ginseng" masih menunjukkan minat yang tinggi terhadap proyek ini, sementara beberapa investor lokal juga tertarik untuk terlibat.
"Semakin banyak investor yang bergabung, tentu semakin baik," tambahnya.
Budi membantah rumor yang beredar terkait keterlibatan China Railway Construction Corporation (CRCC), yang sebelumnya terlibat dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dalam pendanaan LRT Bali.
Ada spekulasi bahwa CRCC akan bekerja sama dengan kontraktor lokal PT Sinar Bali Bina Karya (Sinar Bali), namun Budi menepis kabar tersebut.
Meski demikian, ia tidak mengungkapkan lebih rinci nama-nama perusahaan dari Korea Selatan maupun Indonesia yang akan berinvestasi.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali telah menunjuk PT Bumi Indah Prima untuk memimpin konsorsium investor dalam proyek LRT ini.
Proyek pembangunan telah dimulai pada 4 September dengan peletakan batu pertama oleh Penjabat Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, di Sentral Parkir Kuta.
Subway Bali direncanakan akan dibangun di bawah tanah dengan kedalaman 30 meter dan akan terbagi dalam empat fase.
Total nilai proyek ini diperkirakan mencapai US$ 10,8 miliar atau sekitar Rp167 triliun.
Pada fase pertama, rute sepanjang 16 km akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Sentral Parkir Kuta, Seminyak, Berawa, dan Cemagi.
Fase kedua, sepanjang 13,5 km, direncanakan menyambung Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan Jimbaran, Universitas Udayana, dan Nusa Dua.
Fase ketiga dibangun dari Sentral Parkir Kuta menuju ke Sesetan, Renon, dan Sanur, sedangkan fase keempat akan menghubungkan Renon dengan Sukawati dan Ubud.
Pemerintah menargetkan fase pertama proyek besar ini dapat selesai pada akhir kuartal kedua tahun 2028, dengan keseluruhan fase pertama dan kedua diproyeksikan beroperasi penuh pada akhir tahun 2031.
Proyek LRT Bali diharapkan dapat mengurangi kemacetan, terutama bagi para penumpang Bandara I Gusti Ngurah Rai yang diperkirakan mencapai 24 juta orang pada 2025.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini