Skip to main content
Iklan

Indonesia

Kecelakaan kereta Bekasi: Manajemen Taksi Green SM hingga Ditjen KA akan diperiksa polisi

Polisi telah memeriksa 31 saksi dan kini mendalami kemungkinan kelalaian manusia maupun gangguan sistem.

Kecelakaan kereta Bekasi: Manajemen Taksi Green SM hingga Ditjen KA akan diperiksa polisi

Taksi listrik Green SM yang diduga menjadi pemicu kecelakaan kereta api fatal di Bekasi, pada Senin, 27 April 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

04 May 2026 04:36PM (Diperbarui: 04 May 2026 04:46PM)

JAKARTA: Polda Metro Jaya menjadwalkan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak terkait kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, termasuk manajemen Taksi Green SM, Dinas Pekerjaan Umum Kota Bekasi, Dinas Tata Ruang Kota Bekasi, hingga Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Pemeriksaan dilakukan untuk mendalami penyebab insiden yang menewaskan 16 orang dan melukai 90 penumpang itu.

Pemeriksaan tersebut dijadwalkan berlangsung hari ini, Senin (4/5), namun ditunda menjadi Selasa (5/5)

"Ditunda sampai hari Selasa, 5 Mei 2026," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, seperti dikutip Detik.

Budi menjelaskan, sejauh ini polisi sudah memeriksa 31 orang sebagai saksi terkait tragedi itu.

Di antara yang hadir dalam pemeriksaan hari ini adalah perwakilan Dinas Bina Marga Kota Bekasi, Dinas Pekerjaan Umum Kota Bekasi, Dinas Tata Ruang Kota Bekasi, serta Direktorat Jenderal Perhubungan Darat telah memenuhi panggilan pemeriksaan di Polda Metro Jaya pada hari ini. Sementara itu, pengemudi taksi Green SM menjalani pemeriksaan di Polres Metro Bekasi Kota.

"Yang bersangkutan sudah datang dan saat ini sedang diperiksa di Polres Metro Bekasi Kota, termasuk sopir taksi dan saksi penjaga palang pintu," ujarnya.

Kasus tersebut kini telah naik ke tahap penyidikan dan ditangani Subdirektorat Keamanan Negara Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Perlintasan sebidang tempat kereta menabrak taksi listrik di dekat Jakarta pada Senin, 27 Apr 2026. (Foto: CNA/Wisnu Agung Prasetyo)

POLISI DALAMI DUGAAN HUMAN ERROR HINGGA KENDALA SISTEM

Kecelakaan bermula ketika sebuah taksi listrik Green SM mengalami gangguan korsleting dan berhenti di pelintasan sebidang JPL 85 Jalan Ampera, Bekasi Timur.

Taksi itu kemudian tertemper KRL yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta dengan nomor KA PLB 5181. Setelah menabrak taksi, KRL tersebut terhenti di tengah rel.

Di sisi lain, KRL relasi Kampung Bandan-Cikarang dengan nomor PLB 5568A tertahan di Stasiun Bekasi Timur akibat insiden antara taksi dan KRL PLB 5181.

KRL yang berhenti itu kemudian ditabrak KA Argo Bromo Anggrek nomor KA PLB 4B relasi Jakarta Gambir-Surabaya Pasarturi yang melaju dari arah Jakarta.

Budi menerangkan, penyidik telah melakukan sejumlah langkah pendalaman, mulai dari pengecekan tempat kejadian perkara (TKP), pengumpulan barang bukti, penelusuran rekaman kamera pengawas atau CCTV, koordinasi dengan rumah sakit terkait korban, permintaan visum, hingga pemeriksaan saksi dan pihak terkait.

Polisi masih mendalami penyebab kecelakaan tersebut, termasuk kemungkinan adanya kelalaian manusia ataupun gangguan sistem komunikasi dalam operasional perkeretaapian.

”Kami akan dalami apakah ini terkait human error atau ada kendala sistem. Semua akan ditelusuri melalui pemeriksaan saksi, barang bukti, dan hasil olah TKP,” ujar Budi.

BAHAYA DI PERLINTASAN SEBIDANG

Perlintasan sebidang telah banyak memakan korban jiwa di Indonesia. Sebelumnya pada Jumat dini hari lalu (1/5), KA Argo Bromo Anggrek kembali terlibat kecelakaan setelah menabrak mobil minibus berpenumpang sembilan orang yang menyeberang perlintasan sebidang di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Insiden itu menewaskan lima orang, empat lainnya dilarikan ke rumah sakit.

Di hari yang sama, kecelakaan kereta terjadi di jalur Brebes, Jawa Tengah, menewaskan satu remaja dan melukai dua lainnya. Ketika itu, para remaja tersebut sedang berada di rel kereta dan tidak sempat menghindar.

Sementara pada Sabtu lalu (2/5) dalam sehari tiga orang tewas tertemper kereta api di kota Cimahi dan Bandung Barat, Jawa barat, ketika hendak menyeberang.

Bahaya di perlintasan sebidang telah menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Usai mengunjungi para korban kecelakaan kereta di Bekasi pada Selasa pekan lalu, Prabowo berjanji akan membenahi 1.800 perlintasan sebidang di pulau Jawa, baik dengan membangun flyover maupun mendirikan pos jaga.

"Perlintasan seperti ini sudah dari zaman Belanda, sudah puluhan tahun. Kita akan selesaikan semua. Kita perhitungkan (butuh biaya) sekitar Rp4 triliun, demi keselamatan," kata Prabowo.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew (da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan