KIM Plus deklarasi Ridwan Kamil-Suswono maju Pilgub Jakarta, Anies dan PDI-P tak bisa berlaga
Pasangan RK-Suswono berpotensi melawan kotak kosong atau calon independen Dharma Pongrekun - Kun Wardana.
JAKARTA: Koalisi Jakarta Baru untuk Jakarta Maju yang terdiri dari 12 partai politik mendeklarasikan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berpasangan dengan politikus Partai Keadilan Sejahtera yang juga mantan Menteri Pertanian Suswono berlaga di Pilkada DKI Jakarta di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (19 Agustus).
Mengutip CNN Indonesia, piagam dukungan tersebut ditandatangani oleh para petinggi partai pengusung yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus terdiri dari partai Gerindra, Golkar, PKS, PKB, PPP, NasDem, PAN, PSI, Demokrat, Perindo, Gelora dan Garuda.
Deklarasi pasangan Ridwan Kamil dan Suswono tersebut juga dihadiri oleh Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka.
KIM plus menguasai 91 dari 106 kursi di DPRD DKI Jakarta mendatang periode 2024-2029.
Koalisi besar ini berarti PDI Perjuangan dan Anies Baswedan tidak dapat maju di Pilkada yang akan digelar pada 27 November mendatang itu.
PDI-P hanya memiliki 15 kursi di DPRD DKI Jakarta, kurang 7 dari persyaratan 22 kursi sebagai syarat mengusung pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jakarta.
Sementara itu Anies Baswedan yang awalnya telah didukung oleh PKS, PKB, dan NasDem kehilangan tiket untuk maju setelah tiga partai itu berputar haluan bergabung dengan KIM plus.
Pasangan Ridwan Kamil-Suswono berpotensi melawan kotak kosong atau pasangan independen Dharma Pongrekun dan Kun Wardana.
Kang Emil menganggap jika akhirnya benar akan melawan kotak kosong, itu juga adalah bagian dari demokrasi.
"Pada saat melawan ada independen seperti kota Bandung, juga demokrasi. Pada saat akhirnya ada yang namanya kotak kosong, juga itu aturan bagian yang disepakati oleh demokrasi kita," ujar RK dikutip Bisnis.com.
Ketua DPP PDI-P Djarot Saiful Hidayat mengatakan manuver politik ini adalah upaya terakhir untuk membuat partai berlambang banteng itu tak bisa mengajukan calon lainnya di Jakarta.
“Ya, melawan kotak kosong. Mari kita lihat. Atau ini akan berusaha diloloskan calon independen sebagai calon boneka, ya, karena banyak sekali ya, ini masukan suara dari warga yang merasa atau membuktikan KTP-nya dibegal. KTP-nya dicatut,” kritik Djarot.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini