Skip to main content
Iklan

Indonesia

'Aku gemetar mengetik ini': Korban pelecehan dokter cabul di Malang beberkan kronologi kejadian

Korban menyampaikan pesan untuk perempuan lain agar berani bersuara dan melawan ketika mengalami pelecehan serupa.

'Aku gemetar mengetik ini': Korban pelecehan dokter cabul di Malang beberkan kronologi kejadian

Ilustrasi pasien perempuan berkonsultasi kesehatan dengan dokter laki-laki. (Foto: iStock/Chinnapong)

21 Apr 2025 02:16PM (Diperbarui: 21 Apr 2025 02:26PM)

MALANG: Korban kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Ardhitya Yoga Pramantara, dokter umum di rumah sakit swasta Persada Hospital di Kota Malang, Jawa Timur, angkat bicara melalui akun Instagram pribadinya untuk membeberkan kronologi kejadian. 

Perempuan bernama Qorry Aulia Rachmah itu menceritakan secara detail kronologi pelecehan terhadapnya yang terjadi pada akhir September 2022 itu. 

Saat itu, ia tengah dirawat di rumah sakit tersebut karena menderita sinusitis dan vertigo berat. Namun, pengalaman medis itu berubah menjadi mimpi buruk.

"Saat itu aku mengalami sinusitis dan vertigo berat, sampai akhirnya memutuskan pergi ke IGD terdekat," ujar Qorry dalam unggahan Instagram

Di ruang gawat darurat, ia menjalani pemeriksaan medis standar, termasuk rontgen. Menurut pengakuannya, dokter umum yang menanganinya saat itu meminta Qorry mencatat nomor kontak dengan alasan hasil rontgen akan dikirimkan oleh pihak rumah sakit melalui WhatsApp

"'Mbak, catat nomernya, nanti pihak RS kirim hasil rontgen-nya melalui WhatsApp,'" begitu instruksi dari sang dokter, diceritakan kembali oleh Qorry.

Sebagai pasien, Qorry sempat berpikir bahwa hal tersebut adalah prosedur biasa. Ia lalu dipindahkan ke ruang rawat untuk observasi. 

Namun, yang terjadi berikutnya membuatnya merasa tidak nyaman. 

Qorry menyebutkan bahwa yang pertama kali mengirimkan hasil rontgen bukan pihak administrasi rumah sakit, melainkan dokter itu sendiri. 

Qorry pun tidak langsung curiga, karena mengira pesan tersebut hanya sebatas menyampaikan dokumen medis.

Namun ternyata, komunikasi melalui WhatsApp berlanjut. Dokter itu terus mengirimkan pesan, meskipun Qorry tidak membalas, dengan isi yang sudah menjurus ke ranah pribadi. 

Komunikasi yang semula tampak profesional pun mulai berubah menjadi pesan-pesan pribadi yang tidak diinginkan. Ia mengungkapkan bahwa pesan-pesan itu membuatnya semakin tidak nyaman, namun pada saat itu belum memiliki keberanian untuk menegur atau melaporkan.

Akhirnya secara paksa aku tutup bajuku, lalu dia diam," beber korban.

Tiba suatu saat setelah seorang teman bersama ibunya menjenguk Qorry yang dirawat sendiri di kamar VIP Persada Hospital. Setelah teman itu pulang, Qorry bercerita tiba-tiba dokter tersebut datang sendiri ke kamarnya. 

"Katanya mau menjenguk. Tapi dia bawa stetoskop," tulis Qorry, yang awalnya mengira kunjungan itu merupakan bagian dari pemeriksaan lanjutan. 

Namun, ia mulai merasa ada yang tidak beres ketika sang dokter meminta membuka bajunya dengan alasan ingin memeriksa jantung. 

Ia mengenakan baju pasien model kimono dengan tali di depan.

"Dia tarik talinya, terus pakai stetoskop yang benar-benar lama, enggak kayak biasanya dokter periksa. Aku mulai enggak nyaman," lanjutnya.

Puncaknya terjadi ketika sang dokter tiba-tiba mengeluarkan ponsel dan mengarahkannya tepat ke tubuh Qorry yang saat itu dalam kondisi terbuka sebagian.

"Aku bilang, 'Ngapain, Dok?' Dia jawab, 'Sebentar, saya lagi balas WA teman saya.' Tapi aku yakin dia bukan balas WA, tapi buka video," tulis Qorry. 

"Akhirnya secara paksa aku tutup bajuku, lalu dia diam," lanjut Qorry. 

"Emang bodoh aku saat itu enggak berani kasar karena aku takut. Akhirnya aku cuma bilang, 'Permisi, Dok. Saya mau istirahat,'" tuturnya. 

Setelah menerima pelecehan, Qorry mengaku tidak langsung melapor karena merasa takut dan ragu akan ditanggapi. 

Bahkan saat hendak mengadu ke perawat, ia mengurungkan niat karena mendapat respons yang tidak meyakinkan.

"Suster bilang, 'Dokter Y setahu saya sih baik.' Jadi aku batal cerita," ujarnya.

Pengacara korban, Satria Marwan, mengungkapkan kepada Tempo bahwa Qorry mengaku  saat Ardhitya memeriksa bagian dadanya dengan stetoskop, dokter itu diduga sengaja menyentuh payudara korban dengan jarinya. 

Satria melanjutkan, kliennya merasa risih, curiga dan keberatan ketika Ardhitya diduga sengaja memotretnya ketika dalam kondisi setengah telanjang. 

"Klien kami makin curiga karena dokter AYP menutup kain tirai ruangan pasien tanpa didampingi perawat perempuan selama pemeriksaan. Itu kan melanggar SOP (prosedur standar operasi) penanganan pasien," kata Satria.

Unggahan Qorry mendapat perhatian luas dari publik setelah kasus serupa yang melibatkan dokter yang sama mencuat ke media. Sejauh ini, polisi menyatakan ada empat orang yang telah melapor sebagai korban dugaan pelecehan oleh dokter tersebut.

Satria mengungkapkan, tiga korban lainnya adalah dua calon dokter dan seorang mantan pasien. 

"Modusnya hampir sama, korban diminta meninggalkan nomor telepon, lalu dihubungi si oknum dokter hingga di-chat secara intens seperti ngajak nonton bareng, flirting, chat-chat spam,” ujar Satria yang mengaku siap memfasilitasi para korban.

Saat ini, Ardhitya sebagai terduga pelaku dilaporkan telah dinonaktifkan sementara oleh pihak Persada Hospital setelah kasus ini mencuat. Penyelidikan internal juga tengah dilakukan oleh pihak rumah sakit.

Menurut laporan Detik, Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota (Satreskrim Polresta) Malang pada Minggu (20/4) mengaku telah melakukan pengumpulan alat bukti serta pengecekan Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Persada Hospital.

AJAKAN BERANI BERSUARA

Dalam penutup unggahannya, Qorry menyampaikan pesan untuk perempuan lain agar berani bersuara ketika mengalami hal serupa.

"Buat kalian semua, terutama cewek-cewek, aku mohon kalian kalau sudah rasa ada yang enggak beres, LAWAN. Jangan takutan kayak aku. Jujur, ngetik ini saja aku gemeteran," pungkas Qorry. 

Saat ini, netizen mulai ramai membagikan kisah Qorry di berbagai platform media sosial, sembari mendesak pihak berwenang untuk segera menindaklanjuti laporan-laporan pelecehan dan kekerasan seksual yang marak belakangan ini di lingkungan medis, serta memberi perlindungan bagi korban.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan