Skip to main content
Iklan

Indonesia

Cuaca ekstrem, kelalaian manusia: Tenggelamnya kapal di Selat Bali dan bahaya pelayaran di Asia Tenggara

Tenggelamnya kapal feri di Bali pada awal Juli lalu membuat keselamatan pelayaran di Indonesia jadi sorotan. Para pakar mengatakan, cuaca yang memburuk ditambah kurangnya penegakan hukum menyumbang dalam insiden ini.

 

Cuaca ekstrem, kelalaian manusia: Tenggelamnya kapal di Selat Bali dan bahaya pelayaran di Asia Tenggara

Pencarian KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di dekat Bali, 3 Juli 2025. (Foto: Reuters/Johannes P. Christo)

JAKARTA/SINGAPURA: Di tengah awan badai yang menggantung dan ombak ganas, kapal feri KMP Tunu Pratama Jaya angkat sauh dari ujung timur Jawa pada sore hari tanggal 2 Juli lalu.

Kondisi itu membuat para penumpang, kru dan petugas pelabuhan telah bersiap untuk pelayaran yang tak bersahabat pada perjalanan rutin dari pelabuhan Banyuwangi ke Gilimanuk melintasi Selat Bali. 

Tapi di tengah pelayaran sejauh 4,5km itu, gelombang kuat menghantam tanpa peringatan. Berdasarkan pengakuan penumpang dan saksi lainnya kepada media, ombak mengguncang kapal itu dengan hebat.

"Kejadiannya cepat, ombak tinggi masuk, kapal miring. Kendaraan (di dek kapal) juga ikut tertarik. Ombak datang lagi, mesin mati. Cuma hitungan tiga menit langsung tenggelam," kata seorang penumpang, Syamsul Hidayat, dalam wawancaranya yang viral di TikTok.

Kapal tenggelam dengan cepat, membuat 65 orang di dalamnya tidak punya cukup waktu mengenakan jaket pelampung atau naik ke sekoci penyelamat. Bahkan mereka yang berhasil selamat, seperti Syamsul, masih harus terapung di Selat Bali dengan ombaknya yang kencang selama lima jam sebelum akhirnya diselamatkan.

Per Senin (14/7), sudah ditemukan 18 korban tewas dalam peristiwa itu. Pencarian masih dilakukan untuk 17 penumpang lainnya yang dinyatakan hilang. Sementara itu, pada Sabtu lalu, tim SAR gabungan berhasil menemukan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya dalam kondisi terbalik di dasar laut.

Tim BASARNAS mencari para korban tenggelam di kapal feri KMP Tunu Pratama Jaya, 3 Juli 2025. (Foto: BASARNAS)

Tenggelamnya kapal feri di Indonesia adalah satu lagi insiden mematikan di lautan Asia Tenggara, sebuah tren yang oleh para pakar dikaitkan dengan kondisi alam yang tak menentu akibat cuaca ekstrem.

Insiden terbaru di Indonesia kembali memicu kekhawatiran soal standar keamanan kapal dan kelayakan sistem peringatan dini di jalur laut Asia Tenggara yang padat dan kian rentan akibat perubahan iklim.

Seiring semakin tidak menentunya cuaca, para pakar mengatakan bahwa pemerintah, operator dan penumpang harus juga segera beradaptasi demi menghindari risiko kecelakaan yang lebih parah di masa mendatang.

GELOMBANG LAUT SEMAKIN GANAS

Gelombang laut sempat relatif tenang pada tahun 2023 ketika musim kemarau panjang terjadi di Indonesia. Namun beberapa tahun setelahnya, angka kecelakaan laut meningkat. Data Kementerian Perhubungan Indonesia mencatat terdapat 128 kecelakaan laut pada 2024, naik dibandingkan 87 insiden pada 2020.

Para pakar menduga angka itu hanyalah puncak gunung es. Pasalnya, kecelakaan yang melibatkan kapal-kapal nelayan tradisional tidak tercatat resmi.

Peningkatan kecelakaan laut terjadi juga di Malaysia, dengan 270 insiden pada 2022, naik dari 242 pada tahun 2020. Angka tersebut sedikit menurun dalam beberapa tahun berikutnya, dengan 253 insiden pada 2023, dan 226 pada 2024.

Namun, ada kekhawatiran jumlahnya bisa kembali meningkat di tahun ini.

Antara Januari dan Mei 2025 terjadi 108 insiden di perairan Malaysia, ujar Mohd Tahir, pejabat di Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM). Total 251 orang menjadi korban dalam berbagai insiden tersebut, 203 di antaranya berhasil diselamatkan, 36 tewas dan 12 masih hilang. 

Tahir memperingatkan jika insiden terus terjadi, akan ada 100 korban jiwa di laut Malaysia pada akhir 2025, tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, 64 orang tewas dalam insiden di laut dan 90 orang pada 2023.

“Oleh karena itu, sangat perlu untuk meningkatkan kesadaran publik tentang keselamatan maritim, tidak hanya di kalangan komunitas kelautan tetapi juga masyarakat umum yang mungkin berada dalam risiko saat berada di laut,” kata Tahir seperti dikutip oleh media lokal New Straits Times, 28 Juni lalu.

Para pakar menyoroti cuaca ekstrem sebagai penyebab utama meningkatnya insiden di perairan, dengan kondisi laut yang semakin tak menentu sehingga membuat kapal-kapal rentan diterjang ombak tinggi.

Tim penyelamat mengevakuasi jenazah korban kapal feri tenggelam di Selat Bali yang dievakuasi dari laut oleh nelayan setempat pada 3 Juli 2025. (Foto: BASARNAS)

Kapal feri di Bali tenggelam akibat diterjang angin kencang dan gelombang tinggi. Padahal, pakar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan seharusnya di musim ini laut sedang tenang dan langit cerah. 

Kapal tersebut ditemukan di kedalaman 49 meter di bawah laut, terseret arus kuat sekitar 1,5 km dari lokasi awal tenggelam. Petugas meyakini ada beberapa korban yang kemungkinan masih terjebak di dalamnya.

Biasanya, 60 persen wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan pada akhir bulan Juni. Namun sebaliknya, BMKG telah melaporkan adanya curah hujan ekstrem di beberapa daerah, di antaranya memicu banjir bandang dan tanah longsor.

"Meskipun sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau, kondisi atmosfer dan laut masih sangat dinamis dan bisa berdampak pada keselamatan serta kelancaran aktivitas masyarakat," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam pernyataannya 3 Juli lalu.

Pola cuaca yang tidak biasa pada tahun ini juga dialami oleh Malaysia.

Pada 8 Juli lalu, Jabatan Meteorologi Malaysia (MET Malaysia) mengeluarkan peringatan hujan badai selama tiga hari di beberapa wilayah. Padahal sebulan sebelumnya, MET Malaysia mengeluarkan peringatan gelombang panas di wilayah yang sama.

Peringatan badai dikeluarkan hanya selang beberapa hari setelah perahu fiberglass kecil yang membawa 17 orang terbalik akibat angin kencang di Pantai Belawai, Sarawak. Sepuluh orang tewas dalam insiden tersebut.

Sepekan sebelumnya, gelombang tinggi juga menyebabkan kapal lain terbalik di Terengganu, menewaskan tiga dari 15 penumpang.

Para ilmuwan meyakini perubahan iklim tidak hanya menggeser pola cuaca, tetapi juga membuatnya kian ekstrem, menyebabkan semakin seringnya kecelakaan dan bencana akibat cuaca di seluruh dunia, termasuk di Asia Tenggara.

Asia Tenggara terletak di antara dua penggerak utama fenomena cuaca global: Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Perbedaan suhu di berbagai bagian kedua samudera ini dapat memicu kekeringan berkepanjangan di beberapa wilayah, sementara wilayah lainnya mengalami hujan deras berhari-hari.

Perbedaan suhu ini memicu sistem iklim besar, El Nino dan La Nina di Samudera Pasifik, serta dipol positif dan negatif di Samudera Hindia.

“Dulu, El Nino dan La Nina bergantian setiap beberapa tahun. Tapi sekarang, keduanya berosilasi lebih sering dan intensitas cuaca menjadi semakin ekstrem,” kata pakar perubahan iklim di Jakarta, Mahawan Karuniasa, kepada CNA, seraya menambahkan bahwa tren serupa juga terjadi pada dipol Samudera Hindia.

Beberapa wilayah di Asia Tenggara bahkan telah mengalami peristiwa cuaca yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dua anak berlari melintasi sawah yang mengering di Desa Ridogalih, Jawa Barat, di mana warga mengalami kekurangan air selama musim kemarau 2023. (Foto arsip: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

Pada April 2021, Siklon Seroja menghantam Pulau Timor, pulau yang dibagi antara Indonesia dan Timor-Leste, memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan lebih dari 270 orang.

Wilayah tersebut kemungkinan besar tidak siap secara struktural maupun kelembagaan menghadapi bencana semacam itu, karena siklon biasanya terbentuk jauh lebih ke selatan di Samudera Hindia.

“Mayoritas bencana di Asia Tenggara bersifat hidrometeorologis, seperti banjir, tanah longsor, badai, dan gelombang tinggi. Bencana-bencana ini semakin sering terjadi,” kata Mahawan.
 

Perairan China: Lebih aman tapi tidak bebas risiko

oleh Melody Chan

Meningkatkan keselamatan maritim juga menjadi pekerjaan yang terus dilakukan di negara-negara Asia lainnya, salah satunya China.

Dalam sepuluh tahun terakhir, bencana maritim paling mematikan di masa damai telah menjadi penentu, bukan hanya karena banyaknya korban tetapi juga berbagai perubahan yang dilakukan setelahnya.

Pada Juni 2015, kapal pesiar Eastern Star terbalik saat berlayar di Sungai Yangtze, menewaskan 442 orang. Sebagian besar korban adalah wisatawan lansia.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kapal tersebut berlayar memasuki badai petir hebat. Angin kencang dan hujan deras, ditambah kesalahan manusia dan kelalaian dalam pengawasan, menyebabkan terjadinya tragedi tersebut.

Tragedi ini mendorong gelombang reformasi setelah protokol keselamatan dan respons darurat di jalur air pedalaman China ditinjau ulang secara menyeluruh.

Pemerintah Beijing memperketat aturan pelayaran saat cuaca buruk, meningkatkan standar desain kapal, memperkenalkan pelacakan real-time, dan meningkatkan pelatihan keselamatan awak kapal. Kapal-kapal tua dipensiunkan, dan operator yang dianggap tidak memenuhi standar keamanan dimasukkan dalam daftar hitam.

Dulu, dibutuhkan delapan jam bagi tim penyelamat untuk mencapai lokasi Eastern Star karam. Kini, provinsi seperti Jiangsu telah membentuk zona tanggap darurat membuat bantuan bisa tiba dalam waktu hanya satu jam, dan sebagian besar kapal penumpang kini dilengkapi sistem peringatan pintar serta alat evakuasi darurat.

Data menunjukkan perubahan ini. Jumlah kematian akibat kecelakaan transportasi air menurun lebih dari 60 persen antara tahun 2015 hingga 2023, berdasarkan laporan Administrasi Keselamatan Maritim China.

Namun risiko masih tetap ada, terutama di sungai kecil dan wilayah pedesaan.

Kapal China eastern star yang tenggelam di China.
Seorang petugas penyelamat melempar bunga pada upacara menandai hari ketujuh setelah terbaliknya kapal Eastern Star di Sungai Yangtze, provinsi Hubei, China, pada tanggal 7 Juni 2015. (Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon)

Sedikitnya dua insiden fatal terjadi di China dalam beberapa bulan terakhir, semuanya diakibatkan oleh angin kencang yang datang tiba-tiba.

Pada Mei, empat kapal wisata terbalik di Provinsi Guizhou saat badai datang secara tiba-tiba, menewaskan 10 orang. Para ahli kemudian mengonfirmasi adanya kecepatan angin yang mencapai rekor tertinggi ketika itu, diperparah kondisi topografi di wilayah tersebut.

Pada awal Juli, sebuah kapal wisata yang membawa 29 penumpang terbalik di Danau Dongjiang, Provinsi Hunan. Dua orang tewas, sementara 27 lainnya berhasil diselamatkan. Penyelidik menyatakan kapal dihantam angin kencang sesaat sebelum terguling.

Cuaca ekstrem seperti angin kencang yang muncul tiba-tiba karena badai lokal maupun dari aktivitas monsun kini makin sering terjadi, membuat para pakar mempertanyakan apakah ini akibat dari pola angin yang berubah karena pengaruh perubahan iklim global.

Wang Lin, peneliti di Pusat Penelitian Sistem Monsun di Chinese Academy of Sciences, mengatakan kepada CNA bahwa topan biasanya berdampak terbatas di wilayah pedalaman seperti Hubei — tempat tenggelamnya Eastern Star — tetapi menimbulkan risiko lebih besar di pesisir timur.

“Selama sepuluh tahun terakhir, kami mengamati tren pergeseran topan ke arah utara dan semakin kuat, yang menunjukkan meningkatnya risiko bagi daerah utara China,” ujar Wang.

Meski begitu, ia mencatat bahwa kemampuan China saat ini cukup maju dalam meramalkan jalur dan intensitas topan, serta memiliki kapasitas respons yang baik terhadap risiko-risiko tersebut.

Di luar risiko iklim, kelalaian manusia menjadi perhatian.

Kelebihan muatan, perizinan yang longgar, dan kurangnya peringatan dini terkait cuaca ekstrem terus muncul sebagai faktor berulang dalam insiden maritim di China.

Meski penegakan hukum telah diperkuat di jalur air utama seperti Sungai Yangtze, namun kapal feri dan kapal wisata tak terdaftar masih banyak beroperasi di sungai-sungai kecil dan danau pedalaman.

Dan seiring meningkatnya pariwisata pedesaan serta memburuknya cuaca, para pakar mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan keselamatan menjangkau kapal-kapal kecil juga, sebelum badai datang menerjang.

Collapse

MASALAH KLASIK YANG MERONGRONG

Meski risiko akibat perubahan iklim semakin tinggi di sepanjang perairan Asia Tenggara, namun para pengamat mengatakan bahwa masalah klasik masih terus merongrong keselamatan pelayaran, seperti standar keselamatan yang longgar, kapal-kapal tua, dan lemahnya penegakan hukum.

Kecelakaan terbaru di Indonesia dan Malaysia menjadi pengingat jelas akan masalah ini. Para pakar mengatakan, jatuhnya korban jiwa seharusnya bisa dicegah jika protokol keamanan tidak diabaikan.

Dalam kecelakaan di Terengganu, misalnya, aparat Malaysia menemukan bahwa agen perjalanan dan operator kapal tidak memiliki izin resmi. Sementara itu nakhoda kapalnya, yang kemudian dinyatakan positif narkoba, tidak memastikan para penumpang telah mengenakan jaket pelampung.

Pakar maritim di Kuala Lumpur, Nazery Khalid, mengatakan bahwa Malaysia tidak kekurangan regulasi keselamatan maritim, tetapi penegakan hukumlah yang menjadi titik lemahnya sistem, seperti yang bisa dilihat pada insiden Terengganu.

“Pemilik atau operator kapal seharusnya tidak diizinkan mengangkut penumpang sejak awal dan mempekerjakan nakhoda dengan latar belakang seperti itu jika pemeriksaan dilakukan lebih ketat dan penegakan hukum yang tegas dilakukan oleh otoritas terkait,” kata Nazery kepada CNA.

"Ini tidak bisa diterima dan jelas merupakan kegagalan penegakan peraturan."

Para ahli mengatakan bahwa Thailand dulu menghadapi tantangan serupa terkait lemahnya penegakan regulasi keselamatan maritim.

Namun hal itu berubah pada Juli 2018, ketika sebuah kapal wisata bertingkat dua, Phoenix PC Diving, terbalik di dekat Phuket akibat badai yang terjadi tiba-tiba. Sebanyak 46 orang tewas, semuanya adalah turis asal China.

Penyelidikan menemukan bahwa kapal tersebut telah mengabaikan peringatan cuaca buruk yang keluar sehari sebelumnya. Polisi juga menemukan bahwa kapal dibuat dengan material dan desain di bawah standar.

Tragedi ini memicu penurunan tajam kunjungan turis China ke Phuket, menyebabkan kerugian lebih dari US$1 miliar dalam bentuk pendapatan yang hilang bagi pulau tersebut.

Kapal Polisi Pariwisata Thailand bersiap sandar di dermaga Chalong di Phuket pada 6 Juli 2018 dalam operasi penyelamatan turis yang hilang setelah insiden kapal terbalik pada 5 Juli. (Foto: AFP/Mohd Rasfan)

Di bawah tekanan internasional, Thailand akhirnya memperketat penegakan hukum keselamatan maritim, termasuk aturan wajib selalu mengenakan jaket pelampung untuk para penumpang dan awak kapal.

Aturan tersebut dikombinasikan dengan penegakan yang konsisten terbukti telah menyelamatkan nyawa.

Sebanyak 38 orang berhasil selamat, termasuk 33 turis China, ketika kapal mereka tenggelam di Laut Andaman, lepas pantai pulau wisata Ko Racha Yai, pada 13 Januari silam.

“Kebijakan wajib mengenakan jaket pelampung terbukti sangat krusial,” kata Nachapong Pranit, direktur kantor pelabuhan regional Phuket, setelah insiden tersebut, seperti dikutip oleh media Thailand Khaosod.

“Semua penumpang mengenakan jaket pelampung saat keadaan darurat terjadi, memungkinkan mereka tetap mengapung dengan aman hingga tim penyelamat tiba.”

Sejak tragedi tahun 2018 itu, tidak ada lagi kecelakaan laut besar di Thailand.

Thailand memang telah meningkatkan dan menegakkan aturan keselamatan pelayaran, namun Indonesia masih kesulitan melakukan hal yang sama.

“Andaikan saja (operator kapal) mematuhi aturan, jumlah kecelakaan pasti akan turun,” kata Setyo Nugroho, pakar transportasi maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, kepada CNA.

Dia mengatakan, ada kasus di mana operator kapal memuat penumpang melebihi kapasitas demi memaksimalkan keuntungan, atau menghemat biaya dengan melewatkan perbaikan penting pada mesin rusak atau lambung kapal yang sudah rapuh.

“Hal-hal seperti ini terus terjadi dan tidak ada tanda-tanda situasinya berubah,” kata Setyo.

Merespons insiden di Selat Bali, sejumlah anggota DPR mendesak Kementerian Perhubungan untuk memeriksa seluruh kapal feri yang beroperasi di Indonesia. Mereka juga menyerukan agar ada batas usia kapal maksimal 25 tahun untuk yang masih dioperasikan.

Seorang penumpang selamat dari insiden kapal feri di Selat Bali bertemu kembali dengan kerabatnya. (Foto: Reuters/Johannes P Christo)

Menurut catatan resmi, KMP Tunu Pratama Jaya dibuat pada tahun 2010, masih dalam batas usia yang diusulkan.

Pejabat dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan bahwa penyelidikan atas tenggelamnya feri di Selat Bali masih berlangsung, namun mereka mengakui bahwa cuaca buruk merupakan faktor utama penyebabnya.

KNKT juga memeriksa apakah kapal tersebut laik laut dan apakah semua prosedur keselamatan telah dijalankan oleh awak kapal sebelum kejadian.

Para ahli mengatakan Malaysia juga harus meningkatkan frekuensi inspeksi kapal penumpang secara berkala.

“Setiap kapal yang ditemukan memiliki kerusakan mesin, kelemahan struktural, atau perlengkapan keselamatan yang kedaluwarsa, sehingga membuat kapal rentan saat cuaca buruk, harus dihentikan operasinya sampai masalahnya diperbaiki,” kata Hairul Azmi Mohamed, dosen senior di Netherlands Maritime University College (NMUC) di Johor Bahru, kepada CNA.

MENGARUNGI LAUTAN DENGAN TEKNOLOGI

Jika pun negara berhasil memperkuat pengawasan dan penegakan hukum, para ahli mengatakan bahwa langkah itu saja belum cukup mengingat cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.

Untuk memastikan pelayaran lebih aman di tengah kondisi lautan yang semakin tak terduga, para pelaut mungkin harus lebih bergantung pada teknologi.

“Dengan cuaca yang tidak pasti saat ini, perubahan cuaca yang tiba-tiba, sangat penting memiliki sistem pemantauan cuaca yang dapat memberikan informasi atau pembaruan secara berkala kepada operator kapal untuk menjamin keselamatan,” ujar Hairul.

Pakar maritim Nazery sependapat.

“Investasi pada peralatan dan sistem bukan hanya penting, tetapi krusial untuk mencegah insiden maritim, terutama di jalur dan kawasan yang rentan cuaca buruk, badai, atau perubahan kondisi laut dan angin yang cepat,” katanya.

Nazery menyatakan bahwa negara-negara Asia Tenggara perlu mulai berinvestasi lebih besar dalam radar, buoy, dan sensor untuk memperkuat sistem prakiraan cuaca dan peringatan dini mereka.

Lebih mendesak lagi, kata dia, para pemilik dan operator kapal juga harus ikut berperan, karena merekalah kunci dalam menjamin pelayaran yang lebih aman.

Dengan berinvestasi dalam sistem peringatan seluler, alat komunikasi, dan sistem pemantauan satelit beresolusi tinggi, pelaut dapat menentukan jalur pelayaran yang lebih aman dan menghindari cuaca ekstrem, kata Nazery.

Petugas kepolisian dan penyelidik memeriksa kapal feri yang membawa turis dari Bali ke Lombok setelah terjadi ledakan di dalam kapal di Pelabuhan Padangbai, Bali, Indonesia, pada 15 September 2016. (Foto: Reuters/Nyoman Budhiana)

“Yang tak kalah penting, operator kapal juga harus mengalokasikan dana untuk melatih staf dan kru agar dapat menggunakan peralatan dan sistem ini secara efektif,” katanya.

“Para pemilik dan operator kapal ini … harus menanamkan budaya ‘keselamatan adalah yang utama’ dan memastikan seluruh kapal mereka laik laut serta kru mereka terlatih menghadapi berbagai kemungkinan,” ujarnya.

Mahawan, pakar perubahan iklim, mengatakan semua pihak perlu mengubah sikap terhadap keselamatan seiring semakin berbahayanya kondisi laut.

“Penumpang tidak boleh protes saat diminta mengenakan jaket pelampung, operator kapal tidak boleh mengabaikan peringatan cuaca buruk demi mengejar uang dari penumpang, dan pejabat pemerintah tidak boleh hanya meningkatkan pemeriksaan setelah kecelakaan terjadi,” katanya.

“Transportasi laut semakin berisiko seiring semakin ekstremnya cuaca, dan penting agar kesiapsiagaan bencana di laut ditingkatkan.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan