Skip to main content
Iklan

Indonesia

Rupanya ada, mengapa penumpang KM Mutiara Sentosa 2 tak pakai sekoci saat kebakaran?

Kru mengarahkan penumpang ke haluan dan meminta mereka mengenakan life jacket saat kebakaran menyebar dari bagian bawah kapal.

Rupanya ada, mengapa penumpang KM Mutiara Sentosa 2 tak pakai sekoci saat kebakaran?

Kepulan asap membubung dari KM Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan Pulau Madura, Jawa Timur, Indonesia, 2 Agustus 2026. (Reuters/Stringer)

SURABAYA: Polemik mengenai dugaan tidak adanya sekoci di KMP Mutiara Sentosa II mendapat klarifikasi dari Basarnas. Otoritas memastikan, kapal memenuhi standar keselamatan, sementara penyelidik kini mendalami mengapa alat penyelamat tersebut tidak dapat digunakan saat kebakaran terjadi.

KM Mutiara Sentosa II yang melayani rute Surabaya-Makassar terbakar di perairan utara Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pada Minggu (2/8). Berdasarkan data terbaru Basarnas per Selasa (4/8), sebanyak 238 orang telah berhasil dievakuasi, sementara lima orang dinyatakan meninggal dunia.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan, kapal sebenarnya telah memenuhi standar keselamatan, termasuk memiliki sekoci dan inflatable life raft (ILR). Informasi tersebut diperoleh dari keterangan kru kapal serta data pemeriksaan kelaikan kapal.

"Kenapa dari kapal tidak menurunkan sekoci atau perahu karet? Jadi, setelah kita konfirmasi kepada kru kapal bahwa kapal itu sudah dilengkapi standar keselamatan. Di dalamnya ada sekoci, ada perahu karet," kata Syafii, dikutip CNN Indonesia, saat konferensi pers di Posko Terpadu Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (4/8).

Menurut Syafii, berdasarkan keterangan yang diterima, api pertama kali muncul di bagian tengah bawah kapal sebelum dengan cepat menjalar ke buritan akibat tiupan angin.

Seluruh penumpang kemudian diarahkan menuju haluan kapal dan diminta mengenakan life jacket sebagai langkah penyelamatan.

"Dan pada saat itu kapal terbakar, dari informasi yang didapat, dari tengah bagian bawah, dan arah angin menuju dengan kencangnya menuju ke belakang, sehingga kebakaran itu luar biasa mengarah ke belakang," ujarnya.

"Artinya bahwa sekoci, perahu, tidak bisa diturunkan bukan karena tidak ada, tapi memang kondisi api yang tidak memungkinkan dari kru untuk menurunkan peralatan keselamatan tersebut," lanjutnya.

API MENGHALANGI AKSES KE ALAT KESELAMATAN

Syafii menjelaskan, penanganan kebakaran di kapal berbeda dengan insiden kebocoran kapal.

Pada kebocoran, kru umumnya masih memiliki waktu untuk menurunkan sekoci maupun life raft secara bertahap sambil terus memberikan perkembangan situasi kepada penumpang.

Namun pada kebakaran, prioritas utama kru adalah memadamkan api. Ketika upaya tersebut tidak lagi memungkinkan, kru segera menginstruksikan seluruh penumpang mengenakan jaket pelampung dan menyelamatkan diri.

"Jadi, kondisinya memang beda-beda seperti kalau kapal itu bocor. Kalau kapal itu bocor, kru memiliki kesempatan untuk menurunkan mulai dari perahu karet, sekoci, bahkan bisa menyampaikan informasi dengan detail perkembangan dari jam atau mungkin dari menit ke jam itu dengan komunikasi. Tapi pada saat kebakaran, kondisi yang terjadi, tindakan awal yang dilakukan oleh kru adalah tindakan pemadaman. Pada saat tidak sanggup, saat itulah memberikan tindakan untuk mem-broadcast semuanya lari, semuanya mengambil perlengkapan life jacket itu," jelasnya.

Senada, kepala Cabang PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) Surabaya Ferdinan Pondang memastikan seluruh alat keselamatan, termasuk sekoci dan Inflatable Life Raft (ILR), berada di buritan kapal yang menjadi titik awal kebakaran.

"Ya, yang tadi disampaikan sama teman-teman kru, itu api berasal dari belakang. Sedangkan alat penyelamat itu semua di belakang posisinya. Sekoci, ILR, semuanya di belakang. Jadi nakhoda katanya menyampaikan itu penumpang dialokasikan ke haluan semua untuk lompat pada saat kapal semua mulai terbakar," ungkapnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan