KNKT soroti sinyal hijau dan komunikasi lambat dalam tabrakan maut kereta Bekasi
Komunikasi antar-pengendali perjalanan disebut memakan jeda karena informasi harus diteruskan melalui beberapa pihak.
Orang-orang menyaksikan seorang teknisi bekerja di lokasi tabrakan maut antara kereta komuter dan kereta jarak jauh di Bekasi. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
JAKARTA: KNKT mengungkap dugaan gangguan sinyal dan lambatnya komunikasi antar-pengendali perjalanan kereta menjadi faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur yang menewaskan 16 orang dan melukai puluhan lainnya pada 27 April lalu.
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memaparkan sejumlah temuan awal investigasi dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (21/5).
Menurut Soerjanto, salah satu faktor yang disorot ialah gangguan visibilitas sinyal bantu akibat distraksi cahaya dari lingkungan sekitar jalur rel.
“Yang pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut,” ujar Soerjanto.
Ia menyebut masinis dan asisten masinis diduga tidak dapat melihat sinyal bantu secara jelas karena gangguan cahaya di sekitar lintasan.
Selain persoalan sinyal, KNKT juga menyoroti adanya jeda komunikasi antar-petugas pengendali perjalanan kereta (PK) saat insiden terjadi.
Menurut Soerjanto, laporan awal mengenai temperan KRL dengan mobil taksi diterima pengendali wilayah selatan, sementara perjalanan KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah kendali wilayah timur.
Akibatnya, informasi harus diteruskan melalui beberapa pihak sebelum akhirnya sampai kepada masinis KA Argo Bromo Anggrek.
“Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya,” terangnya.
KA TETAP MELAJU KARENA DAPAT SINYAL HIJAU
KNKT mengungkap KA Argo Bromo Anggrek tetap melaju karena menerima sinyal hijau meski sebelumnya telah terjadi insiden KRL tertemper mobil taksi di perlintasan sebidang JPL 85 Bekasi Timur.
“Pukul 20.50.43, KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 beraspek hijau atau berwarna hijau,” ujar Soerjanto dalam rapat yang disiarkan KompasTV.
Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan rangkaian KRL kemudian terjadi sekitar pukul 20.52 WIB.
Soerjanto menyebut masinis sebenarnya sudah mulai melakukan pengereman sejak sekitar 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan setelah menerima informasi adanya temperan antara KRL dan mobil taksi.
Namun, pengereman tidak dilakukan secara maksimal karena masinis mendapat instruksi untuk mengurangi kecepatan secara bertahap sambil terus membunyikan semboyan 35 atau klakson.
“Karena dia tahunya di komunikasi dari pusat kendali, ‘ada temperan di JPL 85. Kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35,’ artinya banyak-banyak klakson,” urai Soerjanto.
Menurut KNKT, apabila pengereman maksimum dilakukan, kereta diperkirakan membutuhkan jarak sekitar 900 meter hingga satu kilometer untuk berhenti sepenuhnya.
Meski demikian, KNKT menegaskan seluruh paparan tersebut masih berupa data faktual awal investigasi dan belum menjadi kesimpulan akhir penyebab kecelakaan.
“Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” tegas Soerjanto.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.