Kisah pilu korban tragedi KRL-Argo Bromo di Bekasi, suami jemput istri di stasiun tapi tak pernah bertemu
Para penumpang selamat mengungkapkan bahwa benturan kedua kereta sangat keras. "Kedengerannya seperti suara bom, saking kencangnya," ujar salah satu penyintas.
Seorang pria terlihat sedang memandangi puing-puing di lokasi kecelakaan setelah tabrakan maut antara kereta KRL dan kereta Argo Bromo di Bekasi, Indonesia, pada 28 April 2026. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
BEKASI: Tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam meninggalkan cerita mencekam dari para penumpang yang selamat, sekaligus kisah pilu dari korban tewas.
Kecelakaan kereta ini terjadi sekitar pukul 20.53 WIB, ketika KRL tujuan Jakarta menabrak taksi Green SM di tengah perlintasan. Kecelakaan itu kemudian menyebabkan terhentinya perjalanan KRL tujuan Cikarang di stasiun Bekasi Timur, sebelum akhirnya ditabrak oleh kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya yang berada di belakangnya.
Salah satu korban tewas dalam kecelakaan itu adalah Ristuti Kustirahayu. Malam itu, Ristuti pulang seperti biasa dari Jakarta menuju Cikarang menggunakan KRL. Suaminya, Suyatno, sudah menunggu di stasiun sekitar pukul 21.00 WIB untuk menjemputnya. Namun, ia tidak kunjung muncul.
"Suaminya sempat tanya ke petugas, lalu dapat informasi ada kecelakaan kereta di Bekasi Timur," ujar tetangga korban, Ponco, dikutip dari Wartakota.
Pria berusia 43 tahun itu kemudian sempat pulang untuk menitipkan anak sebelum kembali ke lokasi kejadian. Bersama Ponco, Suyatno mencari informasi selama berjam-jam hingga akhirnya mendapatkan kabar keberadaan Ristuti.
"Sekitar dua jam mencari, akhirnya dapat kabar korban ada di RS Bella Bekasi," kata pria berusia 28 tahun itu.
Namun, setibanya di rumah sakit, kenyataan pahit harus diterima Suyatno. Ristuti ditemukan sudah meninggal dunia.
"Syok berat, karena meninggalnya akibat kecelakaan. Saya coba tenangkan suaminya dan bantu urus kepulangan jenazah," ujar Ponco.
Menurut keterangan rumah sakit, perempuan berusia 37 tahun itu diduga meninggal di lokasi kejadian.
Kabar duka ini juga dikonfirmasi oleh Ketua RT setempat, Prio Budiarto. "Iya benar warga kami, subuh tadi saya dapat kabarnya," kata pria berusia 59 tahun itu.
Prio menjelaskan bahwa Ristuti sehari-hari bekerja di Jakarta dan rutin menggunakan KRL untuk berangkat dan pulang kerja. Ia juga mengenang sosok Ristuti sebagai pribadi yang ramah.
"Kerja di Jakarta, setiap hari naik KRL. Yang antar jemput juga suaminya. Saya komunikasi sama suaminya juga syok enggak nyangka. Enggak ada firasat apa pun," kata dia.
Sementara itu, di lini masa media sosial, ucapan duka dan doa mengalir dari para warganet untuk korban tewas maupun luka.
Salah satu warganet membagikan cerita dari keluarga korban, menyebut kakaknya menjadi salah satu korban tewas dalam kecelakaan tersebut pada hari pertama kembali bekerja setelah cuti melahirkan selama tiga bulan.
DETIK-DETIK TABRAKAN
Salah seorang penumpang, Munir, menjelaskan bahwa kereta KRL yang ia naiki sempat berhenti sebelum akhirnya dihantam dari belakang.
"Pokoknya ditabrak dari arah belakang, gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai nembus gerbong," kata pria berusia 33 tahun itu di lokasi, menurut laporan Liputan6.com.
Ia menyebut banyak penumpang terjebak dan terluka di dalam gerbong yang ringsek. "Banyak itu korban di dalam terjebak, kalau saya pas kejadian langsung ke luar gerbong," ucapnya.
Munir juga mengungkap bahwa sebelum tabrakan terjadi, perjalanan terganggu karena insiden di lain jalur, termasuk dugaan KRL yang menabrak mobil taksi daring.
Saat kondisi belum sepenuhnya normal, KA Argo Bromo Anggrek datang dari arah belakang dan langsung menghantam rangkaian KRL.
Kesaksian serupa disampaikan Hendri, yang menggambarkan suara benturan sangat keras hingga terdengar seperti ledakan.
"Ya kalau kedengerannya seperti suara bom, saking kencangnya," ujar Hendri, dikutip dari Kompas.
Ia mengatakan, KRL sempat berhenti cukup lama sebelum akhirnya ditabrak dari belakang. Bagian gerbong khusus perempuan menjadi titik benturan paling parah.
"Nah, ini Argo Bromo nabrak gerbong belakang yang ditempatkan perempuan, agak masuk ke dalam," ujarnya.
Situasi berubah kacau dalam hitungan detik. Asap tebal langsung muncul setelah benturan keras, disusul bunyi sirene yang menambah kepanikan.
"Sekitar jam 8. Karena itu berasap, tabrakan kencang. Saya tinggal lari," katanya.
Puluhan ambulans dilaporkan datang ke lokasi untuk mengevakuasi korban di tengah kondisi gerbong yang rusak berat dan saling menghimpit.
Penumpang lain, Maksus, mengaku selamat karena sempat turun dari kereta beberapa saat sebelum kejadian. Ia awalnya keluar untuk melihat kondisi di depan setelah kereta berhenti.
"Baru saya melangkah berapa langkah, kereta jalan sendiri tapi kenceng. Tiba-tiba duss! Lampu KRL mati," ujar pria berusia 39 tahun itu kepada Kompas.
Dari luar, ia menyaksikan langsung bagaimana lokomotif kereta jarak jauh mendorong rangkaian KRL hingga masuk ke dalam gerbong.
"Gerbong yang terkena paling parah itu gerbong 12 atau gerbong khusus perempuan dan gerbong 11," kata Maksus.
Ia juga melihat dampak benturan yang membuat penumpang terpental dan terjepit di dalam gerbong.
"Ada yang nyangkut di atas, ada yang ke bawah juga. Saya sudah eggak tega lihatnya," ujarnya.
Setelah kejadian, Maksus mengaku masih gemetar karena syok.
"Ya Allah, untung aja tadi keluar. Habis itu saya mau ngambil HP aja sampai gemeteran," katanya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.