Korban tewas banjir bandang Sumatra hampir tembus 1.000 orang, pengungsi nyaris 1 juta
Aceh dan Sumatra Utara memperpanjang status darurat bencana.
JAKARTA: Sudah hampir dua pekan sejak banjir bandang dan tanah longsor hebat melanda Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) pada akhir November.
Jumlah korban jiwa hampir mencapai empat digit, yakni 971 orang, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis pagi (12/11).
Aceh mencatat korban tewas terbanyak dengan 391 jiwa, disusul Sumut 340 jiwa, dan Sumbar 240 jiwa. Sebanyak 5.000 warga terluka, sementara 255 orang masih dalam pencarian hingga kini.
BNPB melaporkan bahwa bencana ini merusak 157.900 rumah di 52 kabupaten terdampak. Selain itu, terdapat kerusakan pada 1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung/kantor, serta 498 jembatan.
Jumlah pengungsi hampir menembus angka 1 juta yaitu tepatnya 902.545 jiwa di tiga provinsi.
Proses pencarian dan evakuasi korban hilang masih terus dilakukan, bersamaan dengan pemulihan akses jalan yang sebelumnya terputus.
ACEH DAN SUMUT PERPANJANG STATUS DARURAT
Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) memutuskan memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi selama 14 hari, mulai 12 hingga 25 Desember 2025.
“Kita sudah survei ke lapangan, kita butuh perpanjangan selama dua minggu lagi untuk rehabilitasi dan infrastruktur,” kata Mualem di Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu (10/12) malam.
Mualem juga meminta percepatan penyaluran BBM dan gas ke sejumlah wilayah yang masih terisolasi seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Aceh Utara.
“BBM kurang di sana, tapi kita kebut untuk buka akses,” ujarnya.
Sumatra Utara juga memperpanjang masa tanggap darurat banjir dan longsor selama dua pekan, dari 10 hingga 23 Desember 2025. Pemerintah daerah menyebut 18 kabupaten/kota terdampak masih belum berada dalam kondisi aman.
Di Sumatra Barat, 24 jenazah korban banjir bandang dimakamkan secara massal di TPU Bungus, Teluk Kabung, Padang, pada Rabu siang. Pemakaman massal dilakukan karena hingga hari ke-12 pasca bencana, 24 jenazah tersebut belum teridentifikasi dan tidak ada kecocokan DNA dengan warga.
“Pemakaman dilakukan dalam satu liang kubur. Jadi 24 peti jenazah itu dimasukkan dalam satu liang,” ucap Sekda Provinsi Sumbar Arry Yuswandi kepada CNN Indonesia.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.