Skip to main content
Iklan

Indonesia

DPR desak pemerintah berikan 'trauma healing' bagi korban kecelakaan kereta di Bekasi

Psikolog menilai tragedi kecelakaan KRL dan Kereta Argo Bromo di Bekasi Timur berpotensi memicu stres hingga trauma jangka panjang pada korban.

DPR desak pemerintah berikan 'trauma healing' bagi korban kecelakaan kereta di Bekasi

Teknisi bekerja mengevakuasi gerbong kereta, setelah tabrakan maut antara kereta komuter dan kereta jarak jauh di Bekasi, pada 28 April 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

JAKARTA: Dewan Perwakilan Rakyat mendesak pemerintah segera memberikan layanan pemulihan trauma bagi korban kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menegaskan, pemulihan mental korban harus menjadi bagian utama dari penanganan pascakecelakaan.

“Layanan penyembuhan trauma dan dukungan psikososial harus segera diberikan. Pemulihan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemulihan korban secara keseluruhan,” kata Netty.

Ia juga meminta seluruh hak korban dan keluarga dipenuhi tanpa hambatan, termasuk layanan kesehatan dan jaminan sosial.

 

“Korban luka harus memperoleh layanan kesehatan terbaik hingga pulih. Sementara keluarga korban meninggal berhak mendapatkan santunan dan seluruh bentuk perlindungan sosial secara cepat, transparan, dan tepat sasaran,” ujarnya.

Selain itu, DPR mendorong investigasi menyeluruh atas insiden tersebut agar menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan transportasi.

“Investigasi harus dilakukan secara objektif, transparan, dan tuntas, untuk mengungkap penyebab kecelakaan. Hasil investigasi ini harus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan transportasi nasional agar tragedi serupa tidak terulang,” kata Netty.

 

Teknisi bekerja di lokasi tabrakan maut antara kereta komuter dan kereta jarak jauh di Bekasi. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Kecelakaan yang terjadi pada Senin malam (27/4) itu melibatkan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kereta dan memicu kepanikan penumpang, sementara proses evakuasi berlangsung hingga esok harinya.

Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (Persero), insiden tersebut menyebabkan total 107 korban, dengan rincian 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka.

Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menyatakan siap memberikan layanan pemulihan trauma bagi korban dan keluarga terdampak.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menyampaikan duka cita atas tragedi tersebut dan menegaskan bahwa penanganan korban menjadi prioritas utama.

“Kami ikut berduka, kami ikut prihatin… Yang jelas hari ini dari pihak terkait adalah penanganan korban,” kata Wihaji.

Ia memastikan layanan trauma healing akan diberikan sesuai kebutuhan setelah penanganan darurat selesai.

“Tentu kita akan tindak lanjuti kalau ada yang butuh konsultasi yang berkenaan dengan keluarga, trauma healing, kewenangan kita di situ… kalau memang nanti butuh trauma healing pasti kita turunkan, itu bagian dari kewajiban kami,” ujarnya.

 

Kesaksian korban menggambarkan betapa mengerikannya peristiwa tersebut. Endang Kuswati, 41, salah satu penumpang, sempat terjebak di dalam gerbong selama berjam-jam sebelum berhasil dievakuasi.

Menurut sepupunya, Iqbal, Endang sempat menghubungi keluarga pada malam kejadian. “Dia nelepon bahwa dia itu jadi salah satu korban yang ada di kereta tersebut,” kata Iqbal.

Proses evakuasi berlangsung lama karena posisi korban berada di bagian belakang rangkaian. “Saudara saya jadi salah satu dari tiga orang yang terakhir ditarik dari kereta tersebut,” ujarnya.

Endang baru berhasil dikeluarkan dari gerbong pada pagi hari dan langsung dilarikan ke RSUD Bekasi untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

 

Upaya evakuasi korban tabrakan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa dini hari, 28 April 2026. (Foto: Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana)

Selain dampak fisik, para korban juga berisiko mengalami gangguan psikologis akibat kejadian tersebut.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, menjelaskan, kecelakaan merupakan situasi krisis yang dapat memicu respons emosional dan stres.

“Respons tersebut juga dapat muncul dalam bentuk fisik, seperti gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, hingga sesak napas sebagai bagian dari respons stres,” ujarnya.

Ia menambahkan, reaksi awal korban biasanya berupa keterkejutan, kebingungan, hingga disorientasi, yang kemudian dapat berkembang menjadi kecemasan, kesedihan, kemarahan, atau kepanikan.

Meski demikian, setiap individu memiliki kemampuan untuk pulih dari situasi krisis, tergantung pada kondisi psikologis dan cara memaknai peristiwa tersebut.

Namun, jika pengalaman tersebut dirasakan melampaui batas ketahanan individu, risiko trauma jangka panjang seperti post-traumatic stress disorder (PTSD) dapat meningkat.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan