Kronologi kematian Timothy Anugerah dan dugaan bullying di Universitas Udayana
Percakapan nirempati di media sosial tentang kematian Timothy mendorong adanya dugaan perundungan. Investigasi tengah dilakukan untuk memastikan penyebab kematiannya.
Mahasiswa dan alumni FISIP Universitas Udayana menggelar Renungan Malam untuk mengenang kepergian almarhum Timothy Anugerah Saputra di depan Gedung FISIP Kampus Sudirman, Denpasar pada Jumat (17/10/2025). (Foto: Instagram/ @univ.udayana)
BALI: Seorang mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Udayana (Unud), Timothy Anugerah Saputra, meninggal dunia pada Rabu (15/10), setelah terjun dari gedung FISIP di Denpasar, Bali. Insiden ini memantik gelombang reaksi publik usai beredar tangkapan layar percakapan di media sosial yang menyinggung kematiannya dengan nada mengejek, memantik dugaan adanya perundungan di balik dinding kampus.
Polisi menyampaikan bahwa korban meninggal akibat cedera parah akibat terjatuh dari lantai 4 gedung FISIP Unud. Kapolsek Denpasar Barat Kompol Laksmi Trisnadewi menegaskan motif di balik dugaan bunuh diri masih diselidiki.
Di sisi lain, pada awal informasi internal kampus sempat disebutkan jatuh dari lantai dua. Belakangan, kronologi yang dikutip dari keterangan saksi oleh Kepolisian menyebut korban terlihat di lantai empat sebelum peristiwa itu terjadi.
"Pada Rabu, 15 Oktober 2025, pukul 08.30 Wita pada saat saksi kuliah dan sedang menunggu dosen, saksi bersama temannya inisial D duduk di teras depan kelas, lantai empat kampus diskusi tentang mata kuliah," ujar Kasi Humas Polresta Denpasar, Kompol Sukadi, dikutip dari Detik.
Lalu, "Kurang lebih 15 menit kemudian datang korban dari arah pintu lift, dengan posisi menggendong tas ransel dan memakai baju putih. Terlihat seperti orang panik dan seperti melihat-lihat situasi sekitar kampus."
Saksi, kata Sukadi, menyebut korban sempat duduk di kursi panjang yang berada di sisi barat kelas. Namun, karena saksi tidak mengenali korban, ia tidak memerhatikan lebih lanjut.
Beberapa saat kemudian, korban diduga melompat dari lantai empat. Sontak, mahasiswa lain bersama petugas keamanan kampus bergegas mengevakuasi dan membawa korban ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah, Denpasar.
Saat tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Prof Ngoerah, korban dalam kondisi masih sadar. Namun, lantaran mengalami pendarahan dan kesadarannya terus menurun, mahasiswa semester VII program studi Sosiologi itu dinyatakan meninggal dunia.
DUGAAN PERUNDUNGAN
Setelah kabar duka merebak, tangkapan layar percakapan yang diduga berasal dari grup teman kampus Timothy tersebar luas dan dinilai tidak berempati.
Beberapa potongan kalimat yang bikin publik geram antara lain: "Nanggung banget kok bunuh diri dari lantai 2 yak" yang dijawab singkat "Asli".
Ada pula bahasan biaya pemulangan jenazah: "Cargo sekarang mahal, baru dia main gila," dan "Baru peti harga udah jutaan apalagi cargo pesawat sekitar 30 juta lenyap," mengingatkan bahwa Timothy berasal dari Bandung, Jawa Barat, dan jenazahnya harus dipulangkan dengan kargo.
Pihak kampus mengakui percakapan itu dilakukan oleh mahasiswa Unud. Mereka menegaskan momen percakapan terjadi setelah korban meninggal.
"Dapat dipastikan bahwa isi percakapan tersebut terjadi setelah almarhum meninggal dunia, bukan sebelum peristiwa yang menimpa almarhum," bunyi pernyataan kampus Unud pada Jumat (17/10), dikutip dari Tempo.
Pihak kampus juga menyebut bahwa obrolan nirempati tersebut tidak berkaitan langsung sebagai pemicu peristiwa. "Ucapan nirempati yang beredar di media sosial tidak berkaitan atau menjadi penyebab almarhum menjatuhkan diri dari lantai atas gedung FISIP."
Pernyataan kampus juga menekankan sikap tegas terhadap perilaku semacam itu: "Universitas Udayana mengecam keras segala bentuk ucapan, komentar, atau tindakan nirempati, perundungan, kekerasan verbal, maupun tindakan tidak empati, baik di dunia nyata maupun di ruang digital."
DIBERHENTIKAN
Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (Himapol) FISIP Unud Kabinet Cakra meminta maaf dan menjanjikan hukuman keras kepada oknum yang bercanda soal tragedi ini.
"Kami mengutuk keras tindakan amoral yang dilakukan oknum anggota kami dan akan memberikan sanksi yang seberat-beratnya secara administratif maupun sosial," bunyi pernyataan Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra, dikutip dari Kompas.
"Dengan ini, Himapol menyatakan akan menindak tegas serta memberikan sanksi yang seberat-beratnya dengan pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH)."
Gelombang PTDH juga diumumkan oleh DPM FISIP Unud serta BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Unud terhadap sejumlah pengurus yang terlibat dalam percakapan nirempati.
Di waktu yang sama, pihak universitas menugaskan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan untuk memproses lebih jauh keterlibatan para mahasiswa di percakapan tersebut.
KELUARGA MINTA USUT TUNTAS
Ayah Timothy, Lukas Diana Putra, melaporkan kasus ini ke Polresta Denpasar untuk mengurai simpang siur informasi.
Lukas menegaskan keluarga butuh kejelasan: "Saya ingin tahu dan pastikan kenapa misalnya anak saya jatuh? Apakah dia bunuh diri? Apakah ada kecelakaan atau unsur lain?"
Ia juga meminta kronologi dipastikan secara detail, termasuk soal ketinggian. "Saya cuma laporkan kematian anak saya agar diusut kejadian dan kronologinya biar jelas penyebab kematiannya dari lantai dua atau lantai tiga," ujarnya, dikutip dari CNN Indonesia.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyebut rektorat Unud telah membentuk tim investigasi khusus.
Namun, ia mengingatkan pentingnya empati di lingkungan pendidikan. "Banyak kasus yang sifatnya tertutup, padahal itu yang perlu dicermati bersama. Kami ingin kampus membangun atmosfer yang saling peduli dan mendukung."
Secara terpisah, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Dr IGNG Ngoerah (dikenal publik sebagai RSUP Sanglah) juga menempuh tindakan tegas terhadap sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Unud yang sedang menjalani koas atau ko-asisten, yang diduga terlibat percakapan nirempati di media sosial terkait kematian Timothy Anugrah.
"Kami mengambil tindakan tegas untuk mengembalikan peserta didik ke Universitas Udayana untuk dilakukan pendalaman dan investigasi," sekaligus meluruskan bahwa koas bukan karyawan tetap rumah sakit.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.