Skip to main content
Iklan

Indonesia

Kecelakaan ATR 42-500 Indonesia Air Transport: Pesawat hancur berkeping-keping, satu korban ditemukan

Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan dugaan kuat burung besi nahas itu menabrak Gunung Bulusaraung.

Kecelakaan ATR 42-500 Indonesia Air Transport: Pesawat hancur berkeping-keping, satu korban ditemukan

Pesawat nahas ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport terlihat pada September 2025. (Wikipedia)

19 Jan 2026 11:08AM (Diperbarui: 20 Jan 2026 08:01AM)

JAKARTA: Pesawat ATR 42-500 milik maskapai Indonesia Air Transport yang hilang kontak berhasil ditemukan oleh Tim SAR di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1).

Pesawat tersebut ditemukan dalam kondisi hancur berkeping-keping di lereng gunung dengan medan terjal.

Indonesia Air Transport merupakan perusahaan jasa penerbangan sewa atau charter yang telah beroperasi di Indonesia selama lebih dari lima dekade. 

Mengacu pada situs resmi perusahaan, Indonesia Air Transport berdiri sejak 1968 dan dikenal sebagai salah satu pemain senior dalam layanan penerbangan charter di Tanah Air. Perusahaan ini melayani penerbangan pesawat sayap tetap dan helikopter untuk kebutuhan industri minyak dan gas, pertambangan, korporasi, hingga penerbangan VIP.

Pesawat yang mengalami kecelakaan adalah ATR 42-500, bagian dari keluarga pesawat turboprop regional ATR 42 series yang umum digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah. 

Pesawat jenis ini dikenal efisien bahan bakar dan mampu beroperasi di bandara dengan landasan terbatas, sehingga kerap dipakai untuk penerbangan charter maupun rute perintis di Indonesia. Pesawat tersebut diketahui merupakan buatan tahun 2000 atau berusia 26 tahun.

Burung besi nahas itu itu dilaporkan hilang kontak saat melintas di wilayah Pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1) siang.

Penerbangan tersebut berangkat dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

PENEMUAN PUING DAN PROSES EVAKUASI

Pesawat membawa 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang. Tiga penumpang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yakni Ferry Irawan selaku analis kapal pengawas, Deden Mulyana sebagai pengelola barang milik negara, serta Yoga Naufal yang bertugas sebagai operator foto udara. 

Sementara pilot pesawat tercatat bernama Captain Andi Dahananto.

Sejumlah serpihan pesawat ditemukan pada Minggu (18/1) pagi di lereng Gunung Bulusaraung. Bagian yang lebih dulu ditemukan meliputi pintu, badan, ekor pesawat, serta serpihan kecil lainnya. 

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa badan dan ekor pesawat ditemukan pada pukul 07.49 Wita oleh tim darat, sebelum personal reccie atau Tim AJU dikerahkan untuk proses evakuasi.

Evakuasi dilakukan secara hati-hati mengingat lokasi penemuan berada di lereng gunung yang curam dan kondisi cuaca yang berubah-ubah. 

Beberapa jam kemudian, tepat pukul 14.20 Wita, Tim SAR gabungan menemukan satu korban berjenis kelamin laki-laki di dalam jurang sedalam sekitar 200 meter, tidak jauh dari lokasi serpihan pesawat.

“Di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter dan berada di sekitar serpihan pesawat.” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator, Muhammad Arif Anwar.

Jenazah tersebut pertama kali ditemukan oleh warga Desa Tompobulu bernama Arman, 38, yang ikut membantu pencarian bersama dua rekannya. 

“Posisinya tengkurap, laki-laki, masih utuh tapi pakaiannya sudah tidak ada. Dalam jurangnya sekitar 200 meter,” kata Arman sambil menunjukkan dokumentasi foto korban. Ia juga mengaku menemukan sejumlah barang pribadi di sekitar lokasi, seperti identitas diri, paspor, kartu ATM, serta telepon genggam dalam kondisi rusak.

Medan ekstrem memaksa sekitar 10 personel SAR gabungan membangun camp dan bermalam di sekitar lokasi penemuan jenazah untuk menjaga proses evakuasi yang direncanakan dilakukan melalui jalur udara. 

Tim SAR juga telah menemukan alat pemancar sinyal darurat pesawat atau Emergency Locator Transmitter (ELT), yang sempat disangka sebagai kotak hitam.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan dugaan awal penyebab kecelakaan. 

“Ada namanya ELT, Emergency Locator Transmitter, tapi dengan kejadian kalau dia nabrak gunung, kalau benar dia nabrak gunung, itu biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga, “ Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan.

Ia menambahkan bahwa insiden tersebut dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). 

“Kita namakan CFIT. Jadi, memang pesawat menabrak bukit atau lereng gunung, sehingga terjadi beberapa pecahan atau serpihan pesawat akibat terjadinya benturan,” paparnya kepada Antara.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan proses pencarian dan penanganan kecelakaan dilakukan secara intensif. 

Pemerintah memastikan pendampingan serta layanan informasi bagi keluarga korban, sembari mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan hanya mengikuti informasi resmi. Crisis Center telah dibuka di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menilai kondisi cuaca saat kejadian tidak menunjukkan gangguan ekstrem.

“Kalau cuacanya ekstrem, pasti akan ada pesawat lain yang mengalami gangguan saat pendaratan. Apakah ada? Tidak,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa dalam kecelakaan pesawat, umumnya terdapat lebih dari satu faktor yang saling berkaitan, termasuk aspek komunikasi dan sistem penerbangan.

 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan