Keracunan MBG lagi, hampir 700 siswa di Gunungkidul jadi korban
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, geram melihat kondisi dapur yang dinilai jauh dari standar kebersihan.
YOGYAKARTA: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menimbulkan masalah, kini menimpa hampir 700 siswa di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Sebanyak 695 siswa dari SMK Negeri 1 Saptosari dan SMP Negeri 1 Saptosari mengalami gejala diare setelah mengonsumsi makanan dari program MBG pada Rabu (29/10).
Selain siswa, 10 guru juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Bahkan, pada Kamis (30/10), 33 murid SMKN 1 Saptosari dilaporkan izin tidak masuk sekolah karena masih mengalami gangguan pencernaan.
Direktur RSUD Saptosari, Damayanti Mustikarini, dilansir Liputan 6 mengatakan bahwa dari 18 siswa yang dirawat di rumah sakit, satu pasien menjalani rawat inap, tiga dalam tahap observasi, dan 14 lainnya menjalani perawatan rawat jalan.
“Tidak ada gejala berat yang ditemukan. Pasien yang sempat dirawat inap juga sudah menunjukkan perkembangan positif,” ujar Damayanti.
Ia memastikan seluruh pasien dalam kondisi stabil dan telah mendapat perawatan medis sesuai prosedur.
DAPUR MBG PLANJAN DISETOP, BUPATI GUNUNGKIDUL MARAH
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, meninjau langsung Dapur Sehat Program MBG di Planjan, Saptosari, usai laporan keracunan massal tersebut. Ia mengaku geram melihat kondisi dapur yang dinilai jauh dari standar kebersihan.
Dalam inspeksi mendadak (sidak), Endah diwartakan Kompas TV menemukan pelanggaran kebersihan fatal, termasuk proses pencucian alat makan yang tidak sesuai standar.
Menanggapi hal itu, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) Planjan untuk investigasi lebih lanjut.
Koordinator Regional MBG DIY, Gagat Widyatmoko, menjelaskan bahwa penghentian sementara dilakukan sebagai langkah kehati-hatian dan tanggung jawab dalam memastikan keamanan pangan bagi peserta didik.
“BGN sudah berkoordinasi dengan Puskesmas Saptosari, RSUD Saptosari, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul untuk menelusuri penyebab kejadian,” kata Gagat.
Tim monitoring dari BGN juga diterjunkan ke lapangan untuk mendampingi investigasi dan memastikan semua prosedur penanganan berjalan sesuai standar.
Tim dari Dinas Kesehatan Gunungkidul dan BGN masih melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kemungkinan sumber penyebab keracunan, termasuk aspek kebersihan dapur, kualitas air, dan penyimpanan bahan pangan di dapur SPPG Planjan.
Selama proses investigasi berlangsung, dapur tersebut dilarang beroperasi dan baru akan dibuka kembali setelah hasil evaluasi menyatakan kondisi aman dan sesuai standar yang ditetapkan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.